Tafakur Bakda Subuh Ini: Nikmat, Kepemilikan, dan Paradoks Manusia Modern
Oleh : Jufri
Pagi bakda subuh ini, saya membaca firman Allah dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah An-Nahl ayat 52–53. Ayat yang menegaskan dengan sangat jernih: bahwa apa pun yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Dan segala nikmat yang melekat pada diri manusia, sekecil apa pun, bersumber dari-Nya.
Betapa sederhana kalimatnya, tetapi betapa dalam maknanya.
Ayat itu tidak berbicara dengan nada keras. Ia seperti mengalir pelan, namun tepat menyentuh kesadaran. Tentang kepemilikan yang sering kita banggakan, padahal hakikatnya hanyalah titipan. Tentang nikmat yang kerap kita anggap sebagai hasil mutlak kerja keras diri, padahal ada kuasa Allah yang bekerja jauh sebelum usaha kita dimulai.
Di titik itu, hati terasa diingatkan tanpa merasa digurui.
Sering kali kita begitu akrab dengan kata “milik”. Rumah milik saya. Jabatan milik saya. Usaha milik saya. Bahkan keberhasilan pun kadang kita letakkan sepenuhnya di atas pundak kehebatan pribadi. Padahal jika direnungkan lebih jujur, ada begitu banyak unsur di luar kendali kita: kesehatan yang memungkinkan kita bekerja, kesempatan yang datang di waktu yang tepat, pertemuan dengan orang-orang yang membuka jalan.
Saya teringat nasihat Buya Hamka yang pernah mengatakan bahwa waktu manusia berada di atas tanah jauh lebih singkat dibanding waktu manusia berada di dalam tanah. Kalimat yang tenang, namun mengubah cara pandang. Ia seperti mengajak kita menata ulang proporsi: mana yang perlu dibanggakan, mana yang seharusnya disyukuri.
Kita hidup di zaman ketika hampir segala hal bisa ditampilkan. Aktivitas, pencapaian, perjalanan, bahkan kebahagiaan yang sangat personal dapat dibagikan dalam hitungan detik. Di era manusia modern, paradoks itu terasa jelas. Kita gemar menampilkan banyak hal tentang diri, namun pada saat yang sama merasa risih ketika ada yang dianggap terlalu ingin tahu.
Barangkali persoalannya bukan pada berbagi atau tidak berbagi. Tetapi pada rasa yang menyertainya. Apakah yang kita tampilkan lahir dari syukur, atau dari kebutuhan untuk diakui? Apakah ia menguatkan makna, atau sekadar memperpanjang daftar pembenaran diri?
Surah An-Nahl seperti mengembalikan orientasi hidup kita pada satu titik pusat: sumbernya satu, pemiliknya satu, dan tempat kembali pun satu. Jika demikian, tidak ada ruang yang layak untuk kesombongan yang berlebihan. Tidak ada alasan untuk merasa paling memiliki di antara sesama yang sama-sama hanya singgah.
Nikmat, ketika dipahami sebagai amanah, biasanya membuat hati lebih lembut. Ia melahirkan empati, bukan perbandingan. Menumbuhkan ketenangan, bukan kegaduhan. Sebaliknya, ketika nikmat dipersepsikan sebagai prestasi pribadi semata, ia perlahan dapat berubah menjadi beban untuk dipertahankan dan dipertontonkan.
Bakda Subuh ini saya belajar satu hal sederhana: mungkin yang perlu dikurangi bukan hanya unggahan tentang apa yang kita miliki, tetapi rasa memiliki yang berlebihan itu sendiri. Karena pada akhirnya, semua yang ada pada kita hanyalah titipan. Dan titipan selalu mengandung kemungkinan untuk kembali kepada Pemiliknya.
Di antara langit dan bumi yang seluruhnya milik-Nya, kita hanyalah hamba yang berjalan sebentar. Setiap orang menempuh jalan dengan nikmat dan ujian yang berbeda. Maka rasa bangga dan rasa iri, dua-duanya perlu kita kelola agar tidak tumbuh liar dalam diri.
Semoga pagi yang hening seperti ini terus menyediakan ruang untuk menata hati. Agar nikmat tetap menjadi jalan syukur. Agar kepemilikan tidak berubah menjadi kesombongan. Dan agar hidup yang singkat ini benar-benar bermakna sebelum kita kembali kepada-Nya.
Silaturahmi. Kolaborasi. Sinergi. Harmoni.



