MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KOTA MEDAN: PROSPEK & TANTANGAN DAKWAH GLOBAL

Oleh: Rafdinal, S.Sos., M.AP
Muktamar Muhammadiyah ke-49 tahun 2027 di Kota Medan bukan sekadar agenda lima tahunan. Ia adalah ujian relevansi sebuah ayat agung yang menjadi ruh persyarikatan. Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Jika risalahnya untuk seluruh alam, maka panggungnya tidak boleh hanya nasional. Muktamar di Tanah Deli, di bibir Selat Malaka, adalah ikhtiar untuk menerjemahkan ayat itu menjadi strategi peradaban.
Medan adalah Etalase Islam Wasathiyah untuk Dunia.
Allah menetapkan posisi umat Islam:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143).
Dunia Islam hari ini butuh pencerahan dengan rujukan Islam wasathiyah yang menjadi saksi, pelaku dalam membangun peradaban yang bermutu tinggi.
Medan adalah etalase itu. Kota multietnis Melayu, Mandailing, Karo, Batak, Nias, Jawa, Bugis, Ambon, Arab Tionghoa, India, dan lain-lain sebagainya hidup rukun. Inilah perwujudan perintah:
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Dari Medan, Muhammadiyah dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Islam Berkemajuan adalah Islam yang mampu mengelola kemajemukan.
Geopolitik Selat Malaka sebagai Mandat Dakwah Ekonomi.
Keluasan risalah ditegaskan lagi:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ
“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia.” (QS. Saba: 28)
“Kaffatan lin-nas” hari ini tidak cukup dengan ceramah. Selat Malaka dilalui 40% perdagangan dunia. Tantangan umat di selat ini adalah ekonomi: boikot sawit Eropa dan kita yang masih menjual CPO mentah.
Maka dakwah global dari Medan harus berupa dakwah ekonomi. Ini adalah terjemahan dari perintah kekuatan:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)
Kekuatan hari ini adalah hilirisasi, logistik halal, dan kemandirian ekonomi umat.
Momentum Menjadi Khairu Ummah.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)
Umat terbaik tidak lahir kebetulan. Muktamar 2027 di tengah jalan Indonesia Emas 2045, dengan modal Kampus IV UMSU Saentis 30 hektare, adalah laboratorium untuk membuktikan “khairu ummah” dalam bentuk nyata: riset, inkubator UMKM, dan teknologi pangan.
Tantangan antara Ayat dan Realita.
Allah mengingatkan dengan keras:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ، كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman ! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)
Inilah tantangan pertama. Bagaimana mau menjadi rahmat bagi alam, jika di tanahnya sendiri masih menjadi penonton di Selat Malaka ? Masih menjual CPO mentah ke Malaysia dan mengirim pekerja migran ke negara tetangga ? Dakwah global akan menjadi dusta jika tidak dimulai dengan kemandirian ekonomi.
Al-Qur’an adalah peringatan global:
وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
“Dan Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.” (QS. Al-Qalam: 52)
Peringatan bagi alam hari ini adalah krisis iklim, disrupsi AI, dan ketimpangan. Jika Muktamar hanya melahirkan dokumen normatif tanpa Fikih Iklim, Fikih AI, dan Fikih Transisi Energi, maka kita gagal menjadi żikrun lil-‘ālamīn.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)
Amanah dakwah global dari Tanah Deli menuntut jejaring ASEAN yang kuat, bukan hanya panggung di Medan. Cabang Istimewa Muhammadiyah harus kuat di Penang, Kuala Lumpur, dan Bangkok dan belahan benua lainnya tanpa kolaborasi Selat Malaka, amanah itu tidak tertunaikan.
Penutup
Pada 1939, Tanah Deli menjadi panggung konsolidasi nasional. Pada 2027, sejarah meminta Tanah Deli menjadi panggung pembuktian QS. Al-Anbiya: 107.
Prospeknya ada pada posisi geopolitik dan model wasathiyah kita. Tantangannya ada pada kejujuran kita.
Jika Muktamar Medan berhasil menjawab itu dengan karya hilirisasi dan gagasan global yang lahir dari Saentis, maka dari Tanah Deli kita tidak hanya membawa tanjak dan ulos, tapi membawa bukti bahwa Islam Berkemajuan benar-benar rahmatan lil ‘alamin.
Penulis: Wakil Ketua PDM Medan, Dosen FISIP UMSU, Aktifis Pemberdayaan Sosial.










