Muhammadiyah Padukan Agama dan Ilmu Pengetahuan secara Berkemajuan
INFOMU.CO | Tangerang – Tekanan besar institusi keagamaan kepada ilmu pengetahuan pada masa Kegelapan berdampak panjang. Situasi itu menimbulkan skeptisisme ilmuwan modern kepada institusi keagamaan.
Kenyataan itu menyebabkan, ilmu pengetahuan didudukan saling berhadapan dengan agama. Alih-alih berdampingan, ilmu pengetahuan dan ajaran agama dianggap tidak relevan dan bertolak belakang.
Maka era modern memberikan tantangan tersendiri bagi institusi keagamaan, seperti munculnya sekularisme, humanisme, sampai dengan antroposentrisme. Padahal menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq Mughni, agama dan ilmu pengetahuan dapat berdampingan.
Mendudukan agama dan ilmu pengetahuan secara berdampingan ini diambil oleh Muhammadiyah. Dia menjelaskan, Muhammadiyah percaya pada ilmu pengetahuan sekaligus percaya pada teks atau nash agama.
“Bisa dipadukan, percaya pada ilmu pengetahuan – dan itu digunakan untuk memahami teks-teks. Yang nyata adalah bagaimana kita melihat bulan untuk berpuasa,” kata Syafiq Mughni pada (25/2) dalam Pengkajian Ramadan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).
Oleh karena itu, nash sebagai wahyu “dibaca” Muhammadiyah tidak secara letterlijk. Maka Muhammadiyah mengembangkan model pendekatan nash secara tekstual (bayani), kontekstual (burhani), dan intuisi atau qalbun salim (irfani).
Syafiq pada paparannya juga menyorot tajam gejala menguatkan pandangan antroposentrisme, yaitu sebuah pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan.
Pandangan ini memiliki potensi besar untuk mempercepat kerusakan bumi. Sebab eksploitasi terhadap bumi secara ugal-ugalan dianggap ‘legal’ dilakukan asalkan sesuai dengan rasionalitas dan memberikan keuntungan bagi manusia.
Pandangan ini acapkali mengesampingkan entitas lain. “Sebab Allah dan agama tidak penting lagi, teosentrisme sudah ditinggalkan. Itu fenomena baru, kemudian muncul kelompok-kelompok humanis di sebagian negara,” ungkapnya.
Berbagai pandangan atau isme-isme yang muncul pada era kontemporer ini direspon oleh beberapa ilmuan muslim dengan mendefinisikan ulang teologi islam itu sendiri, misalnya saja ada tauhid sosial, teologi pembebasan, teologi al Ma’un, dan seterusnya. (muhammadiyah.or.id)




