• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Minggu, April 26, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu

    Peringati Hari Buku Se-Dunia UMSU Press Serahkan Royalti ke 413 Penulis

    UMSU Jalin Sinergi dengan Babussalam Langkat, Dorong Dakwah dan Literasi Islam Berkemajuan

    PP Muhammadiyah dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Sinergi, Dorong Perlindungan Pekerja yang Inklusif

    Delusi dan Kerancuan Perspektif (Respons atas Tulisan Periset BRIN dan THR Kemenag RI)

    Hari Keempat Operasional Haji 2026, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan

    Muhammadiyah jadi Ormas Islam yang Memiliki Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

    Muhammadiyah jadi Ormas Islam yang Memiliki Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

    Trending Tags

    • Kabar PTMA

      Peringati Hari Buku Se-Dunia UMSU Press Serahkan Royalti ke 413 Penulis

      UMSU Jalin Sinergi dengan Babussalam Langkat, Dorong Dakwah dan Literasi Islam Berkemajuan

      PP Muhammadiyah dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Sinergi, Dorong Perlindungan Pekerja yang Inklusif

      Delusi dan Kerancuan Perspektif (Respons atas Tulisan Periset BRIN dan THR Kemenag RI)

      Hari Keempat Operasional Haji 2026, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan

      Muhammadiyah jadi Ormas Islam yang Memiliki Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

      Muhammadiyah jadi Ormas Islam yang Memiliki Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

        Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

        Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

        Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

        Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

        Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu

          Peringati Hari Buku Se-Dunia UMSU Press Serahkan Royalti ke 413 Penulis

          UMSU Jalin Sinergi dengan Babussalam Langkat, Dorong Dakwah dan Literasi Islam Berkemajuan

          PP Muhammadiyah dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Sinergi, Dorong Perlindungan Pekerja yang Inklusif

          Delusi dan Kerancuan Perspektif (Respons atas Tulisan Periset BRIN dan THR Kemenag RI)

          Hari Keempat Operasional Haji 2026, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan

          Muhammadiyah jadi Ormas Islam yang Memiliki Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

          Muhammadiyah jadi Ormas Islam yang Memiliki Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

          Trending Tags

          • Kabar PTMA

            Peringati Hari Buku Se-Dunia UMSU Press Serahkan Royalti ke 413 Penulis

            UMSU Jalin Sinergi dengan Babussalam Langkat, Dorong Dakwah dan Literasi Islam Berkemajuan

            PP Muhammadiyah dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Sinergi, Dorong Perlindungan Pekerja yang Inklusif

            Delusi dan Kerancuan Perspektif (Respons atas Tulisan Periset BRIN dan THR Kemenag RI)

            Hari Keempat Operasional Haji 2026, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan

            Muhammadiyah jadi Ormas Islam yang Memiliki Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

            Muhammadiyah jadi Ormas Islam yang Memiliki Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

              Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

              Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

              Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

              Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

              Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Profesor Bukan Buru Besar

              admin by admin
              28/02/2026
              in BeritaMu
              0
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA
              Profesor Bukan Guru Besar

              Oleh :  Juneman Abraham

              Penganugerahan profesor/guru besar kehormatan, selama ini lebih banyak memicu kontroversi di masyarakat daripada penerimaan dan pengakuan ketepatan pemberiannya.

              WartaTerkait

              Peringati Hari Buku Se-Dunia UMSU Press Serahkan Royalti ke 413 Penulis

              UMSU Jalin Sinergi dengan Babussalam Langkat, Dorong Dakwah dan Literasi Islam Berkemajuan

              PP Muhammadiyah dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Sinergi, Dorong Perlindungan Pekerja yang Inklusif

              Delusi dan Kerancuan Perspektif (Respons atas Tulisan Periset BRIN dan THR Kemenag RI)

              Kekeliruan mendasar yang jarang kita bedah adalah menyamakan “profesor” dengan “guru besar”. Padahal secara ontologis dan semantik berbahasa, profesor tidaklah identik dengan guru besar.

              Bahasa merupakan pembangun realitas, bukan hanya menggambarkannya. Ketika kita memilih istilah “guru besar” sebagai terjemahan jabatan fungsional tertinggi akademik, kita sedang membangun sebuah kenyataan sakral. Tidak hanya itu, dampaknya sangat serius, bisa sampai pada rusak, bahkan hancurnya integritas akademik.

              Kata “guru” dalam budaya Indonesia memiliki muatan moral yang luas, sekaligus dalam, digugu dan ditiru. Kata “guru” dalam bahasa Indonesia sudah pula telanjur memiliki akar Sansekerta yang sangat kental, yang berarti “berat secara pengetahuan dan kebijaksanaan” (heavy, venerable, weighty in knowledge and wisdom), bahkan dianggap representasi Yang Ilahi yang mampu menghapuskan (ru) kegelapan (gu) dari siswa-siswanya.

              Sementara atribut “besar” menandaskan lagi bobot spiritualitas, teladan, dan kebijaksanaan yang jelas melampaui dimensi administratif-teknis-struktural. Memang, dalam bahasa Melayu/Indonesia lama, sesuatu yang tinggi kedudukannya sering disebut “besar” (misalnya, tuan besar).

              Saat profesor yang merupakan sebuah akumulasi prestasi riset dan pengajaran akademis di kelas dan laboratorium (lihat bobot angka kreditnya) dikemas dengan label guru besar (sebuah status moral-kultural), terjadilah distorsi atau pembiasan.

              Orang tidak lagi memusatkan upaya pada kepakaran sejati, melainkan mengejar kebertuahan, keampuhan sosial. Hal inilah yang menyebabkan pengejaran jabatan akademik ini dilakukan secara membabi-buta, bahkan hingga menabrak pagar etika, karena yang diburu adalah predikat “guru yang diagungkan masyarakat”, bukan tanggung jawab intelektualnya.

              Secara historis, penyamaan ini berakar dari upaya indigenisasi istilah-istilah kolonial pascakemerdekaan. Di era Hindia Belanda, posisi tertinggi di universitas disebut hoogleraar (secara harfiah berarti “pengajar tinggi”, dari kata hoog = tinggi, leraar = pengajar). Padanannya menjadi “guru besar”. Sayangnya, pemilihan ini abai pada fakta bahwa di negara asalnya, hoogleraar adalah sebuah jabatan dengan tugas-tugas berbasis riset (Tauchid Komara Yuda, 2025), bukan gelar kemuliaan seumur hidup yang bersifat mistis. Ketika diidentikkan dengan profesor, istilah ini mengalami hipersakralisasi.

              Kita terjebak dalam romantisme berbahasa yang tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman, di mana kini ada profesor riset di Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN) yang secara formal tidak memiliki kewajiban mengajar mahasiswa di kampus, atau profesor kehormatan yang diberikan seringkali karena jasa yang dipandang di luar dunia akademik.

              Jika mereka tidak mengajar, secara semantik, di mana letak “guru”-nya? Tidakkah menjadi konyol dan melanggar akal sehat kita sendiri, ketika kita mengutarakan istilah guru besar kehormatan? Menyematkan sebutan guru besar dalam konteks ini bukan hanya salah kaprah secara fungsional, melainkan juga membuktikan bahwa label guru besar telah bergeser menjadi sekadar piala penghargaan sosial, bukan lagi mandat pendidikan.

              Tabungan moral

              Mengapa banyak orang begitu terobsesi menjadi guru besar, hingga nekat melakukan plagiasi, menggunakan jasa joki, bahkan “membeli gelar” ini (sinyalir Ichsanuddin Noorsy pada 2025)? Dalam struktur masyarakat kita, sebutan guru besar memang memberikan symbolic capital yang sangat tinggi.

              Seseorang ingin tampil dengan status profesor, padahal secara kualitas riset, apalagi kualitas pribadi tidak memiliki penguasaan state of the art yang memadai, lebih-lebih kebesaran jiwa atau etika. Ia mengalami yang dalam psikologi sosial disebut disonansi, dan berusaha menutupi kesenjangan ini, yaitu dengan melakukan perilaku peremehan akan suara batin dan masyarakat, trivialisasi rasa malu, sekaligus perilaku kompensatoris dengan cara-cara manipulatif agar tetap terlihat layak menyandang status tersebut. Terbentuklah diri profesor yang palsu.

              Lebih celaka lagi, ada pengaruh lisensi moral. Ketika seseorang sudah merasa mencapai puncak “guru besar”, ia merasa telah memiliki “tabungan moral” yang cukup, sehingga merasa boleh melanggar aturan moral (ingat juga sejumlah kasus, mulai dari kekerasan seksual, hingga korupsi akademik oleh profesor), atau merasa tak perlu lagi dikritik, bahkan sebaliknya, merasa pendapatnya harus selalu dibenarkan. Hal inilah yang mengentalkan feodalisme di dunia akademik kita.

              Jika kita melepaskan asosiasi “guru” dari “profesor”, kita sedang melakukan demistifikasi, yaitu mengembalikan profesor ke bumi sebagai manusia akademik biasa yang bisa salah dalam sains (asalkan tidak bohong), yang bekerja berbasis data dan metodologi, bukan seorang pandito, resi yang tak tersentuh.

              Demistifikasi

              Sudah saatnya kita melakukan desakralisasi pun demistifikasi jabatan ini. Setidaknya ada dua langkah mendasar yang dapat kita lakukan. Pertama, pemisahan nomenklatur. Secara administratif, sebutan resmi harus dikembalikan menjadi “profesor”. Istilah “guru besar”, saat ini adalah produk salah terjemah yang kebablasan. Jika kita setia pada etimologinya, seharusnya kita menggunakan istilah pengajar utama atau tetap saja menggunakan profesor. Penggunaan kata “besar”-lah yang memberikan celah bagi munculnya ego, feodalisme akademik, dan mistifikasi.

              Dengan demikian, Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyinonimkan profesor dengan guru besar harus direvisi. Biarlah “profesor” menjadi penanda kepakaran teknis di bidang ilmu tertentu yang berdampak pada mahasiswa dan komunitas luas.

              Kedua, penghadiran kualifikasi kultural guru besar. Gagasan untuk menghilangkan panggilan “prof” tidak cukup, melainkan harus sampai menghilangkan otomatisasi panggilan “guru besar” kepada mereka yang mencapai jabatan profesor.

              Lebih lanjut, “guru besar” harus menjadi sebutan distinction yang diberikan secara sangat selektif oleh senat universitas atau dewan etik atau kementerian yang membidangi pendidikan tinggi kepada profesor di perguruan tinggi yang memenuhi kontribusi kultural, integritas moral-eksistensial, dan keteladanan sosial yang tak terbantahkan. Dalam konteks ini, tidak ada lagi “guru besar kehormatan”; paling jauh, universitas atau kementerian hanya sebatas dapat menganugerahkan “profesor kehormatan”.

              Dengan kata lain, seorang profesor wajib hebat di laboratorium dan jurnal dan pandai mengajarkan ilmu yang dihasilkan kepada mahasiswa atau aktif menerapkan temuan-temuannya sebagai pemecahan masalah di masyarakat. Namun, seorang guru besar adalah profesor yang telah teruji jiwa dan etikanya bagi kemanusiaan.

              Jika seorang profesor hanya menjadi “mesin” pengumpul angka kredit (kum), namun minim dalam rekam jejak ngelmu secara otentik, seperti tidak pernah bersentuhan (“buta”) apalagi melakukan pembelaan konkret pada keadilan, serta “lumpuh” dalam melakukan deep perspective taking atas denyut nadi masyarakat, maka ia hanyalah seorang teknokrat akademik. Ia cukup disebut profesor (puncak karir), sebuah jabatan fungsional, yang tak perlu dipaksakan menyandang kesakralan “guru besar” (puncak kearifan) yang menuntut keluasan jiwa.

              Dalam kosmologi pemikiran kita, memang ada jurang lebar antara memiliki ilmu (berilmu) dan menjalani ngelmu. Jika ilmu adalah penguasaan state of the art yang menjadi wilayah para profesor, maka ngelmu adalah internalisasi ilmu melalui laku atau perbuatan nyata, sebagaimana Serat Wedhatama menyebutkan,ngelmu iku kalakone kanthi laku.

              Kini, kita mengerti akar masalahnya: label “guru besar” (GB) di Indonesia sering kali dianggap sebagai paket ganda instan. Seolah-olah dengan mencapai jabatan profesor, seseorang otomatis telah mencapai puncak ngelmu. Padahal, banyak yang baru sekadar khatam dalam birokrasi pengumpulan dokumen (ilmu).

              Integritas seorang profesor sedikitnya merupakan integritas prosedural agar datanya tidak bohong; namun integritas seorang guru besar sudah pasti sebuah laku eksistensial. Seorang profesor mungkin piawai membedah patologi kemiskinan di atas kertas hingga meramu rekomendasi kebijakan dan diktum etis yang canggih. Namun, seorang guru besar melampaui itu melalui keberpihakan emansipatoris: ia yang inteleknya terusik dan keberanian moralnya mengejawantah secara nyata saat berhadapan langsung dengan jelaga derita masyarakat. Ia sadar bahwa kebenaran sejati sering kali berantakan (messy), tidak seindah grafik di jurnal ilmiah. Salah satu gambaran figuratifnya, guru besar adalah pejuang yang konsisten berani “mengotori tangannya” dalam palagan advokasi tanpa lelah, bukan sekadar analis atau komentator yang riuh bersolek di media, namun sebenarnya bersembunyi di balik kesterilan “tangan yang bersih”.

              Demistifikasi ini menjadi krusial agar kita mulai hari ini stop menyalahartikan kecanggihan teknis seorang profesor sebagai kearifan spiritual seorang guru.

              Jika profesor tidak lagi secara otomatis disebut guru besar, maka motivasi para “pemburu gelar” akan menyusut. Tanpa embel-embel “guru” yang sakral, profesor sejatinya profesi biasa, seperti halnya akuntan senior atau arsitek utama. Pengejaran jabatan akademik akan kembali pada khittah-nya, yakni sebuah dedikasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan, bukan ajang flexing status sosial.

              Kita juga perlu berani mengakui bila sejumlah (untuk tidak mengatakan: banyak) profesor, belum, bahkan tidak layak disebut guru besar. Dengan melepaskan hubungan otomatis antara “prof dan guru besar” ini, kita justru menyelamatkan marwah guru yang sesungguhnya.

              Mari kita berhenti melakukan kekacauan berbahasa, demi kewarasan sosial kita sendiri. Sudah saatnya profesor turun dari singgasana mistisnya dan kembali ke meja riset, ke kelas mahasiswa, dan ke masyarakat sebagai ilmuwan yang jujur, solider, dan rendah hati. (sumber: Antara)

               

              *) Juneman Abraham adalah Profesor Psikologi Sosial, BINUS University, anggota Dewan Pakar Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya, dan anggota Himpunan Psikologi Indonesia

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              Irak Rebut Wilayah Kaya Minyak Milik Kuwait, Arab Saudi Marah Besar!

              Next Post

              Muhammadiyah Padukan Agama dan Ilmu Pengetahuan secara Berkemajuan

              admin

              admin

              InfoLain

              BeritaMu

              Peringati Hari Buku Se-Dunia UMSU Press Serahkan Royalti ke 413 Penulis

              25/04/2026
              BeritaMu

              UMSU Jalin Sinergi dengan Babussalam Langkat, Dorong Dakwah dan Literasi Islam Berkemajuan

              25/04/2026
              BeritaMu

              PP Muhammadiyah dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Sinergi, Dorong Perlindungan Pekerja yang Inklusif

              25/04/2026
              Next Post

              Muhammadiyah Padukan Agama dan Ilmu Pengetahuan secara Berkemajuan

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                Gebrakan Baru! Nasyiatul Aisyiyah Luncurkan 10 Program Unggulan di Tanwir II

                05/09/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0

                Kuliah Umum di Umsida, Anies Baswedan Kupas Kepemimpinan Transformatif dan Peran Mahasiswa

                26/04/2026

                Dosen UNIMMA Raih Pendanaan SINERGI 2026, Kembangkan Inovasi Energi Terbarukan untuk Dapur MBG

                26/04/2026

                Membaca Tren Prodi Perguruan Tinggi dan Peluang Kerja 2026

                26/04/2026

                Mahasiswa Kesos UMMAD Jalani Praktikum, Perkuat Intervensi Sosial Berbasis Pendampingan Psikososial

                26/04/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (27,904)
                • Hukum Islam (1,416)
                • Kabar PTMA (3,570)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                Kuliah Umum di Umsida, Anies Baswedan Kupas Kepemimpinan Transformatif dan Peran Mahasiswa

                26/04/2026

                Dosen UNIMMA Raih Pendanaan SINERGI 2026, Kembangkan Inovasi Energi Terbarukan untuk Dapur MBG

                26/04/2026

                Membaca Tren Prodi Perguruan Tinggi dan Peluang Kerja 2026

                26/04/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In