Menggerakkan Potensi Kekuatan Umat Melalui Energi Iman, Hijrah dan Jihad Meraih Kemenangan Berdasarkan Alquran dan al-Hadis
Oleh : Dr. Sulidar, M.Ag – Dosen Ilmu Hadis FUSI Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan dan UMSU
Pendahuluan
Alquran sebagai way of life umat manusia umum nya dan umat Islam khususnya, mestinya benar-benar menjadi pandauan hidupnya di dunia dan di akhirat. Da lam Alquran telah diberikan panduan bagiaman untuk menjadi golongan pemenang, tidak saja di dunia ini bah kan sampai akirat. Oleh karenanya sebagai umat Islam ma ri sadari diri bahwa umat Islam saat ini terus terpinggirkan, terpojokkan bahwa selalu menjadi umat yang kalah dalam semua bidang. Mari kita rujuk Alquran dan as-Sunnah jika kita ingin benar-benar menjadi uymat pemenang.
Pengertian Menggerakkan Potensi Kekuatan Umat
Menggerakkan Potensi Kekuatan Umat adalah pro ses membangkitkan, mengembangkan, dan mengoptimal kan seluruh sumber daya yang dimiliki umat-baik spiri tual, intelektual, sosial, ekonomi, maupun organisasi-agar menjadi kekuatan nyata yang mampu mewujudkan kema juan, kemandirian, persatuan, dan kemaslahatan bersama sesuai tuntunan Alquran dan al-Hadis.
Tujuan Menggerakkan Potensi Kekuatan Umat
- Meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
- Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Membangun kemandirian ekonomi serta memberdaya kan ekonomi umat melalui usaha produktif dan juga politik umat.
- Mengoptimalkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
- Memperkuat persatuan dan ukhuwah Islamiyah.
- Meningkatkan kualitas pendidikan dan ilmu pengetahuan.
- Memperkuat jaringan organisasi dan kepemimpinan umat sehingga lahir pemimpin yang terpercaya.
- Menumbuhkan budaya ilmu, kerja keras, dan gotong royong untuk kepentingan kemaslahatan umat.
- Mewujudkan kemaslahatan dan peradaban yang berkeadilan.
Petunjuk Alquran tentang Pemenang
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (20)
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. at-Taubah/9: 20).
Dalam ayat di atas dengan tegas Allah swt memberi kan panduan bahwa jika ingin mendapat derjat yang tinggi di sisi Allah dan menjadi golongan pemenang, maka harus memenuhi 3 syarat, yaitu
- Beriman
- Berhijrah (pro perubahan yang positif)
- Berjihad
- Iman yang mantap
Dalam Alquran disebutkan kata iman dengan berbagai derivasinya ada 877 kali dan al-Hadis, cukup banyak disebutkan bahwa landasan dalam beramal salih dan beribadah adalah mesti memiliki iman yang mantap. Iman, sebagai syarat ibadah tidak bisa ditawar-tawar dalam ajaran Islam. Dengan adanya iman ini pula seseorang bisa masuk surga. Untuk mengetahui bagai mana kriteria iman yang mantap (iman yang sebenar-benarnya), perhatikan Q.S. al-Anfal/8:2,3 dan 4 :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah me reka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.
Di antara dalil syarat untuk meraih kehidupan yang baik, adalah iman dan amal salih, perhatikan Q.S.an-Nahl/16:97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97)
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Ayat di atas memberikan gambaran bagaimana meraih kehidupan yang baik, mesti memiliki iman dan amal salih, dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Amal salih wajib didasarkan pada iman jika amal salihnya mau berguna baik di dunia maupun akhirat. Jika tidak didasarkan iman, maka amal salih mendapat ganjaran, tetapi hanya di dunia ini saja.
Selanjutnya setan tidak berkuasa kepada mereka yang memiliki iman yang mantap dan bertawakkal hanya kepada Allah swt, perhatikan ayat berikut ini:
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (99) إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ (100)
Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanya lah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemim pin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. Q.S.an-Nahl/16: 99-100.
Ayat di atas (Q.S.an-Nahl/16: 99-100), memberi kan pelajaran bagi umat Islam, bahwa setan jika memi liki kemampuan untuk menggoda mereka yang memi liki iman yang mantap serta bertawakal kepada Allah. Namun, setan akan leluasa menggoda manusia, jika manusia itu mengambil setan dan orang-orang musy rik sebagai pemimpin dalam kehidupannya.
2. Berhijrah
Menelusuri Alquran, kata hijrah dengan segala bentuk derivasiya, digunakan sebanyak 31 kali.
Secara khusus hijrah yang dilakukan Rasulullah saw. bersama para sahabatnya dari kota Makkah menuju Madinah. Ini berdasarkan sabda Rasul saw’.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْصُورٌ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا.
Telah bercerita kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah ber cerita kepada kami Yahya bin Sa’id telah bercerita kepada kami Sufyan berkata telah bercerita kepadaku Manshur dari Mujahid dari Thowus dari Ibnu ‘Abbas ra. berkata; Rasul bersabda:”Tidak ada lagi hijrah setelah kemenangan (al-Fath Makkah) akan tetapi yang te tap ada adalah jihad dan niat. Maka jika kalian diperin tahkan berangkat berjihad, berang katlah”. H.R.al-Bukhari. No. 2575.
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ أَخْبَرَنَا عِيسَى عَنْ حَرِيزِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَوْفٍ عَنْ أَبِي هِنْدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاتَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا.
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Ar Razi, telah mengabarkan kepada kami Isa dari Hariz bin Usman dari Abdurrahman bin Abu ‘Auf dari Abu Hindun, dari Mu’awiyah, ia berkata; saya mendengar Rasul saw. bersabda: “Tidaklah hijrah terputus hingga taubat terputus, dan tidaklah taubat terputus hingga matahari terbit dari barat.”H.R. Abu Dawud.No. 2120.
Sepintas, jika ditelaah kedua sabda Rasul saw di atas tampak bertentangan. Namun, kedua sabda Rasul saw tersebut dapat dipahami secara bersama tanpa ada bertenta ngan. Jika dikatakan,“Tidak ada hijrah lagi hijrah setelah kemenangan (al-Fath Makkah)”, maksudnya adalah hijrah dari Makkah ke Madinah secara fisik. Adapun perkataan: “Tidaklah hijrah terputus hingga taubat terputus”, maksud nya adalah hijrahnya kaum Muslimin dari darrul kufri menuju Darul Islam, untuk menyelamatkan agama mere ka, yakni Al-Islam. Hijrah terputus bila hari kiamat tiba. Pada saat sekarang hingga hari kiamat jihad tetap ada, tetntu dengan disertai niat yang ikhlas untuk menegakkan kalimatullah, Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Pada konteks kekinian, hijrah adalah berubah dari yang kurang baik kepada yang lebih baik, dan yang lebih baik kepada yang terbaik. Intinya kita pro perubahan segala yang mengandung kebaikan dan kemaslahatan, demi meraih ridah Allah swt.
3. Berjihad Jihad
Jihad boleh jadi diartikan perang namun konteksnya sudah berbeda, perang dalam hal ini bisa bermakna meme rangi kebodohan, penyakit, kemiski nan, ketertinggalan, ke zaliman para penguasa/ peme rintah, ketidakadilan dan se bagainya.Dapat disimpulkan bahwa jihad adalah usaha yang sungguh-sungguh, atau semaksimal mungkin untuk menja lankan atau melaksanakan ketetapan Allah dan Ra sul-Nya demi mengharap rida-Nya.Jihad mestinya dilaku kan pada setiap saat, misalnya, jihad dalam bidang politik, ekono mi, pendidikan, kesehatan, sosial dan budaya, agar kualitas kehidupan umat Islam akan terpelihara, yang pada akhir nya mewujudkan kemanjuan, kejayaan, keharmoni san ke sejahteraan, dan kebahagiaan, baik di dunia mau pun di akhirat.
Jihad dalam Alquran
Kata jihad dalam berbagai derivasinya disebutkan dalam Alquran sebanyak 41 kali, sebagian besarnya berar ti perang. Apabila kata jihad dalam Alquran itu dimak sudkan perang biasanya kata itu diikuti deng an ungkapan fi sabilillah, sehingga menjadi jihad fi sa bilillah (perang di jalan Allah).
وَجَاهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ…
Berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (al-Hajj/22: 78).
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللهِ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (218)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman,orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengam pun lagi Maha Penyayang. Q.S.al-Baqarah/2:218.
Jihad dalam al-Hadis
Jihad paling utama dengan jiwa dan hartanya
أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ قَالُواثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ.
Bahwa Abu Sa’id Al-Khudriy ra. bercerita kepadanya, katanya:”Ditanyakan kepada Rasulullah, siapakah manu sia yang paling utama?” Maka Rasul saw. bersabda: “Seo rang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya”.Mereka bertanya lagi:”Kemudian siapa la gi?” Beliau menjawab:”Seorang mukmin yang tinggal dian tara bukit dari suatu pegunungan dengan bertaqwa kepada Allah dan meninggalkan manusia dari keburukannya”. H.R.al-Bukhari. No. 2578.
Implementasi jihad dalam Alquran dan as-Sunnah
- Jihad berperang di jalan Allah
أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَاللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ وَتَوَكَّلَ اللهُ لِلْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِهِ بِأَنْ يَتَوَفَّاهُ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرْجِعَهُ سَالِمًا مَعَ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ.
Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az-Zuhriy berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Al-Musayyab bahwa Abu Hurairah ra. berkata; Aku mendengar Rasul saw. bersab da:”Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan hanya Allah yang paling tahu siapa yang berji had di jalan-Nya, seperti seorang yang melaksanakan pua sa (shaum) dan berdiri (salat) terus menerus.H.R.al-Bu khari.No.2579.
- Jihad menjalankan ibadah kepada Allah
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَلا نَغْزُو وَنُجَاهِدُ مَعَكُمْ فَقَالَ لَكِنَّ أَحْسَنَ الْجِهَادِ وَأَجْمَلَهُ الْحَجُّ حَجٌّ مَبْرُورٌ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَلا أَدَعُ الْحَجَّ بَعْدَ إِذْ سَمِعْتُ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin ra. berkata: “Wahai Rasul, apakah kami tidak boleh ikut berperang dan berjihad ber sama kalian?”Maka Beliau menjawab:”Akan tetapi (buat kalian) jihad yang paling baik dan paling sempurna adalah haji, yaitu haji mabrur”.Maka ‘Aisyah ra. Berkata; “Maka aku tidak pernah meninggalkan haji sejak aku men dengar keterangan ini dari Rasul saw.” H.R.al-Bukhari.No. 1728.
- Jihad menuntut ilmu
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ.
Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasul saw. bersabda: “Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu ma ka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.” H.R. at-Tirmizi. No. 2571.
- Jihad mengatakan yang benar di hadapan Penguasa/Pemerintah yang Zalim
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata, “Rasul saw. bersab da:”Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebe naran kepada penguasa yang zalim, atau pemimpin yang zalim.”H.R.Abu Dawud. No. 3781.
Boleh jadi, suatu negara atau negeri memiliki pe mimpin, presiden atau kepala negara yang zalim, maka ke wajiban umat Islam untuk menyampaikan kebenaran dan keadilan, yang boleh diwakili oleh ulama.
- Jihad berbakti pada orang tua
سَمِعْتُ أَبَا الْعَبَّاسِ الشَّاعِرَ وَكَانَ لَا يُتَّهَمُ فِي حَدِيثِهِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.
Aku mendengar Abu Al-‘Abbas Asy-Sya’ir, dia adalah orang yang tidak buruk dalam hadis-hadis yang diri wayatkannya, berkata aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru ra. berkata:”Datang seorang laki-laki kepada Nabi saw. la lu meminta izin untuk ikut berjihad.Maka Beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”Laki-laki itu menjawab:”Iya”.Maka Beliau berkata:”Kepada keduanya kamu berjihad (berbakti)”.H.R.al-Bukhari.No. 2782.
Dalam hadis di atas memberikan pelajaran, agar umat Islam memperhatikan kedua orang tuanya. Jika kedu anya masih hidup maka itu merupakan ladang amalnya un tuk berbakti kepadanya, jadikan mereka berdua sebagai ra ja, agar rezeki kita juga seperti rezeki raja, dan jangan jadi kan kedua orang tua sebagai pem bantu, maka rezeki kita juga akan sebagai rezeki pembantu. Dengan berbakti kepa da keduanya, diharap kan rahmat Allah swt akan turun ke pada kita, perhati kanlah kehdupannya, sebagaimana mere ka telah mem perhatikan kita diwaktu kecil.
- Jihad melawan hawa nafsunya sendiri
أَنَّ عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ الْجَنْبِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ.
Bahwa Amru bin Malik Al-Janbi telah mendengar Fada lah bin Ubaid menceritakan dari Rasul saw., beliau bersab da: “Setiap mayit ditutup berdasarkan amalnya kecuali orang yang mati saat berjaga di jalan Allah, maka amalnya akan tetap berkembang hingga hari kiamat, dan ia akan aman dari fitnah Dajjal.” Aku mendengar Rasul saw. ber sabda: “Mujahid adalah orang yang bisa melawan dirinya sendiri.” H.R.at-Tirmizi. No. 1546.
- Membantu janda dan orang-orang miskin
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ.
Abu Hurairah ra. dia berkata; Rasul saw. bersabda: “Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad dijalan Allah.”H.R. al-Bukhari. No. 5548. Rasul saw menegaskan :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
Dari Abu Hurairah dia berkata; “Rasul saw. bersabda: ‘Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah swt daripada orang mukmin yang lemah. H.R. Muslim. No. 4816
Berjihadlah sesuai dengan kemampuan kita, dengan pikiran, tenaga, dan harta. Untuk melakukan perubahan masyarakat yang lebih baik. Dalam bindang politik, hen daknya umat Islam benar-benar melihat sosok pemimpin yang sesuai dengan Alquran dan al-Hadis.
Jika berjihad dengan harta, maka Allah swt akan mengganti seberapapun yang kita infaqkan, sebab satu-satunya amal saleh atau ibadah yang langsung diganti oleh Allah swt adalah infaq, perhatikan Q.S.Saba/34:39:
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (39)
Katakanlah:”Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-ham ba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang di kehendaki-Nya)”.Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan/infak kan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
Malaikat mendoakan orang berinfaq di waktu Subuh.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ اْلآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata;”Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satu nya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebina saan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “. H.R.al-Bukhari. No hadis : 1351.
Energi Hijrah dan Jihad
Hijrah dan Jihad memiliki energi jika dilakukan sesuai dengan aturan atau ketetapan Allah dan Rasulnya.
- Melakukannya dengan ikhlas.
- Melakukannya dengan yang terbaik (ahsanu ‘amala), tidak amatiran.
- Melakukannya dengan perencanaan dan strategi yang benar-benar diperhitungkan.
- Melakukannya terus menerus, tidak berhenti kendati pun belum berhasil, atau tidak mengenal putus asa.
Anjuran Beramal secara berkesinambungan
عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ.
Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdul lah telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Musa bin ‘Uqbah dari Abu Salamah bin Abdurrah man dari Aisyah bahwa Rasul saw. bersabda: “Ber amallah sesuai dengan sunnah dan berlaku imbanglah, dan ketahuilah bahwa salah seorang tidak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan dicin tai oleh Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit.”.H.R.al-Bukhari. No. 5983.
Penghuni Surga adalah para Pemenang
Q.S.al-Hasyr/59:20.
لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِوَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (20)
Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga (jannah); penghuni-penghu ni surga (jannah) itulah orang-orang para pemenang.
Orang-orang bahagia tempatnya adalah di surga
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ (108)
Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempat nya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya sela ma ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu meng hendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. Q.S.Hud/11:108.
Penutup
Jika ingin menjadi umat pemenang di dunia dan di akhirat, maka syaratnya ada 3, yaiutu beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah,m dengan harta dan jiwa. Bahkan penghuni surga, Alquran menginformasikan didia mi oleh para pemenang (Q.S.al-Hasyr/59:20).
Mari umat Islam kokohkan iman, pro perubahan dan melakukan jihad fi sabilillah, agar menjadi umat pemenang sehingga kalimatullah tegak di muka bumi. Melihat perkembangan dunia dan bangsa saat ini, maka umat Islam tidak boleh berpangku tangan, tetapi mari kita berjihad sesuai dengan profesi masing-masing. Namun, jika ingin merubah suatu tatanan masyarakat yang sudah hancur, baik sosial, politik ekonomi dan agama, maka umat Islam harus bangkit berjuang secara berjamaah untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Wallahu a’lam bissawab.
Bibliografi
A.W.Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terleng kap, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
Al-‘Allamah al-Ragib al-Asfahaniy,Mu’jam Mufradat Al faz al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
al-Bukhari,Sahih al-Bukhari,Beirut:Dar al-Fikr,1401H/ 1981 M.
Muslim,Sahih Muslim, Beirut:Dar al-Fikr,414 H/1993 M.
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Beirut : Dar al-Fikr, 1416 H/1995 H.
At-Tirnmizi,SunanAt-Tirmizi,Beirut:Daral-Fikr,1417H/1996 H.
Malik, Muwatta’,Beirut:Dar al-Fikr,1409H/1989 M.
Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya (Edisi Yang Disempurnakan). Juz 7-9, jilid 3, Jakarta: Wasidya Cahaya, 2011
Muhammad Fu’ad Abd. al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim, Beirut: Dar al-Ma’rifah 1992.
Mausu’ah al-Hadis asy-Syarif al-Kutub as-Sittah, Dar as-Sa lam lin-Nasyr wa at-Tuzi’, al-Mamlakah al-‘Ara biyah as-Su’udiyah, Riyad, 2000.






