• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Sabtu, Mei 2, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu

    Cetak Green Entrepreneur, UMP Latih Kader Nasyiatul Aisyiyah Bumiayu Produksi Pupuk Organik

    Borong 3 Piala, SD Muhammadiyah PK Banyudono Dominasi FLS3N Tingkat Kecamatan

    Memaknai Hari Pendidikan 2026: Implementasi Tujuh Gerakan Anak Indonesia Hebat di Sekolah

    Matangkan Milad ke-109, Aisyiyah Keerom Fokus pada Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Asli Papua

    Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah Resmi Dibuka: Cetak Kader Muda Lintas Iman Perawat Bumi

    Cetak Pemimpin Muda, SMP Mutu Plus Fokus pada Pendidikan Karakter Siswa di Taruna Melati I

    Trending Tags

    • Kabar PTMA

      Cetak Green Entrepreneur, UMP Latih Kader Nasyiatul Aisyiyah Bumiayu Produksi Pupuk Organik

      Borong 3 Piala, SD Muhammadiyah PK Banyudono Dominasi FLS3N Tingkat Kecamatan

      Memaknai Hari Pendidikan 2026: Implementasi Tujuh Gerakan Anak Indonesia Hebat di Sekolah

      Matangkan Milad ke-109, Aisyiyah Keerom Fokus pada Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Asli Papua

      Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah Resmi Dibuka: Cetak Kader Muda Lintas Iman Perawat Bumi

      Cetak Pemimpin Muda, SMP Mutu Plus Fokus pada Pendidikan Karakter Siswa di Taruna Melati I

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

        Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

        Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

        Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

        Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

        Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu

          Cetak Green Entrepreneur, UMP Latih Kader Nasyiatul Aisyiyah Bumiayu Produksi Pupuk Organik

          Borong 3 Piala, SD Muhammadiyah PK Banyudono Dominasi FLS3N Tingkat Kecamatan

          Memaknai Hari Pendidikan 2026: Implementasi Tujuh Gerakan Anak Indonesia Hebat di Sekolah

          Matangkan Milad ke-109, Aisyiyah Keerom Fokus pada Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Asli Papua

          Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah Resmi Dibuka: Cetak Kader Muda Lintas Iman Perawat Bumi

          Cetak Pemimpin Muda, SMP Mutu Plus Fokus pada Pendidikan Karakter Siswa di Taruna Melati I

          Trending Tags

          • Kabar PTMA

            Cetak Green Entrepreneur, UMP Latih Kader Nasyiatul Aisyiyah Bumiayu Produksi Pupuk Organik

            Borong 3 Piala, SD Muhammadiyah PK Banyudono Dominasi FLS3N Tingkat Kecamatan

            Memaknai Hari Pendidikan 2026: Implementasi Tujuh Gerakan Anak Indonesia Hebat di Sekolah

            Matangkan Milad ke-109, Aisyiyah Keerom Fokus pada Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Asli Papua

            Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah Resmi Dibuka: Cetak Kader Muda Lintas Iman Perawat Bumi

            Cetak Pemimpin Muda, SMP Mutu Plus Fokus pada Pendidikan Karakter Siswa di Taruna Melati I

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

              Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

              Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

              Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

              Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

              Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Literasi Menjaga Nalar Kebangsaan

              by
              08/03/2023
              in BeritaMu
              0
              Literasi Menjaga Nalar Kebangsaan
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              muhammadiyah.or.id –

              Literasi Menjaga Nalar Kebangsaan

              WartaTerkait

              Cetak Green Entrepreneur, UMP Latih Kader Nasyiatul Aisyiyah Bumiayu Produksi Pupuk Organik

              Borong 3 Piala, SD Muhammadiyah PK Banyudono Dominasi FLS3N Tingkat Kecamatan

              Memaknai Hari Pendidikan 2026: Implementasi Tujuh Gerakan Anak Indonesia Hebat di Sekolah

              Matangkan Milad ke-109, Aisyiyah Keerom Fokus pada Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Asli Papua

              Oleh: Agusliadi Masssere

              Indonesia sebagai “kode” kebangsaan. Sebagaimana ditegaskan oleh Muhammad Sabri (Direktur Pengkajian Materi BPIP RI) bahwa, “Kode dalam tradisi semiotika adalah sesuatu yang muncul karena narasi–narasi biasa tidak mampu mengungkapkan/menjelaskan realitas yang sebenarnya”. Indonesia telah memiliki banyak hal sebagai modal untuk menjadi bangsa dan negara yang maju. Bahkan bisa menjadi kiblat peradaban bagi bangsa-bangsa lain.

              Indonesia telah memiliki apa yang oleh John Gardner disebutnya, “sesuatu yang mengandung dimensi-dimensi moral sebagai prasyarat bangsa untuk mencapai kebesaran”. Begitupun yang dalam pandangan Soekarno, konsepsi dan cita ideal sebagai sesuatu yang harus dimiliki oleh suatu bangsa, Indonesia telah memilikinya.

              Yang dimaksud oleh John Gardner dan Soekarno di atas, dalam konteks Indonesia adalah Pancasila. Indonesia tidak hanya memiliki Pancasila yang menjadi “meja statis”, “leitstar dinamis” (bintang penuntun), sebagai “philosofische grondslag” (dasar falsafah) dan “weltanschauung” (pandangan dunia). Indonesia pun memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah, dan sumber daya manusia (meskipun untuk sementara lebih menonjol aspek kuantitatifnya daripada kualitatifnya). Bahkan Indonesia memiliki agama yang dibawa oleh Muhammad SAW, Islam dan mayoritas dianut oleh rakyat atau warga negara Indonesia.

              Indonesia, tanpa mengedepankan perspektif  “nihilistik” yang memandang sama sekali tidak ada pencapaian, Indonesia telah memiliki dan mencapai banyak kemajuan dari dekade ke dekade. Meskipun demikian, kita pun harus mengakui bahwa Indonesia masih tertinggal jauh dari derap langkah kemajuan bangsa-bangsa lain.

              Terkesan potensi yang dimiliki Indonesia, khususnya di mata dunia, mengalami hal paradoks, bahkan seringkali dipandang sebagai sasaran empuk untuk sebuah tujuan hegemoni. Indonesia dalam garis relasi, masih berada dalam posisi inferioritas dan subordinat.

              Mengapa Indonesia masih berada dalam posisi yang cukup memprihatinkan seperti itu di mata dunia? Hal itu terjadi, selain superioritas dan kemajuan bangsa-bangsa lain, ada problem krusial yang terjadi dalam tubuh bangsa Indonesia sendiri.

              Indonesia bisa dipandang sebagai bangsa yang masih “krisis” literasi.  Empat pilar bangsa, khususnya Pancasila dan berbagai genius nusantara lainnya, tidak mampu menjadi nalar kebangsaan. Tidak mampu memengaruhi nalar anak bangsa.

              Krisis literasi itu ditunjukkan, setiap ada survei atau hasil riset oleh lembaga yang otoritatif dalam bidang literasi, kerap kali Indonesia berada pada posisi “ujung terbelakang”. Sebagaimana telah dikutip oleh Arif S Yudistira dalam prolog (1)-nya buku “The Spirit of Dauzan: Gagasan dan Aksi Pegiat Literasi Muhammadiyah” (2018), dari Haedar Nashir “mengumpulkan orang untuk berdemo lebih mudah daripada mengajak orang untuk membaca di perpustakaan”.

              Pilar-pilar bangsa dan genius nusantara ini, idealnya menjadi nalar. Sebagai nalar mampu memengaruhi “doing” (apa yang harus dilakukan), “meaning” (apa dan bagaimana memaknai), “relation” (bagaimana membangun relasi, terutama sesama anak bangsa), “thinking” (apa yang harus dipikirkan dan bagaimana memikirkannya), dan “being” (bagaimana cara menjadi dan harus menjadi seperti apa).

              Saya memiliki keyakinan atau minimal sejenis hipotesis yang bisa dibuktikan untuk menjadi tesis bahwa, pilar bangsa, berbagai genius nusantara dan agama yang dimiliki oleh bangsa dan negara Indonesia, mampu, bukan hanya mengantarkan bangsa ini sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan, tetapi mampu mewujudkan Indonesia sebagai kiblat peradaban bagi bangsa-bangsa lain, ketika semua ini menjadi nalar kebangsaan. Satu kunci bahwa, ini akan menjadi nalar kebangsaan ketika literasi hadir mengukuhkan narasi-narasi tersebut dalam diri dan jiwa anak bangsa.

              Mengapa harus dengan literasi? Literasi secara umum, pada dasarnya menempati ruang dan posisi strategis sebagai wilayah kerja peradaban. Al-Qur’an pun dengan sejumlah ayat yang terbentang di dalamnya, menjelaskan secara tegas. Begitu pun secara empirik dalam bentangan sejarah panjang peradaban Islam, kita akan menemukan spektrum sebagai preseden historis yang menempatkan betapa strategis, besarnya urgensi dan signifikansi literasi. Bukan hanya dalam literatur dan sejarah Islam, sesungguhnya dalam peradaban, ideologi dan agama apa pun, menempatkan literasi dalam posisi strategis.

              Literasi bukan hanya menawarkan dan menemukan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang bisa dipilih untuk menjadi modal mengarungi kehidupan dan memberikan solusi atas setiap problematika yang dihadapi. Literasi pun bukan hanya untuk mendapatkan hal-hal motivatif dan inspiratif dalam aneka referensi, narasi dan realitas.

              Literasi bisa pula memberikan kemampuan sebagaimana yang diharapkan oleh Rhenald Kasali dalam buku karyanya Disrupsi (2017). Dalam era disrupsi ini, tidak cukup dengan motivasi, tetapi dibutuhkan kemampuan membaca—dan saya tambahkan penegasan Rhenald, termasuk kemampuan menjawab—dari “where we are” dan “where we are going to”.  

              Literasi untuk kepentingan kemajuan suatu bangsa dan negara tanpa kecuali Indonesia, harus mampu melampaui “6 literasi dasar: baca-tulis, numerik-angka-berhitung, sains-ilmu pengetahuan, teknologi informasi-digital, dan budaya-kewargaan” (Sulhan Yusuf pada “Prolog”-nya dalam buku karya Bahrul Amsal, 2021). Literasi dalam pandangan saya, harus mampu menyelematkan nalar dan mengukuhkan nalar kebangsaan. Literasi dalam konteks Indonesia dan relevansinya dengan “where we are”-nya Rhenald harus mampu menyadarkan anak bangsa tentang peta sosiologis, pijakan filosofis dan ideologis bahkan termasuk pijakan teologis yang ada di dalamnya.

              Tingkat literasi—tanpa kecuali enam literasi dasar—yang rendah dalam diri bangsa Indonesia sehingga kita seringkali mengalami kegagalan membaca peta sosiologis. Kita terkadang buta dan kurang menyadari bahwa pluralitas (kemajemukan) adalah sebuah realitas dan keniscayaan bahkan sebagai suatu takdir Ilahi,

              Kebutaan dan ketidaksadaran tersebut, sehingga seringkali terjadi sikap dan tindakan yang intoleran. Ini salah satu contoh dan kita pahami bersama bahwa, hal ini akan menggerogoti, mereduksi dan mendistorsi sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Jika persatuan Indonesia sulit diwujudkan maka sudah pasti sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sulit pula tercapai. Dan sebaliknya pun ketika tidak ada keadilan maka persatuan pun bagaikan “mimpi di siang bolong”.

              Kita patut pula memahami secara tegas bahwa “Where we are”-nya Rhenald bukan menuntut hasil pembacaan dan jawaban yang bermuara pada terma dan dimensi “geografis”, namun sesungguhnya kita harus memahami dalam dimensi filosofis, ideologis dan teologis, kita berada di mana? Yang patut disadari pula berdasarkan sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”, meskipun Indonesia bukan negara “teokrasi” namun bukan pula negara “sekuler”.

              Indonesia menjadikan fundamen agama dan moralitas sebagai fundamen dasar bagi fundamen kemanusiaan dan politik. Ini bisa dipahami secara historisitas dari fase perumusan Pancasila. Awalnya sila “Ketuhanan” ditempatkan pada sila kelima sebagai posisi penutup, akhirnya digeser, disepakati dan ditetapkan sebagai sila pertama, sebagai posisi pembuka.

              Pancasila sebagai salah satu dan bahkan yang utama, harus mampu menjadi nalar kebangsaan atau secara sederhana sebagaimana telah dijelaskan di atas harus mampu memengaruhi nalar anak bangsa. Apa pun yang kita lakukan, yang dimaknai, dipikirkan, termasuk dalam membangun relasi dan untuk menjadi sesuatu harus mampu mencerminkan nilai-nilai daripada Pancasila.

              Pancasila sebagai dasar negara, sebagai falsafah hidup bangsa, dan sebagai ideologi bangsa dan negara, secara ideologis harus mampu menjadi pedoman yang berisi tuntunan hidup dalam dinamika kehidupan bangsa. Harus mampu menjadi seperangkat alat interpretasi dalam membaca dan memahami realitas yang ada, serta harus berisi pedoman tindakan berdasarkan tuntunan dan hasil pembacaan realitas yang ada.

              Rendahnya literasi anak bangsa, sehingga nalar yang dikedepankan sangat paradoks dan bahkan kontraproduktif dengan nilai-nilai pancasila, genius nusantara lainnnya termasuk agama. Hal ini terjadi karena nalar yang ada tidak relevan dengan nalar kebangsaan, sehingga warga negara Indonesia lebih banyak yang  memiliki sikap berlebihan dan berorientasi pada “the love of power” (cinta kekuasaan) ketimbang “the power of love” (kekuatan cinta). Sebagaimana yang saya pahami dari Yudi Latif, hal ini akan menyulitkan Pancasila dan nilai-nilai Pancasila tumbuh subur di dalamnya.

              Agama pun, yang dalam pandangan saya bagian daripada nalar kebangsaan, juga mengalami krisis literasi. Artinya, kurang dipahami dengan baik apalagi dalam konteks kehidupan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang majemuk dan berasarkan Pancasila. Masih ada upaya menggerogoti sendi-sendi atau nilai Pancasila dengan alasan, spirit, basis filosofis, ideologis dan teologis agama tertentu.

              Bahkan, ada pula yang menilai agama tidak relevan dengan Pancasila dan Negara, tidak bisa ditarik garis relasinya. Agama yang dalam perspektif Ahmad Norma Permata (2020), “merupakan mekanisme institusionalisasi atau jalan untuk membangun kehidupan”, terkesan kurang mampu terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, hal itu minimal tercermin dari tingkat korupsi yang masih tinggi, intoleransi tanpa kecuali dalam intra agama (antar pemeluk agama yang sama).

              Padahal saya, pembaca pun pasti demikian, berharap agar agama yang merupakan (dan memiliki) mekanisme institusionalisasi mampu melakukan transformasi pada diri warga negara Indonesia agar sikap berlebihan dan orientasinya terhadap “the love of power” bisa berubah menjadi “the power of love”. Agar Pancasila dan nilai-nilainya bisa tumbuh subur dalam diri dan jiwa anak bangsa.  

              Literasi dan relevansinya dengan nalar kebangsaan (empat pilar bangsa, genius nusantara dan agama) harus didorong dan digerakkan secara masif dengan memproduksi dan terus mereproduksi narasi-narasi yang berkorelasi positif dengan tujuan ini. Untuk tujuan literasi dan nalar kebangsaan ini, maka kita harus mampu memahami kecenderung kehidupan hari ini, khususnya dalam mendapat informasi dan berinteraksi: media sosial.

              Media sosial sebagai bagian daripada literasi itu sendiri khsusunya literasi digital, harus dijadikan instrumen strategis untuk menjadi ruang konstruksi narasi yang relevan, dengan harapan menjaga nalar kebangsaan. Narasi yang relevan dengan nalar kebangsaan harus mampu mendominasi big data baik yang ada dalam teknologi maupun yang ada dalam diri manusia itu sendiri sebagai subjek, agar dalam proses algoritmik yang terjadi dalam sebuah teknologi digital tanpa kecuali di media sosial termasuk dalam diri manusia sebagai subjek, menghasilkan kebijakan, keputusan, sikap dan tindakan yang relevan dengan hal tersebut.

              Kita harus memiliki visi dan misi, serta komitmen untuk terus menyuarakan, mengampanyekan, “memprovokasi” secara masif gerakan literasi tanpa kecuali literasi yang bermuara pada penjagaan dan penyelamatan nalar kebangsaan anak bangsa. Hal ini akan bermuara pada harapan, kita mampu membaca dan sekaligus menjawab “where we are going to”-nya Rhenald, yang dalam perspektif atau konteks Indonesia berarti kita akan mampu mencapai cita-cita dan tujuan nasional yang telah dirumuskan oleh para founding fathers sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Namun selain ini, tentunya ada muara-muara sungai kecil yang harus terlebih dahulu juga dicapai melalui literasi yang diawali dengan menjaga nalar kebangsaan.

              Agusliadi Masssere, Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah. Komisioner KPU Kabupaten Banteang Periode 2018-2023

              –Read Moremuhammadiyah.or.id

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              PAUD ‘Aisyiyah Tebluru Selenggarakan Parenting HW di Alam Terbuka

              Next Post

              BPSDM UMS Angkat 3 Dosen dan 45 Tendik Jadi Pegawai Tetap, Dukung Visi Besar UMS

              InfoLain

              BeritaMu

              Cetak Green Entrepreneur, UMP Latih Kader Nasyiatul Aisyiyah Bumiayu Produksi Pupuk Organik

              02/05/2026
              BeritaMu

              Borong 3 Piala, SD Muhammadiyah PK Banyudono Dominasi FLS3N Tingkat Kecamatan

              02/05/2026
              BeritaMu

              Memaknai Hari Pendidikan 2026: Implementasi Tujuh Gerakan Anak Indonesia Hebat di Sekolah

              02/05/2026
              Next Post
              BPSDM UMS Angkat 3 Dosen dan 45 Tendik Jadi Pegawai Tetap, Dukung Visi Besar UMS

              BPSDM UMS Angkat 3 Dosen dan 45 Tendik Jadi Pegawai Tetap, Dukung Visi Besar UMS

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                Gebrakan Baru! Nasyiatul Aisyiyah Luncurkan 10 Program Unggulan di Tanwir II

                05/09/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0

                Dua Mahasiswa UAD Raih Silver Medal di Ajang NESCO 2 2026

                02/05/2026

                Dosen Unismuh Kembangkan Pragmatik Islami untuk Perkuat Etika Berbahasa Mahasiswa

                02/05/2026

                Mahasiswa UAD Raih Juara 1 Pilmapres LLDikti V 2026

                02/05/2026

                Hilirisasi Riset Didorong, Umsida Perkuat Kolaborasi dengan DPR RI dan BRIN

                02/05/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (27,946)
                • Hukum Islam (1,416)
                • Kabar PTMA (3,600)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                Dua Mahasiswa UAD Raih Silver Medal di Ajang NESCO 2 2026

                02/05/2026

                Dosen Unismuh Kembangkan Pragmatik Islami untuk Perkuat Etika Berbahasa Mahasiswa

                02/05/2026

                Mahasiswa UAD Raih Juara 1 Pilmapres LLDikti V 2026

                02/05/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In