WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Kasus kekerasan yang terjadi di salah satu daycare di Yogyakarta menyisakan dampak serius bagi anak, tidak hanya secara fisik tetapi juga psikologis. Dosen sekaligus Ketua Program Studi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien, menekankan pentingnya deteksi dini sebagai langkah awal dalam proses pemulihan trauma anak.
Menurutnya, orang tua perlu memiliki kepekaan terhadap perubahan perilaku anak sebagai indikator awal adanya gangguan psikologis. Salah satu tanda yang umum muncul adalah regresi, yakni kemunduran kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai anak.
“Contohnya, anak yang sebelumnya mandiri tiba-tiba kembali mengalami kesulitan, seperti mengompol atau mengalami hambatan dalam berkomunikasi,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Selain regresi, gangguan tidur juga menjadi indikator yang perlu diwaspadai, seperti mimpi buruk, teriakan saat tidur, atau kesulitan beristirahat. Anak juga dapat menunjukkan perubahan perilaku lain, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, menjadi lebih agresif, hingga mengekspresikan kekerasan melalui permainan.
Ia menambahkan, reaksi ketakutan berlebihan—terutama saat berpisah dari orang tua atau pengasuh—juga dapat menjadi sinyal adanya trauma. Jika gejala-gejala tersebut mulai terlihat, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga profesional.
“Kalau tanda-tanda ini muncul, sebaiknya segera dibawa ke profesional,” kata Andhita.
Namun demikian, jika gejala belum tampak signifikan, orang tua tetap dapat mengambil peran aktif dalam mendampingi proses pemulihan anak. Salah satu pendekatan yang dianjurkan adalah penggunaan media ekspresi non-verbal, seperti menggambar, bermain peran, atau bercerita melalui permainan.
Pendekatan ini dinilai efektif karena anak sering kali belum mampu mengungkapkan emosi secara verbal. Melalui ekspresi tersebut, orang tua dapat memahami kondisi emosional anak, termasuk melalui simbol-simbol yang muncul dalam gambar atau permainan.
“Anak-anak belum tentu bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, jadi kita bantu lewat cara lain. Dari gambar, misalnya, kita bisa melihat indikasi emosi, seperti penggunaan warna gelap atau merah yang dominan,” jelasnya.
Selain itu, validasi emosi menjadi aspek penting dalam pendampingan. Orang tua diimbau untuk tidak meremehkan perasaan anak, melainkan mengakui dan meresponsnya secara empatik.
Pendekatan sederhana seperti memberikan afirmasi bahwa anak merasa takut atau tidak nyaman, serta memastikan kehadiran orang tua sebagai figur yang aman, dapat membantu memulihkan kondisi psikologis anak.
Dari sisi relasi emosional, sentuhan fisik seperti pelukan dan kehadiran yang hangat juga berperan dalam membangun kembali rasa aman. Dalam perspektif teori kelekatan (attachment), kedekatan dengan figur yang memberikan rasa aman menjadi kunci dalam regulasi emosi anak.
Lebih lanjut, anak juga perlu dibantu untuk membangun kembali rasa kontrol terhadap dirinya. Pengalaman kekerasan seringkali membuat anak merasa tidak berdaya. Oleh karena itu, pemberian pilihan sederhana dalam aktivitas sehari-hari dapat menjadi langkah awal untuk mengembalikan kepercayaan diri anak.
Andhita menjelaskan bahwa dampak trauma dapat muncul dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam waktu dekat, perubahan perilaku dan emosi menjadi gejala yang paling terlihat. Namun, dalam jangka panjang, trauma dapat berkembang menjadi gangguan psikologis jika tidak ditangani secara tepat.
“Pemulihan bukan soal melupakan kejadian, tetapi bagaimana membangun kembali rasa aman. Anak perlu memahami bahwa pengalaman tersebut tidak benar, dan lingkungan yang aman adalah kondisi yang seharusnya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan. Oleh karena itu, dukungan terhadap orang tua menjadi faktor yang tidak kalah penting.
Sebagai bentuk kontribusi, Unisa Yogyakarta menyediakan layanan pendampingan tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Hal ini penting karena orang tua kerap mengalami tekanan psikologis, seperti rasa bersalah dan stres, pascakejadian.
“Orang tua juga membutuhkan ruang aman. Ketika kondisi mental mereka tidak stabil, proses pendampingan terhadap anak akan menjadi lebih sulit,” tegasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk membangun empati dan saling mendukung, khususnya antarorang tua, agar proses pemulihan anak dapat berjalan optimal. Lingkungan yang suportif dinilai menjadi faktor penting dalam membantu anak kembali percaya diri dan merasa aman.
The post Kasus Daycare: Pemulihan Anak Korban Kekerasan Perlu Deteksi Dini dan Peran Aktif Orang Tua appeared first on Warta PTM.



