Peserta Hayyan Assamawi: Tempuh Ratusan Kilometer Naik Motor dari Aceh Demi PKTW Muhammadiyah Sumut
INFOMU.CO | Medan – Kehadiran peserta dari luar provinsi memberikan “kesan” tersendiri sekaligus cerita perjuangan yang mengharukan pada Pelatihan Kader Tarjih Tingkat Wilayah (PKTW) yang digelar oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MTT PWM) Sumatera Utara di BPMP Sumut, Medan (3–5 Juli 2026).
Adalah Hayyan Assamawi, satu-satunya utusan khusus dari MTT PWM Aceh yang mencuri perhatian panitia dan peserta. Langkahnya menuju ruang pelatihan tidaklah mudah. Hayyan mengaku baru mendapatkan informasi mengenai agenda PKTW ini secara mendadak, saru hari sebelum hari H pelaksanaan acara. Namun, keterlambatan informasi tidak menyurutkan langkahnya.
Didorong oleh rasa haus akan ilmu dan tanggung jawab ideologis, ia membulatkan tekad untuk tetap berangkat ke Kota Medan saat itu juga. Tanpa memikirkan lelah, Hayyan menempuh perjalanan antar-provinsi yang memakan waktu belasan jam dengan mengendarai sepeda motor demi bisa mengejar ketertinggalan materi pelatihan. Perjalanannya ditempuh dari Banda Aceh ke Lhokseumawe hingga menuju Medan lokasi PKTW dengan total jarak tempuh 600 KM (Pergi).
“Kami mengucapkan Jazakumullah khair atas undangan PKTW yang ditujukan kepada kami. Meskipun infonya baru didapat pada hari H, saya paksakan diri untuk hadir. Alhamdulillah, perjuangan di atas sepeda motor terbayar lunas. PKTW yang dilaksanakan MTT PWM Sumut ini memberikan gambaran nyata kepada kami tentang bagaimana melakukan manajemen pelatihan kader Tarjih yang terorganisir dengan sangat baik,” ungkap Hayyan penuh syukur.
Merasakan Ruh Bermuhammadiyah yang Sesungguhnya
Bagi Hayyan, atmosfer ilmiah dan spiritual yang dibangun selama tiga hari di lokasi pelatihan terasa sangat berbeda, istimewa, dan membakar semangat.
“Di PKTW ini saya merasakan suasana yang berbeda. Berkumpul para kader harapan Muhammadiyah masa depan—bukan hanya sekedar kader ideologi, tetapi mereka adalah kader yang membawa ruhnya Muhammadiyah. Di sini benar-benar menjadi ruang bertemunya para intelektual, akademisi, dan ulama,” tuturnya.
Ia menilai, model pengkaderan intensif seperti ini sangat krusial bagi para asatidz, akademisi, bahkan seluruh pakar di bidangnya masing-masing. Tujuannya agar integrasi ilmu yang dimiliki oleh para kader tetap memiliki Ruh Tajdid (semangat pembaruan) yang kokoh.
Selama mengikuti rangkaian acara, Hayyan merasa disadarkan kembali mengenai banyaknya dinamika ibadah maupun muamalah kontemporer di tengah masyarakat yang membutuhkan solusi kepastian hukum yang maslahat.
“Program pengkaderan ini berhasil ‘mengecas’ kembali ingatan kita untuk mentarjih dan bertajdid untuk setiap permasalahan dengan mengutamakan kemaslahatan umat. Saya berharap, setiap kader pasca-pelatihan ini dapat terus mempelajari Tarjih Muhammadiyah, baik melalui kitab Himpunan Putusan Tarjih (HPT) maupun pengkaderan formal, guna menghidupkan kembali Ruh Bermuhammadiyah. (faisal)




