Sejarah Muhammadiyah Sibolga : Jejak Awal Dakwah Pencerahan di Teluk Tapanuli: Dari Sarekat Islam Hingga Benih Muhammadiyah Sibolga (1916–1930)
(Bagian Pertama)
Oleh: Agus Fadli
Kota Sibolga di pesisir barat Sumatera Utara bukan sekadar kota pelabuhan tua berlatar Teluk Tapanuli yang indah. Pada awal abad ke-20, kota yang pernah menjadi pusat Keresidenan Tapanuli ini merupakan gelanggang perjumpaan beragam etnis, budaya, serta pemikiran Islam pergerakan.
Jauh sebelum Muhammadiyah resmi berdiri di tanah Pesisir ini, geliat kesadaran bersatu umat Islam di Sibolga diawali oleh hadirnya pergerakan Sarekat Islam (SI). Berdasarkan catatan arsip kolonial Belanda dalam surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 12 Oktober 1916, Sarekat Islam Sibolga bahkan harus mendirikan cabang baru akibat melonjaknya antusiasme warga bumiputera yang mendaftar.
Namun, dinamika pergerakan SI yang kerap berbenturan langsung dengan otoritas Hindia Belanda terkait aksi penolakan kerja rodi dan konflik sosial lokal, membuat aktivitasnya perlahan meredup pada awal dekade 1920-an. Ketiadaan wadah pergerakan yang fokus pada pembinaan akidah, keilmuan, dan sosial sempat menyisakan ruang kosong bagi pembaharuan dakwah Islam di Sibolga.
Titik terang pembaharuan itu mulai bersemi pada tahun 1925. Seorang pendidik asal Minangkabau bernama Guru Kasim tiba di Sibolga untuk mengajar dan membawa gagasan-gagasan tajdid. Di saat yang hampir bersamaan, putra daerah Tapanuli Tengah, A.H.A. Mun’in (ayahanda almarhum Jenderal Feisal Tanjung), baru saja menyelesaikan studinya di Tanjungbalai, Asahan.
Pertemuan visi keislaman antara Guru Kasim dan A.H.A. Mun’in menjadi pemantik utama lahirnya konsolidasi kader. Kedua tokoh pendidik ini bergerak merangkul jajaran intelektual Muslim lokal lainnya, seperti Marah Kamin, Gudang Sitompul, M. Shaleh Thaib, Muhammad Panggabean, dan M. Thaib Simamora.
Gema keberhasilan Kongres Muhammadiyah ke-30 di Bukittinggi pada 14–26 Maret 1930—yang merupakan sejarah kongres Muhammadiyah pertama di luar Pulau Jawa—menjadi pendorong utama bagi para tokoh di Sibolga. Kabar suksesnya kongres tersebut memberi angin segar bagi gerakan Islam tajdid di Tapanuli.
Hingga akhirnya, tepat pada 20 Agustus 1930, bertempat di Sibolga, para pelopor pergerakan secara bulat menyepakati berdirinya organisasi Muhammadiyah Cabang Sibolga. Momentum ini menandai babak baru hadirnya gerakan Islam berkemajuan yang secara konsisten membina masyarakat melalui jalur pendidikan, pelayanan sosial, dan pemurnian tauhid tanpa konfrontasi politik yang merusak. (bersambung)








