Guyon Renyah, Egaliter, dan cerita bermakna
Oleh : Jufri
Malam ini, setelah mengikuti Pelatihan Diplomasi Islam Berkemajuan hari kedua, saya tidak menyangka mendapatkan kesempatan berbincang cukup lama dengan salah seorang senior Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Imam Darul Qutni.
Bahkan ketika baru saja berjumpa dengan Mas Imam, saya sempat mengatakan, jika saja saya tidak jadi mengikuti pelatihan ini sebagaimana rencana awal, tentulah saya tidak akan pernah semeja dengan salah seorang Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus tokoh nasional ini.
Mas Imam tersenyum ramah. Tidak ada kesan sebagai seorang tokoh yang harus diperlakukan dengan jarak. Kami berbicara sebagaimana kawan yang sudah biasa berjumpa.
Padahal, kalau dipikir-pikir, perjumpaan seperti ini kadang tidak pernah kita rencanakan. Ada keputusan yang kita ambil, lalu ternyata membawa kita kepada pertemuan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Barangkali memang begitulah cara Allah mempertemukan manusia dengan pengalaman dan orang-orang tertentu.
Malam ini kami duduk bersama. Ada Wakil Rektor UMSU Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan Prof. Mas Muhammad Qorib , Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Dr. Faisal Piliang , serta Ketua PDM Binjai Mas Juriadi .
Tidak ada agenda resmi. Tidak ada suasana formal. Kami hanya duduk bersama di meja makan lantai dua UMSU sekedar memenuhi ajakan Mas Qorib sebagaimana biasanya . Ternyata kemudian berjumpa dengan Mas Imam Darulqutni.
Namun Justru dari suasana yang sederhana tanpa rencana itu lahir perbincangan yang renyah, ringan, tetapi banyak maknanya.
Pembicaraan awalnya tentang kesehatan. Maklum, beberapa waktu lalu Mas Imam sempat mengalami sakit dan Alhamdulillah kini sudah pulih. Beliau kemudian bercerita tentang pentingnya menjaga kesehatan, terutama bagi para aktivis yang sering kali terlalu sibuk mengurus orang lain, organisasi dan berbagai urusan umat, tetapi lupa mengurus dirinya sendiri.
Kadang-kadang kita memang begitu.
Kita rajin memikirkan program, rapat, perjalanan, kaderisasi, pekerjaan dan amanah organisasi, tetapi lupa bertanya kepada tubuh sendiri: “Bagaimana kabarmu?”
Mas Qorib kemudian membuat analogi sederhana. Katanya, badan kita ini seperti mobil. Mobil yang terus digunakan tentu membutuhkan service secara berkala agar tetap berfungsi optimal.
Saya kira analogi itu sederhana, tetapi sangat masuk akal. Mobil saja kita rawat, mengganti oli, memeriksa mesin dan melakukan service berkala. Mengapa tubuh yang menjadi kendaraan kita dalam menjalankan begitu banyak amanah justru sering dibiarkan sampai memberi tanda-tanda kerusakan?
Dr. Faisal kemudian bercerita bahwa sekitar tahun 2017 ia pernah mengalami kejadian yang cukup membuat khawatir. Dalam perjalanan, tiba-tiba kakinya terasa lemas dan akhirnya harus menjalani perawatan sekitar satu minggu di Rumah Sakit Imelda karena asam lambungnya naik Medan. Kata Dr. Faisal pada waktu itu terlalu banyak memikirkan dunia ini .
Menariknya, Mas Qorib dan Uda Faisal sama-sama mengakui bahwa mereka tidak terbiasa melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan teratur.
Kami pun tertawa.
Tetapi di balik tawa itu ada pelajaran sederhana: aktivis juga manusia. Jangan sampai terlalu sibuk menjaga amanah organisasi, tetapi lupa menjaga tubuh yang menjadi modal untuk menjalankan amanah tersebut.
Dari kesehatan, pembicaraan kemudian bergerak ke berbagai hal lain. Mulai dari pembangunan kantor Dewan Masjid Indonesia (DMI) sembilan lantai di Jakarta yang melibatkan banyak pihak, pengalaman mas Imam bersama sejumlah tokoh, termasuk pak Jusuf Kalla, sampai cerita tentang beratnya tugas para rektor dan wakil rektor, khususnya yang mengurusi sumber daya manusia dan keuangan.
Di tengah pembicaraan itu saya sempat mencandai dengan menggunakan nama Mas Qorib.
Saya katakan, tugasnya memang berat, tetapi karena namanya sering disebut, mungkin terasa lebih ringan.
Maklum, di lingkungan Muhammadiyah kita sering mendengar penutup pidato atau ceramah dengan kalimat:
“Nasrun minallah wa fathun qarib.”
Pertolongan dari Allah dan kemenangan itu dekat.
Saya tambahkan dengan sedikit canda, “Qorib juga!”
Mas Imam dan Mas Qorib langsung tertawa.
Guyon kecil seperti itu mungkin terasa ringan kalau dilihat sekilas. Tetapi justru dari guyonan sederhana, suasana menjadi cair. Tidak ada jarak antara senior dan junior. Tidak ada sekat antara pimpinan dan kader. Tidak ada suasana seolah-olah sedang berada dalam forum yang harus selalu serius.
Mas Imam kemudian bercerita tentang pengalamannya berinteraksi dengan banyak tokoh Nahdlatul Ulama. Beliau memang dikenal memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh NU. Bahkan ketika Gus Dur menjadi Presiden, mas Imam bercerita bahwa dirinya hampir setiap minggu berada di Istana.
Dari pengalaman itu, beliau menceritakan bagaimana para tokoh NU juga terbiasa bercanda dan guyon dengan renyah. Ada humor, ada tawa, tetapi sering kali di dalamnya terdapat pesan yang serius.
Mas Imam, yang pernah menjadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah dan Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia, kemudian melanjutkan cerita tentang pengalaman bersama para tokoh NU dan Pak Jusuf Kalla.
Mas Qorib kemudian menyimpulkan dengan kalimat yang menarik:
“Ini namanya candaan cerdas dan ilmiah.”
Kami kembali tertawa.
Hampir satu jam kami berbincang di meja makan. Anehnya, waktu terasa begitu cepat berlalu. Tidak ada presentasi, tidak ada slide, tidak ada notulensi, tetapi banyak hal yang justru terasa lebih mudah dipahami.
Saya kemudian berpikir, mungkin inilah salah satu kekuatan tradisi Muhammadiyah yang egaliter.
Egaliter bukan berarti menghilangkan penghormatan kepada senior atau pimpinan. Egaliter justru membuat penghormatan tidak harus selalu dibangun melalui jarak.
Kita bisa duduk bersama. Bisa berbicara santai. Bisa berbeda pengalaman. Bisa saling menggoda. Bisa tertawa bersama. Tetapi tetap ada nilai, adab dan penghormatan.
Dalam komunikasi organisasi, suasana seperti ini sesungguhnya penting. Organisasi tidak hanya hidup melalui struktur, aturan dan rapat. Organisasi juga hidup melalui hubungan antarmanusia.
Kadang sebuah ide lebih mudah lahir dari meja makan daripada ruang rapat. Kadang sebuah nasihat lebih mudah diterima melalui candaan daripada ceramah yang panjang. Kadang hubungan antargenerasi menjadi lebih dekat bukan karena forum resmi, tetapi karena satu meja dan percakapan yang jujur.
Islam berkemajuan pun membutuhkan manusia-manusia yang mampu berkomunikasi dengan suasana yang terbuka, hangat dan tidak berjarak.
Saya teringat bahwa dakwah bukan hanya soal bagaimana menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana membangun hubungan. Diplomasi bukan hanya soal berbicara di forum resmi, tetapi juga bagaimana menghadirkan suasana yang membuat orang nyaman untuk berbicara.
Malam ini saya belajar satu hal sederhana: guyon yang cerdas tidak mengurangi wibawa. Justru kadang ia membuat wibawa terasa lebih manusiawi.
Dan dari meja makan lantai dua UMSU itu, kami bukan hanya berbagi cerita dan tawa. Kami juga sedang merawat silaturahmi, membangun komunikasi lintas generasi, dan menikmati salah satu wajah Muhammadiyah yang egaliter: dekat tanpa kehilangan adab, santai tanpa kehilangan makna.
Mungkin benar, setelah seharian belajar tentang diplomasi Islam berkemajuan, malam ini kami mendapatkan satu pelajaran tambahan yang tidak tertulis di modul:
Diplomasi kadang dimulai dari kemampuan untuk duduk bersama, tertawa bersama, dan berbicara dari hati ke hati. Malam ini terasa lebih bernilai dan bermakna karena pertemuan dengan canda renyah menjadi nutrisi tambahan menjelang istirahat di penginapan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni










