Guru Besar dan Rasa Kecil yang Terlupa
Oleh : Jufri
Pagi ini saya membuka satu per satu buku yang saya bawa pulang dari pengukuhan guru besar Rabu kemarin. Ada tujuh buku di hadapan saya—enam di antaranya karya dari tiga guru besar, dan satu lagi berisi pidato pengukuhan mereka. Sebagian buku itu lembar demi lembar saya baca, dan entah mengapa, bukan hanya ilmu yang terasa hadir, tetapi juga semacam kesadaran sunyi: bahwa di balik gelar yang terdengar besar, manusia tetaplah kecil.
Ilmu pengetahuan memang tidak pernah utuh dalam satu genggaman. Ia tumbuh, bercabang, lalu dipecah menjadi ranting-ranting kecil agar bisa dipahami lebih dalam. Dari ranting-ranting itulah lahir para guru besar, mereka yang menguasai satu bagian kecil dari pohon ilmu yang begitu luas. Maka sesungguhnya, gelar guru besar bukanlah tanda telah mengetahui segalanya, melainkan pengakuan atas ketekunan menelusuri satu jalan sempit di tengah hutan pengetahuan.
Di titik ini, mestinya para guru besar adalah orang-orang yang paling sadar akan batas dirinya. Sebab semakin tinggi ilmu seseorang, semakin terbuka pula cakrawala ketidaktahuan yang belum dijamah.
Namun pengalaman bergaul dengan banyak orang, dari yang sederhana hingga yang penuh atribut kehormatan, justru memberi pelajaran berbeda. Bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari gelar yang melekat, tetapi dari kelapangan hati dalam memaknai ilmunya. Syukurnya, saya lebih banyak menemukan orang – orang yang rendah hati meski memiliki gelar dan pangkat yang tinggi .
Menarik apa yang disampaikan oleh salah seorang Guru besar yang dikukuhkan ,Ibnu Ridwan Siddiq Turnip di akhir orasi ilmiahnya. Ia mengingatkan bahwa capaian sebagai guru besar tidak boleh menjadikan seseorang merasa lebih baik dari yang lain. Di luar sana, ada banyak orang yang mungkin tidak bergelar, tetapi lebih taat, lebih dalam memahami Al-Qur’an, lebih tekun dalam ibadah, dan lebih jernih dalam melihat kehidupan.
Pesan itu sederhana, tetapi menohok. Karena sering kali yang membatasi kita bukanlah kurangnya ilmu, melainkan rasa cukup yang berlebihan terhadap apa yang sudah kita miliki.
Penutup orasi itu seperti menegaskan kembali satu hal yang kerap kita lupakan: bahwa manusia tidak pernah benar-benar menjadi “besar”. Kita hanya sedang berjalan, memahami sedikit demi sedikit dari luasnya kehidupan. Dan justru ketika seseorang sampai pada puncak akademik, di situlah ia diuji—apakah ia akan semakin merunduk seperti padi yang berisi, atau justru meninggi tanpa akar.
Barangkali, guru besar yang sejati bukanlah mereka yang merasa paling tahu, tetapi mereka yang terus merasa belum tahu. Mereka yang tidak lelah belajar, tidak enggan mendengar, dan tidak malu untuk mengakui keterbatasan dirinya. Karena di sanalah ilmu menemukan maknanya—bukan pada kebanggaan, tetapi pada kerendahan hati.
Jika guru besar saja harus merasa bodoh , tentulah yang tidak bergelar guru besar harus lebih banyak belajar ,termasuk kepada para guru besar, dan para guru besar juga harus terus belajar kepada sesama guru besar, Baik guru besar formal akademik , maupun guru besar kehidupan non akademik . Karena banyak dialam ini ” para guru besar ” tanpa gelar, tanpa tiga , tanpa tunjangan . Alam terkembang jadi guru .
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







