• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Minggu, Oktober 11, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu

    Tim P2M UMS dan ‘Aisyiyah Jombor Inisiasi Tim P3AK Sukoharjo untuk Cegah Kekerasan Rumah Tangga

    Sulap Kotoran Sapi Jadi Kompos Blok dan Briket, Mahasiswa IMM UNIMUS Beri Solusi Limbah di Getasan

    LHKP PWM Jateng Dorong Pengelolaan MBG Berkemajuan dan Berkeadilan lewat Pelatihan Ideologi Kepemimpinan

    PDM Temanggung Perkuat Sinergi Cabang dan Dorong Pengembangan Klinik Muhammadiyah di Kedu

    Upgrading Amil Lazismu Kendal, Ikhwanushoffa Tegaskan Pentingnya Kedisiplinan dan Etika Kerja

    Kajian PSIB UMM Gagas Jalan Tengah Jurnalisme Islam Berkemajuan

    Trending Tags

    • Kabar PTMA

      Tim P2M UMS dan ‘Aisyiyah Jombor Inisiasi Tim P3AK Sukoharjo untuk Cegah Kekerasan Rumah Tangga

      Sulap Kotoran Sapi Jadi Kompos Blok dan Briket, Mahasiswa IMM UNIMUS Beri Solusi Limbah di Getasan

      LHKP PWM Jateng Dorong Pengelolaan MBG Berkemajuan dan Berkeadilan lewat Pelatihan Ideologi Kepemimpinan

      PDM Temanggung Perkuat Sinergi Cabang dan Dorong Pengembangan Klinik Muhammadiyah di Kedu

      Upgrading Amil Lazismu Kendal, Ikhwanushoffa Tegaskan Pentingnya Kedisiplinan dan Etika Kerja

      Kajian PSIB UMM Gagas Jalan Tengah Jurnalisme Islam Berkemajuan

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Lafal Salam Mengakhiri Shalat dan Salam Penutup Khutbah

        Adakah Azan Iqamah untuk Shalat Sendirian?

        Roh Anak Dikorbankan untuk Pesugihan

        SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

        5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

        Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu

          Tim P2M UMS dan ‘Aisyiyah Jombor Inisiasi Tim P3AK Sukoharjo untuk Cegah Kekerasan Rumah Tangga

          Sulap Kotoran Sapi Jadi Kompos Blok dan Briket, Mahasiswa IMM UNIMUS Beri Solusi Limbah di Getasan

          LHKP PWM Jateng Dorong Pengelolaan MBG Berkemajuan dan Berkeadilan lewat Pelatihan Ideologi Kepemimpinan

          PDM Temanggung Perkuat Sinergi Cabang dan Dorong Pengembangan Klinik Muhammadiyah di Kedu

          Upgrading Amil Lazismu Kendal, Ikhwanushoffa Tegaskan Pentingnya Kedisiplinan dan Etika Kerja

          Kajian PSIB UMM Gagas Jalan Tengah Jurnalisme Islam Berkemajuan

          Trending Tags

          • Kabar PTMA

            Tim P2M UMS dan ‘Aisyiyah Jombor Inisiasi Tim P3AK Sukoharjo untuk Cegah Kekerasan Rumah Tangga

            Sulap Kotoran Sapi Jadi Kompos Blok dan Briket, Mahasiswa IMM UNIMUS Beri Solusi Limbah di Getasan

            LHKP PWM Jateng Dorong Pengelolaan MBG Berkemajuan dan Berkeadilan lewat Pelatihan Ideologi Kepemimpinan

            PDM Temanggung Perkuat Sinergi Cabang dan Dorong Pengembangan Klinik Muhammadiyah di Kedu

            Upgrading Amil Lazismu Kendal, Ikhwanushoffa Tegaskan Pentingnya Kedisiplinan dan Etika Kerja

            Kajian PSIB UMM Gagas Jalan Tengah Jurnalisme Islam Berkemajuan

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Lafal Salam Mengakhiri Shalat dan Salam Penutup Khutbah

              Adakah Azan Iqamah untuk Shalat Sendirian?

              Roh Anak Dikorbankan untuk Pesugihan

              SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

              5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

              Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Algoritma, Ideologi, dan Masa Depan Kader Muhammadiyah

              admin by admin
              23/06/2026
              in BeritaMu
              0
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              Algoritma, Ideologi, dan Masa Depan Kader Muhammadiyah

              ( Tulisan ke-61 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)

              WartaTerkait

              Tim P2M UMS dan ‘Aisyiyah Jombor Inisiasi Tim P3AK Sukoharjo untuk Cegah Kekerasan Rumah Tangga

              Sulap Kotoran Sapi Jadi Kompos Blok dan Briket, Mahasiswa IMM UNIMUS Beri Solusi Limbah di Getasan

              LHKP PWM Jateng Dorong Pengelolaan MBG Berkemajuan dan Berkeadilan lewat Pelatihan Ideologi Kepemimpinan

              PDM Temanggung Perkuat Sinergi Cabang dan Dorong Pengembangan Klinik Muhammadiyah di Kedu

              Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Universitas Negeri Medan

               

              Di tengah derasnya arus media digital, kader tidak lagi hanya berhadapan dengan buku, guru, dan forum pengajian, tetapi juga dengan algoritma yang diam-diam membentuk cara pandang. Karena itu, kaderisasi Muhammadiyah hari ini dituntut bukan sekadar adaptif terhadap teknologi, melainkan juga teguh secara ideologis agar tetap menjadi pelanjut risalah, bukan sekadar pengikut arus.

               

              Di sebuah ruang kaderisasi, pertanyaan sederhana kadang justru membuka kegelisahan yang mendasar. Seorang peserta muda bertanya, “Hari ini, sebenarnya kita lebih banyak belajar dari buku atau dari beranda media sosial?” Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun, apabila direnungkan lebih jauh, ia memantulkan persoalan besar yang sedang kita hadapi bersama: siapakah yang sesungguhnya membentuk watak, orientasi, dan kesadaran kader hari ini? Apakah ideologi gerakan, atau justru algoritma?

              Pertanyaan ini penting, sebab zaman telah berubah dengan sangat cepat. Dahulu, kader Muhammadiyah tumbuh dari suasana pengajian, pembacaan yang tekun, perdebatan yang jernih, serta kedekatan dengan guru dan teladan. Kader dibentuk melalui perjumpaan yang hidup dengan gagasan, nilai, dan amal. Ia ditempa oleh disiplin berpikir dan keluasan pandangan. Agar bisa memiliki Kartu Anggota Muhammadiyah, seorang kader harus ikut aktif mengaji diranting minimal dua tahun. Hari ini, lanskap itu tidak lagi sama. Kader bukan hanya membaca dunia, tetapi juga dibaca oleh sistem digital. Pilihan tontonan, kecenderungan klik, durasi menonton, dan kebiasaan menyukai konten perlahan-lahan membentuk horizon berpikirnya. Tanpa disadari, kesadaran kader ikut dipetakan, diarahkan, bahkan diolah.

              Di sinilah persoalannya menjadi serius. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang lahir dari kesadaran ideologis. Ia tidak tumbuh dari keramaian sesaat, melainkan dari kejernihan tauhid, kecintaan pada ilmu, dan keberanian untuk beramal. Karena itu, bila kader hari ini lebih banyak dibentuk oleh algoritma daripada ideologi, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya selera generasi muda, melainkan masa depan gerakan itu sendiri.

              Muhammadiyah sejak awal berdirinya bukan sekadar organisasi sosial-keagamaan. Ia adalah gerakan dakwah dan tajdid. Ia lahir dari kegelisahan terhadap kemunduran umat, dari semangat untuk memurnikan akidah, mencerdaskan kehidupan, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat yang bekerja di tengah masyarakat. Dalam kerangka itu, kader bukan sekadar anggota administratif. Kader adalah penjaga api risalah. Ia memikul amanat untuk meneruskan misi pencerahan dalam kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

              Karena itu, ideologi bagi kader Muhammadiyah tidak boleh dipahami sebagai slogan yang dihafal, apalagi sekadar identitas formal. Ideologi adalah manhaj berpikir dan manhaj bertindak. Ia adalah cara memandang realitas, cara menilai persoalan, sekaligus cara menentukan keberpihakan. Ideologi Muhammadiyah bertumpu pada tauhid yang murni, penggunaan akal yang sehat, penghormatan pada ilmu, serta orientasi amal yang nyata. Di sinilah keistimewaannya. Muhammadiyah tidak mendidik kader untuk menjadi pengagum simbol, melainkan pelaku perubahan yang berakar kuat pada nilai.

              Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 110, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah,” selalu relevan dibaca dalam konteks kaderisasi. Ayat ini bukan pujian yang membuat umat terlena, tetapi mandat yang menuntut tanggung jawab. Menjadi bagian dari umat terbaik berarti hadir untuk manusia, bekerja untuk kemaslahatan, dan menjaga arah moral kehidupan. Dalam perspektif itulah kader Muhammadiyah seharusnya dididik: bukan menjadi manusia yang sibuk dengan diri sendiri, melainkan pribadi yang sadar tugas sejarahnya.

              Namun, justru di titik inilah algoritma menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Algoritma bekerja tanpa wajah dan tanpa suara. Ia tidak tampil sebagai guru, tetapi pengaruhnya bisa lebih kuat daripada ruang kelas. Ia tidak berbicara dengan bahasa nilai, tetapi mampu menentukan apa yang dilihat, apa yang diabaikan, dan apa yang dianggap penting. Ia membentuk atensi, lalu dari atensi itu membentuk kebiasaan, dan dari kebiasaan itu perlahan-lahan membentuk kesadaran.

              Masalahnya, algoritma tidak dibangun untuk mencari kebenaran. Ia dibangun untuk mempertahankan perhatian. Yang diutamakan bukan yang paling benar, melainkan yang paling menarik; bukan yang paling mencerahkan, melainkan yang paling memancing respons. Akibatnya, ruang digital sering lebih ramah pada sensasi daripada substansi, pada kemarahan daripada kejernihan, pada kecepatan daripada kedalaman. Dalam suasana seperti ini, kader sangat mudah bergeser dari pembelajar yang tekun menjadi konsumen konten yang reaktif.

              Kita menyaksikan gejala itu di banyak tempat. Bacaan panjang dianggap melelahkan. Diskusi yang memerlukan kesabaran dianggap tidak praktis. Pendapat yang bernuansa kalah oleh pernyataan yang keras dan ringkas. Ukuran kebenaran sering bergeser menjadi ukuran popularitas. Apa yang banyak dibagikan dianggap paling penting, padahal belum tentu paling benar. Yang paling berbahaya, kader bisa terjebak dalam ruang gema, hanya mendengar suara yang selaras dengan pikirannya sendiri, lalu kehilangan kemampuan berdialog dan menguji diri.

              Padahal, kader Muhammadiyah justru harus dibiasakan hidup dalam tradisi ilmu yang sehat: membaca sebelum berpendapat, memahami sebelum menilai, dan berdialog sebelum menyimpulkan. Kader tidak boleh tumbuh menjadi pribadi yang hanya tangkas berkomentar, tetapi miskin kedalaman. Sebab gerakan besar tidak dibangun oleh reaksi spontan, melainkan oleh pikiran yang matang, sikap yang jernih, dan keteguhan dalam amal.

              Karena itu, persoalan “algoritma versus ideologi” sesungguhnya bukan semata pertentangan antara teknologi dan tradisi. Persoalannya lebih dalam: apakah teknologi digunakan untuk memperkuat misi, atau justru misi gerakan yang diam-diam dilarutkan oleh teknologi? Muhammadiyah tentu tidak boleh bersikap anti-zaman. Sebagai gerakan Islam berkemajuan, Muhammadiyah justru dituntut untuk hadir dalam setiap perkembangan peradaban. Teknologi bukan musuh. Media digital bukan ancaman dengan sendirinya. Yang harus dijaga adalah jangan sampai perangkat yang seharusnya menjadi alat justru berubah menjadi pengendali arah.

              Dalam konteks ini, kaderisasi Muhammadiyah harus berani melakukan koreksi. Kaderisasi tidak cukup berhenti pada transfer materi, apalagi sekadar pengulangan modul secara administratif. Kaderisasi harus menjadi proses pembentukan kesadaran ideologis. Ia harus melahirkan kader yang memahami mengapa Muhammadiyah hadir, untuk siapa ia bergerak, dan ke mana ia hendak membawa perubahan. Tanpa kesadaran seperti itu, kader mudah aktif tetapi tidak memiliki arah; giat bergerak tetapi lemah dalam orientasi; ramai di ruang digital tetapi hampa dalam panggilan ideologis.

              Mengkader, pada akhirnya, adalah pekerjaan peradaban. Ia bukan sekadar urusan struktur organisasi, melainkan bentuk ibadah sosial yang sangat panjang napasnya. Setiap kader yang tumbuh dengan baik sesungguhnya adalah investasi sejarah. Ia mungkin kelak menjadi guru, dokter, pengusaha, dosen, aktivis, birokrat, atau pemimpin masyarakat. Akan tetapi, lebih dari semua peran itu, yang terpenting adalah ia membawa nilai Muhammadiyah ke mana pun ia mengabdi: nilai keikhlasan, keberpihakan pada yang lemah, kecintaan pada ilmu, disiplin beramal, dan komitmen pada pembaruan.

              Di titik ini, kita perlu kembali mengingat wajah kader sejati. Bukan mereka yang paling gaduh di ruang publik, melainkan mereka yang paling tekun menyalakan manfaat. Barangkali ia berada di ranting kecil, jauh dari sorotan. Ia tidak dikenal luas di media sosial. Namun, setiap pekan ia mengajar mengaji, membina anak muda, menjaga denyut masjid, menghidupkan pengajian, atau membantu warga dengan senyap. Ia tidak sedang membangun citra. Ia sedang merawat amal. Dalam diam seperti itulah ideologi bekerja secara nyata.

              Muhammadiyah dibesarkan oleh kader-kader yang semacam itu: tidak silau pada popularitas, tetapi teguh pada pengabdian. Sebab ukuran utama kader bukan seberapa sering ia tampil, melainkan seberapa jauh ia memberi arti. Di sinilah kita memahami bahwa kaderisasi tidak boleh melahirkan manusia yang hanya piawai berbicara tentang gerakan, tetapi lemah dalam menghidupkannya.

              Lalu, apa yang perlu dilakukan? Pertama, penguatan literasi ideologi harus menjadi prioritas. Kader perlu kembali akrab dengan pokok-pokok pikiran Muhammadiyah, dengan manhaj tarjih, dengan spirit tajdid, dengan sejarah perjuangan Persyarikatan, dan dengan orientasi Islam berkemajuan. Bukan untuk romantisme masa lalu, melainkan agar memiliki kompas ketika menghadapi kerumitan zaman baru.

              Kedua, ruang digital harus direbut sebagai medan dakwah pencerahan. Kader tidak cukup hanya menjadi pengguna media, tetapi harus menjadi pembawa nilai di dalamnya. Konten yang cerdas, beradab, argumentatif, dan mencerahkan harus diproduksi secara sadar. Muhammadiyah tidak boleh kalah oleh kebisingan digital. Ia harus hadir dengan kejernihan.

              Ketiga, ruang-ruang dialog langsung perlu dihidupkan kembali. Halaqah, diskusi, kajian, dan forum kader tidak boleh tergantikan seluruhnya oleh percakapan singkat di layar. Kedalaman hanya dapat tumbuh dalam suasana yang memberi waktu untuk membaca, mendengar, bertanya, dan merenung. Tradisi intelektual tidak lahir dari guliran tanpa henti, melainkan dari kesediaan untuk berhenti sejenak dan berpikir sungguh-sungguh.

              Keempat, kaderisasi harus selalu ditautkan dengan dimensi ruhaniah. Ideologi tanpa spiritualitas akan mudah mengeras menjadi kebanggaan identitas. Aktivisme tanpa kedekatan kepada Allah akan lekas lelah dan kehilangan keikhlasan. Karena itu, kader Muhammadiyah harus dibina bukan hanya akalnya, tetapi juga jiwanya; bukan hanya militansinya, tetapi juga ibadahnya; bukan hanya kemampuan organisasinya, tetapi juga kebeningan niatnya.

              Pada akhirnya, algoritma mengajarkan manusia untuk serba cepat, sedangkan ideologi mengajarkan manusia untuk tetap dalam. Kader Muhammadiyah harus mampu mempertemukan keduanya secara proporsional: cepat membaca perubahan, tetapi tidak kehilangan kedalaman berpikir; aktif di ruang digital, tetapi tetap berakar pada nilai; tanggap terhadap zaman, tetapi tidak tunduk pada arus.

              Sebab bila kader hanya cepat tanpa dalam, ia akan mudah goyah. Sebaliknya, bila ia dalam tetapi tidak tanggap, ia akan tertinggal dalam gelanggang perubahan. Muhammadiyah memerlukan kader yang berkemajuan, bukan dalam arti larut dalam modernitas, melainkan mampu memimpin modernitas dengan nilai.

              Di sinilah pertanyaan awal itu menemukan jawabannya. Kader Muhammadiyah boleh hadir di beranda media sosial, tetapi ia tidak boleh menyerahkan kesadarannya kepada algoritma. Ia boleh memanfaatkan teknologi, tetapi arah hidupnya tetap harus dipandu oleh ideologi gerakan. Sebab yang akan menjaga masa depan Muhammadiyah bukan kecanggihan perangkat, melainkan keteguhan nilai yang hidup dalam diri kadernya.

              Bila kader padam, gerakan kehilangan nyala. Bila gerakan kehilangan nyala, umat kehilangan salah satu sumber pencerahan. Karena itu, tugas kita hari ini bukan sekadar menyesuaikan kaderisasi dengan perkembangan zaman, tetapi memastikan bahwa di tengah gelombang digital yang begitu kuat, ideologi Muhammadiyah tetap menjadi akar yang meneguhkan, cahaya yang menuntun, dan tenaga yang menggerakkan amal.

              Yang pada akhirnya akan bertahan bukanlah algoritma, melainkan nilai. Bukan tren, melainkan kebenaran. Dan kaderlah yang menentukan apakah kebenaran itu tetap hidup dalam sejarah, atau justru tenggelam dalam kebisingan zaman.

               

              Wallahu a’lam Bish Shawab

               

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              FOKAL IMM Teknik UMSU Resmi Dibentuk, Perkuat Sinergi Alumni dan Kader Berkemajuan

              Next Post

              Din Syamsuddin: Bung Karno Tokoh Muslim dan Nasionalis

              admin

              admin

              InfoLain

              BeritaMu

              Tim P2M UMS dan ‘Aisyiyah Jombor Inisiasi Tim P3AK Sukoharjo untuk Cegah Kekerasan Rumah Tangga

              11/10/2026
              BeritaMu

              Sulap Kotoran Sapi Jadi Kompos Blok dan Briket, Mahasiswa IMM UNIMUS Beri Solusi Limbah di Getasan

              11/10/2026
              BeritaMu

              LHKP PWM Jateng Dorong Pengelolaan MBG Berkemajuan dan Berkeadilan lewat Pelatihan Ideologi Kepemimpinan

              11/10/2026
              Next Post

              Din Syamsuddin: Bung Karno Tokoh Muslim dan Nasionalis

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Enam Hari di Sumut akibat IOD Negatif

                26/11/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0

                GSIH Komdigi Gelar Roadshow Garuda Spark Nextpreneur Sumut 2026 di UMSU​Peny Eriska

                11/10/2026

                Mahasiswa UUM Malaysia dan FEB UMSU Gelar Pertukaran Budaya​Peny Eriska

                11/10/2026

                UMSU Lepas Tiga Mahasiswa FKIP Ikuti Program SEA Teacher di Filipina​Peny Eriska

                11/10/2026

                UMSU Terima SK Pendirian Dua Prodi Baru​Peny Eriska

                11/10/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (29,770)
                • Hukum Islam (1,633)
                • Kabar PTMA (4,308)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                GSIH Komdigi Gelar Roadshow Garuda Spark Nextpreneur Sumut 2026 di UMSU​Peny Eriska

                11/10/2026

                Mahasiswa UUM Malaysia dan FEB UMSU Gelar Pertukaran Budaya​Peny Eriska

                11/10/2026

                UMSU Lepas Tiga Mahasiswa FKIP Ikuti Program SEA Teacher di Filipina​Peny Eriska

                11/10/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In