Bachtiar Nasir Gagas Syarikat Jurnalis Islam
INFOMU.CO | Jakarta – AQL Islamic Center menggagas pembentukan Syarikat Jurnalis Islam sebagai wadah kolaborasi jurnalis dan media untuk memperkuat penyebaran informasi serta literasi keislaman di era digital. Gagasan tersebut dibahas dalam forum “Brainstorming dan Pembentukan Syarikat Jurnalis Islam” yang digelar di Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).
Pimpinan AQL Islamic Center, Bachtiar Nasir, mengatakan kehadiran Syarikat Jurnalis Islam diharapkan menjadi ruang kerja sama antarmedia, termasuk dengan komunitas dan lembaga jurnalistik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Bachtiar, jurnalis Islam perlu memiliki landasan nilai yang kuat dalam menjalankan profesinya. Ia merujuk pada Surat Al Qalam ayat pertama yang berbunyi, “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”
“Seorang jurnalis Islam harus memahami nilai kandungan Surat Al Qalam,” kata Bachtiar.
Ia berharap pembentukan organisasi tersebut dapat membuka peluang kerja sama dengan berbagai lembaga media internasional guna memperluas penyebaran informasi mengenai dunia Islam.
Forum itu menghadirkan mantan Menteri Penerangan Mesir, Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Asy-Syarif. Dalam paparannya, ia menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam ekosistem informasi akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Sami menilai dunia Islam menghadapi tantangan serius di ruang digital. Ia menyebut porsi konten berbahasa Arab dan informasi keislaman di internet masih sangat kecil dibandingkan konten global yang beredar saat ini.
“Hanya 4 persen informasi di internet yang berbahasa Arab dan tentang pengetahuan Islam. Selebihnya menggunakan bahasa lain dan tidak membahas syariah Islam,” ujarnya.
Menurut Sami, perubahan perilaku generasi muda turut memperbesar tantangan tersebut. Banyak anak muda kini lebih mengandalkan mesin pencari dan teknologi AI untuk mencari jawaban atas persoalan yang mereka hadapi dibandingkan bertanya kepada ulama atau tokoh agama.
“Yang meresahkan hari ini, ketika generasi muda kita punya masalah mereka ke Syekh Google, bukan tokoh agama. Padahal di Google sendiri, sebagiannya benar dan sebagiannya salah,” katanya.
Ia menilai kondisi itu menciptakan jarak antara generasi muda dan otoritas keagamaan. Pada saat yang sama, media massa dan jurnalis dituntut beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
“Berkaitan dengan teman-teman media, tentu hari ini menghadapi banyak tantangan dan benturan budaya, terutama di zaman AI yang menggeser pekerjaan utama media,” ujar Sami.
Meski demikian, ia menegaskan perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman. Menurutnya, revolusi teknologi perlu diikuti dan dikuasai, tetapi tetap disertai pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Sebagai ilustrasi, Sami menyinggung sejumlah perkembangan ilmu pengetahuan yang pada masanya pernah menghadapi penolakan. Ia mencontohkan kisah ilmuwan Galileo Galilei yang mengalami tekanan karena temuannya bertentangan dengan pandangan yang berlaku saat itu. Menurutnya, pengalaman sejarah tersebut menunjukkan bahwa agama dan perkembangan ilmu pengetahuan pada dasarnya dapat berjalan beriringan selama ditempatkan secara proporsional.
Ia juga mengutip kisah Alfred Nobel, penemu dinamit yang awalnya mengembangkan teknologi tersebut untuk kebutuhan konstruksi dan pertambangan. Ketika dinamit kemudian banyak digunakan dalam peperangan, Nobel memilih mengalokasikan sebagian besar hartanya untuk mendirikan lembaga yang kemudian melahirkan Hadiah Nobel.
Bagi Sami, perkembangan teknologi selalu membawa konsekuensi yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Karena itu, jurnalis dan media dituntut mampu memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa mengabaikan tanggung jawab sosial dan nilai kemanusiaan dalam menyampaikan informasi.
Jurnalis Muslim adalah Muazin Peradaban
Bachtiar Nasir menaruh perhatian cukup besar pada isu media dan jurnalistik Islam, salah satunya dengan menggelar pengajian rutin bersama para jurnalis muslim. Dia menyebut jurnalis muslim sebagai muazin peradaban. Jurnalisme Islam tidak boleh mengejar viral, algoritma, dan keuntungan semata tetapi mesti menjadi sarana menyeru manusia kepada nilai-nilai tauhid, keadilan, dan persatuan umat.
Media Islam, lanjut dia, seyogyanya menjadi tempat umat menemukan kebenaran dan kekuatan moral. Kecenderungan media modern yang terlalu tunduk pada algoritma media sosial dan orientasi viral membuat berita turun derajat hanya semata-nata sebuah komoditas. Padahal, berita adalah sarana membangun kesadaran masyarakat.
“Seorang jurnalis Muslim sebetulnya statusnya muazin, tapi muazin zaman, muazin peradaban,” kata UBN dalam pengajian tersebut pada pertengahan Mei lalu. (jakartamu)






