• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Senin, September 21, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu
    Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

    Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

    OSN 2026 Ditutup, Talenta Sains Raih Medali hingga Peluang ke Ajang Internasional

    Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

    Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

    Jangan Hanya Menuntut Dosen Berprestasi, Belajarlah Mengapresiasi

    Sejarah Muhammadiyah Sibolga: Jejak Awal Dakwah Pencerahan di Teluk Tapanuli: Dari Sarekat Islam Hingga Benih Muhammadiyah Sibolga (1916–1930)

    Dakwah dan Seni Saling Memahami

    Trending Tags

    • Kabar PTMA
      Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

      Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

      OSN 2026 Ditutup, Talenta Sains Raih Medali hingga Peluang ke Ajang Internasional

      Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

      Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

      Jangan Hanya Menuntut Dosen Berprestasi, Belajarlah Mengapresiasi

      Sejarah Muhammadiyah Sibolga: Jejak Awal Dakwah Pencerahan di Teluk Tapanuli: Dari Sarekat Islam Hingga Benih Muhammadiyah Sibolga (1916–1930)

      Dakwah dan Seni Saling Memahami

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Lafal Salam Mengakhiri Shalat dan Salam Penutup Khutbah

        Adakah Azan Iqamah untuk Shalat Sendirian?

        Roh Anak Dikorbankan untuk Pesugihan

        SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

        5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

        Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu
          Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

          Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

          OSN 2026 Ditutup, Talenta Sains Raih Medali hingga Peluang ke Ajang Internasional

          Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

          Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

          Jangan Hanya Menuntut Dosen Berprestasi, Belajarlah Mengapresiasi

          Sejarah Muhammadiyah Sibolga: Jejak Awal Dakwah Pencerahan di Teluk Tapanuli: Dari Sarekat Islam Hingga Benih Muhammadiyah Sibolga (1916–1930)

          Dakwah dan Seni Saling Memahami

          Trending Tags

          • Kabar PTMA
            Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

            Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

            OSN 2026 Ditutup, Talenta Sains Raih Medali hingga Peluang ke Ajang Internasional

            Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

            Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

            Jangan Hanya Menuntut Dosen Berprestasi, Belajarlah Mengapresiasi

            Sejarah Muhammadiyah Sibolga: Jejak Awal Dakwah Pencerahan di Teluk Tapanuli: Dari Sarekat Islam Hingga Benih Muhammadiyah Sibolga (1916–1930)

            Dakwah dan Seni Saling Memahami

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Lafal Salam Mengakhiri Shalat dan Salam Penutup Khutbah

              Adakah Azan Iqamah untuk Shalat Sendirian?

              Roh Anak Dikorbankan untuk Pesugihan

              SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

              5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

              Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Jangan Hanya Menuntut Dosen Berprestasi, Belajarlah Mengapresiasi

              admin by admin
              21/09/2026
              in BeritaMu
              0
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              Jangan Hanya Menuntut Dosen Berprestasi, Belajarlah Mengapresiasi

              Oleh: Dr. Rimbawati, ST., MT., IPM – Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Wakil Ketua Forum Komunikasi Dosen Indonesia

              WartaTerkait

              Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

              OSN 2026 Ditutup, Talenta Sains Raih Medali hingga Peluang ke Ajang Internasional

              Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

              Sejarah Muhammadiyah Sibolga: Jejak Awal Dakwah Pencerahan di Teluk Tapanuli: Dari Sarekat Islam Hingga Benih Muhammadiyah Sibolga (1916–1930)

               

              Perguruan tinggi hari ini bergerak di tengah pusaran kompetisi yang amat ketat dan dinamis. Perburuan peringkat antar-kampus, akselerasi reputasi global, hingga pemenuhan standar akreditasi telah menjadi sajian harian di ruang-ruang akademis. Dalam panggung megah kompetisi tersebut, dosen ditempatkan sebagai aktor utama sekaligus pilar penyangga keberlanjutan institusi. Dosen dituntut untuk terus-menerus produktif dalam berbagai lini, mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal bereputasi internasional, memenangkan hibah penelitian kompetitif, melakukan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak nyata, membimbing mahasiswa hingga lulus tepat waktu, meningkatkan kompetensi personal melalui berbagai sertifikasi, serta menjaga nama baik institusi di kancah nasional maupun internasional.

              Semua tuntutan itu, secara rasional dan normatif, adalah hal yang wajar. Dosen memang mengemban tanggung jawab profesional yang terikat erat dalam asas Tridharma Perguruan Tinggi. Jabatan fungsional dan profesi dosen membawa konsekuensi moral, intelektual, serta administratif untuk terus berkarya. Namun, di tengah gemuruh penetapan target kinerja harian dan tekanan Indikator Kinerja Utama (IKU), ada satu pertanyaan fundamental yang sering terlupakan dan terkubur di bawah tumpukan berkas evaluasi, ketika dosen berhasil mencapai standar setinggi itu, apakah pimpinan perguruan tinggi tahu dan mau belajar bagaimana cara menghargainya?

              Jangan sampai institusi pendidikan tinggi terjebak menjadi organisasi yang pandai menuntut, tetapi miskin apresiasi. Sebab, di balik satu lembar publikasi ilmiah yang terbit di jurnal bereputasi, ada ribuan jam kerja yang mengorbankan waktu istirahat dan momen berharga bersama keluarga. Di balik satu proposal hibah yang lolos pendanaan, ada draf panjang yang berkali-kali ditolak, dibongkar, dan direvisi hingga larut malam. Di balik keberhasilan seorang mahasiswa meraih gelar sarjana atau memenangi kompetisi, ada proses bimbingan yang panjang, sabar, dan menyita energi emosional. Serta di balik kilau nama baik perguruan tinggi, terdapat deretan dosen yang bekerja dalam senyap, jauh dari sorot kamera, ruang seremoni, dan panggung penghargaan.

              Beban Kinerja dan Fantasi Kampus Modern

              Dinamika pendidikan tinggi modern belakangan ini kerap menggeser orientasi akademis menuju industrialisasi pengetahuan yang begitu mekanistik. Perguruan tinggi bertransformasi menyerupai korporasi komersial, tempat keluaran (output) kuantitatif disembah sebagai indikator tunggal keberhasilan. Setiap awal semester atau tahun ajaran, dosen disuguhi lembar kontrak kinerja yang sarat dengan deretan angka dan target kuantitatif, jumlah publikasi terindeks Scopus atau SINTA, perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), besaran dana hibah yang didapat, hingga rasio efisiensi waktu bimbingan mahasiswa.

              Sistem penilaian komersial ini menciptakan tekanan sistemik yang luar biasa. Dosen dituntut untuk tidak hanya menjadi seorang pendidik dan ilmuwan yang kontemplatif, tetapi juga seorang manajer proyek, penggalang dana riset, administrator dokumen, hingga pembuat konten publikasi. Ruang untuk merenung, mendalami keilmuan secara mendalam, serta berdiskusi secara jernih di ruang kelas perlahan-lahan tergerus oleh kejaran tenggat waktu administratif yang tiada henti. Dosen dipaksa berlari dalam roda putar (hamster wheel) indikator kinerja yang diciptakan oleh sistem kepemimpinan kampus.

              Padahal, prestasi yang diraih dosen bukanlah pencapaian pribadi yang berdiri sendiri di ruang hampa. Ketika seorang dosen berhasil memenangkan hibah penelitian bergengsi, menerbitkan karya ilmiah di penerbit berstandar internasional, menjadi pembicara kunci di forum global, atau menghasilkan inovasi terapan yang menyelesaikan masalah masyarakat, nama institusi tempatnya bernaung secara otomatis ikut bersinar ilmiah. Peringkat kampus melesat naik, nilai akreditasi institusi melonjak, daya saing universitas menguat, dan kepercayaan publik terhadap kampus tersebut meningkat drastis. Dosen adalah aset paling berharga yang mengalirkan reputasi bagi perguruan tinggi.

              Maka dari itu, sangatlah wajar dan sudah sepantasnya jika institusi memberikan balik sebuah bentuk apresiasi yang sepadan dan bermakna. Sayangnya, realitas di lapangan kerap memperlihatkan potret yang kontras dan ironis. Dalam sebagian struktur manajemen perguruan tinggi, capaian luar biasa yang diraih oleh dosen sering direspons secara dingin, hambar, dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah belaka. Ada paradigma implisit yang kurang sehat dalam pola kepemimpinan kampus, ketika dosen berhasil mencapai target tinggi, pimpinan menganggap hal itu sekadar kewajiban mendasar yang memang sudah seharusnya dikerjakan tanpa perlu dirayakan. Namun, ketika dosen belum berhasil mencapai target karena hambatan ekosistem riset yang tidak mendukung, institusi dengan sangat cepat datang untuk menagih, mengevaluasi, dan memberikan teguran. Lebih memprihatinkan lagi, ketika seorang dosen baru saja berhasil mencapai prestasi besar, alih-alih diberikan jeda untuk bernapas atau diapresiasi, ia langsung dihujani dengan porsi target baru yang jauh lebih berat dan menekan.

              Pada titik inilah muncul sebuah ironi besar dalam dunia akademik,  dosen dituntut bekerja spartan menyerupai mesin otomatis, tetapi diperlakukan seolah-olah mereka tidak memiliki kebutuhan emosional dan psikologis untuk dihargai. Padahal, perguruan tinggi sejatinya bukanlah pabrik manufaktur yang memproduksi barang mati berbasis target unit harian. Dosen bukanlah sekadar angka statistik dalam laporan kinerja tahunan rektor, bukan sekadar jumlah dokumen untuk memenuhi borang akreditasi, dan bukan sekadar nama pelengkap dalam proposal hibah demi mencairkan anggaran. Dosen adalah manusia utuh yang memiliki batas stamina, dinamika emosional, serta kebutuhan dasar akan pengakuan atas dedikasi yang telah mereka curahkan.

              Ketika manusia diperlakukan seperti mesin dalam waktu yang lama, dampak fatalnya adalah munculnya alienasi akademik. Dosen mulai merasa asing dengan profesinya sendiri. Hubungan antara dosen dan kampus yang seharusnya didasari oleh ikatan nilai luhur serta pencarian kebenaran ilmiat, berubah menjadi relasi transaksi yang kaku dan dingin. Dosen datang ke kampus sekadar untuk menggugurkan kewajiban administratif, mengajar tanpa jiwa, dan meneliti hanya demi memenuhi kuota angka, bukan lagi karena dorongan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

              Esensi Pemimpin dan Seni Menghargai Manusia

              Kepemimpinan di tingkat perguruan tinggi mulai dari rektor, wakil rektor, dekan, hingga ketua program studi tidak boleh berhenti pada kapasitas manajerial teknis yang hanya mahir menyusun daftar target dan membagi beban kerja secara matematis. Kepemimpinan perguruan tinggi yang sejati harus memiliki dimensi humanis yang kuat, yang berfokus pada seni mengelola dan menghargai manusia. Pimpinan yang baik dan bernilai tinggi bukanlah mereka yang hanya tajam, kritis, dan cepat dalam menemukan kekurangan atau kegagalan bawahannya. Pimpinan yang hebat adalah mereka yang memiliki mata yang cukup awas dan hati yang cukup lapang untuk melihat, mengakui, serta merayakan setiap keberhasilan, sekecil apa pun itu, yang telah diraih oleh timnya.

              Dalam konteks relasi kepemimpinan kampus modern, pimpinan harus mulai berani mengubah orientasi komunikasinya secara mendasar. Pimpinan tidak boleh terus-menerus tampil dengan postur menuntut dan bertanya, “Apa lagi yang bisa diberikan oleh dosen kepada institusi ini?” atau “Mengapa angka publikasi semester ini belum mencapai target yang ditetapkan?” Sesekali, luangkan waktu untuk duduk sejenak, mengesampingkan ego jabatan, dan bertanyalah dengan jujur pada diri sendiri, “Apa yang sudah diberikan oleh institusi ini kepada para dosen sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan, waktu, dan kontribusi yang telah mereka berikan selama ini?”

              Pertanyaan reflektif ini memegang peranan yang sangat krusial dalam keberlanjutan ekosistem akademik. Hal ini disebabkan karena loyalitas, dedikasi, dan komitmen yang tinggi tidak pernah bisa dipaksa lahir dari lembaran Surat Keputusan (SK), regulasi internal yang kaku, atau ancaman sanksi administratif. Loyalitas yang sejati hanya tumbuh dan berakar dari rasa dihargai (feeling appreciated) serta rasa memiliki (sense of belonging). Seorang dosen yang merasa keberadaannya diakui, usahanya dihormati, dan kinerjanya diapresiasi oleh pimpinan akan secara alamiah memiliki energi positif yang melimpah untuk terus berkontribusi melampaui ekspektasi dasar.

              Sebaliknya, ketika kerja keras dan prestasi yang diraih dosen secara konsisten hanya dianggap sebagai rutinitas kewajiban biasa, sementara kata apresiasi menjadi barang langka yang amat mahal, maka semangat untuk memberikan yang terbaik perlahan-lahan akan terkikis habis. Dosen yang tadinya penuh dengan idealisme, dorongan riset yang tinggi, dan semangat mengabdi, lambat laun dapat mengalami keletihan mental (burnout) yang parah. Mereka berisiko bergeser menjadi pekerja administratif yang pasif bekerja secukupnya hanya untuk menghindari teguran, tanpa lagi memiliki dorongan internal untuk mengejar keunggulan (excellence). Lingkungan yang miskin apresiasi adalah tempat paling subur bagi bertumbuhnya kebiasaan serba formalitas dan keengganan untuk berinovasi.

              Memahami pentingnya apresiasi juga berarti memahami bahwa bentuk penghargaan tersebut tidak selalu harus diukur dengan nominal uang atau insentif finansial yang besar. Walaupun dukungan dana dan insentif materiil tentu sangat membantu kehidupan dosen, bentuk apresiasi non-materi kerap kali memiliki dampak emosional yang jauh lebih mendalam, bermakna, dan bertahan lama dalam memori seorang akademisi.

              Bentuk-bentuk apresiasi sederhana namun berdampak besar yang dapat dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi antara lain:

              1. Pengakuan Publik yang Tulus: Ucapan selamat dan apresiasi resmi dari pimpinan di depan forum senat, rapat fakultas, atau wisuda kampus saat seorang dosen berhasil meraih capaian tertentu.
              2. Publikasi Profil dan Karya: Mengangkat profil, hasil riset, atau kisah perjuangan dosen di media resmi universitas, jurnal internal, maupun media massa untuk memperkenalkan dampaknya kepada masyarakat luas.
              3. Pemberian Surat Penghargaan Formal: Dokumen apresiasi tertulis yang diarsip secara resmi dan memiliki bobot moral dalam rekam jejak karier sang dosen.
              4. Penyediaan Ruang Disseminasi: Memberikan panggung dan fasilitas bagi dosen untuk mempresentasikan hasil temuan atau gagasan inovatifnya di hadapan kolega dan mahasiswa.
              5. Komunikasi Personal yang Menghangatkan: Kalimat sederhana namun tulus dari pimpinan seperti, “Terima kasih banyak atas dedikasi dan kerja keras Bapak/Ibu minggu ini,” yang disampaikan secara langsung atau melalui pesan personal.

              Tindakan-tindakan kecil tersebut sering kali menjadi bahan bakar moral yang luar biasa bagi seorang dosen yang sedang lelah di tengah tumpukan tugas pemeriksaan, revisi artikel yang tak kunjung usai, dan bimbingan mahasiswa. Rasionalitas manusia membutuhkan pemenuhan materi, tetapi jiwa manusia membutuhkan pengakuan dan penghormatan.

              Membangun Ekosistem Akademik yang Humanis

              Tentu saja, narasi ini sama sekali tidak berniat untuk mendorong dosen menjadi pribadi yang manja, rapuh, atau hanya mau bekerja jika dipuji dan dielu-elukan. Dosen tidak boleh dan tidak boleh dibiarkan bekerja semata-mata demi mengejar pujian, tepuk tangan, atau pengakuan superfisial. Profesionalisme, integritas ilmiah, kejujuran akademis, serta keikhlasan dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap langkah kaki seorang akademisi. Namun, menekankan nilai profesionalisme sama sekali tidak berarti bahwa kita harus mengeliminasi sisi-sisi kemanusiaan dari lingkungan kampus.

              Profesionalisme dan apresiasi kemanusiaan adalah dua pilar yang saling melengkapi dan saling menguatkan, bukan dua hal yang saling meniadakan. Dosen sangat boleh dituntut untuk produktif dan kompetitif di kancah global, tetapi mereka tidak boleh dipaksa untuk bertransformasi menjadi manusia tanpa rasa yang abai terhadap rasa lelah fisik maupun emosional. Dosen boleh dan memang harus dievaluasi secara berkala demi menjaga mutu pendidikan, tetapi proses evaluasi tersebut jangan sampai berubah menjadi ajang eksekusi untuk sekadar mencari-cari kesalahan dan kekurangan. Dosen sangat berhak untuk diberikan target-target yang menantang demi kemajuan institusi, tetapi pimpinan tidak boleh lupa untuk merayakan keberhasilan tersebut secara bersama-sama ketika target yang ditetapkan berhasil dicapai.

              Membangun sebuah perguruan tinggi yang unggul, berkelas dunia, dan disegani tidak akan pernah cukup jika hanya dilakukan dengan cara mencetak target indikator kinerja setinggi langit di atas kertas rapat. Kampus yang benar-benar unggul dan berkelanjutan dibangun di atas fondasi budaya organisasi yang sehat sebuah budaya yang mampu menghormati, menjaga, memelihara, dan menghargai manusia-manusia yang bekerja keras setiap hari untuk mencapai target-target tersebut. Tanpa adanya budaya apresiasi yang kuat, target-target megah yang dicanangkan pimpinan hanya akan menjadi beban artifisial yang merusak kesehatan mental dan memecah belah ekosistem akademik dari dalam.

              Oleh karena itu, sudah saatnya para pimpinan di seluruh jajaran perguruan tinggi mulai dari tingkat departemen hingga rektorat berani mengambil langkah nyata untuk membangun budaya apresiasi secara terstruktur dan berkelanjutan. Perubahan budaya ini harus diwujudkan dalam langkah-langkah konkrit:

              1. Jangan menunggu dosen mendapatkan penghargaan tingkat nasional atau internasional terlebih dahulu untuk kemudian kampus baru merasa bangga. Capaian-capaian di tingkat lokal, publikasi jurnal yang dilakukan secara bertahap, atau dedikasi yang tinggi dalam membimbing mahasiswa yang hampir putus asa adalah bentuk prestasi nyata yang membutuhkan energi luar biasa dan layak mendapat pengakuan sejak dini.
              2. Jangan menunggu seorang dosen potensial mengajukan pengunduran diri atau pindah ke institusi lain yang lebih menghargai mereka, untuk kemudian institusi baru menyadari betapa besarnya kontribusi yang telah ia berikan. Penyesalan di akhir tidak akan pernah mampu mengembalikan talenta-talenta terbaik yang memilih pergi karena merasa keberadaan dan kerja kerasnya tidak pernah dianggap ada oleh pimpinannya.
              3. Jangan menunggu seseorang pergi, pensiun, atau berpulang baru institusi sibuk membuatkan pidato perpisahan manis yang menguraikan betapa ia pernah sangat berjasa bagi kampus.

              Ungkapkan rasa hormat dan berikan penghargaan terbaik itu sekarang saat dosen tersebut masih berada di sini, masih berdiri mengajar di depan kelas, masih menguji di ruang sidang skripsi, masih meneliti di laboratorium, dan masih bersedia mengalokasikan waktu serta pikirannya demi kemajuan institusi ini.

              Sebab, di balik setiap satu artikel ilmiah yang terbit di jurnal bereputasi, ada perjuangan panjang melawan rasa lelah dan kejenuhan. Di balik setiap satu proposal hibah yang berhasil didanai, ada pengorbanan waktu, energi, dan pikiran yang tak terhitung harganya. Dan di balik setiap capaian megah yang dipamerkan oleh institusi di spanduk promosi maupun media sosial kampus, ada manusia-manusia bernyawa yang mencurahkan keringat dan dedikasinya untuk mewujudkannya.  Maka, pesan moral bagi seluruh pengelola, manajer, dan pimpinan perguruan tinggi sangatlah tegas dan jelas, “Jangan hanya pandai menuntut dosen untuk terus berprestasi, belajarlah mengapresiasi”.

              Sebab pada akhirnya, dosen itu ditakdirkan sebagai manusia, bukan malaikat.

              Sebagai manusia biasa, dosen tentu memiliki keterbatasan fisik dan mental bisa merasa sangat lelah setelah berminggu-minggu mengejar batas waktu pengisian nilai dan laporan riset, bisa merasa kecewa ketika kerja kerasnya diabaikan begitu saja oleh atasan, dan bisa kehilangan semangat ketika usahanya dianggap sebagai angin lalu yang tak bernilai. Namun, sebagai manusia pula, seorang dosen mampu memberikan dedikasi yang melampaui batas kewajiban, melahirkan karya-karya monumental yang mencerahkan kehidupan bangsa, dan mencurahkan seluruh potensi terbaiknya ketika ia berada di lingkungan yang memanusiakannya: lingkungan yang memberinya kepercayaan, rasa hormat, dan apresiasi yang tulus dari lubuk hati. (***)

               

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              Sejarah Muhammadiyah Sibolga: Jejak Awal Dakwah Pencerahan di Teluk Tapanuli: Dari Sarekat Islam Hingga Benih Muhammadiyah Sibolga (1916–1930)

              Next Post

              Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

              admin

              admin

              InfoLain

              Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta
              BeritaMu

              Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

              21/09/2026
              BeritaMu

              OSN 2026 Ditutup, Talenta Sains Raih Medali hingga Peluang ke Ajang Internasional

              21/09/2026
              Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif
              BeritaMu

              Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

              21/09/2026
              Next Post
              Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

              Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Enam Hari di Sumut akibat IOD Negatif

                26/11/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0
                Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

                Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

                21/09/2026

                OSN 2026 Ditutup, Talenta Sains Raih Medali hingga Peluang ke Ajang Internasional

                21/09/2026
                Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

                Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

                21/09/2026

                Jangan Hanya Menuntut Dosen Berprestasi, Belajarlah Mengapresiasi

                21/09/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (29,521)
                • Hukum Islam (1,633)
                • Kabar PTMA (4,230)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

                Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta

                21/09/2026

                OSN 2026 Ditutup, Talenta Sains Raih Medali hingga Peluang ke Ajang Internasional

                21/09/2026
                Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

                Migrasi e-KTAM di Sumut Capai 4.878 Orang, Didominasi Guru dan Usia Produktif

                21/09/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In