PWMJATENG.COM, BOYOLALI — Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Boyolali, Pujiono, mengingatkan seluruh pengelola sekolah swasta untuk tidak terlena dengan kemeriahan acara pelepasan siswa. Fenomena minimnya perolehan murid baru saat ini menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup lembaga pendidikan swasta.
Pujiono menegaskan hal tersebut dalam evaluasi akhir tahun ajaran di Boyolali, Sabtu (30/05/2026). Menurutnya, menyusun acara perpisahan yang mewah jauh lebih mudah daripada berjuang menyukseskan PPDB sekolah swasta.
“Banyak guru pandai melahirkan ide hebat di ruang rapat. Namun, sekolah tidak akan maju jika kita hanya terjebak dalam wacana tanpa aksi nyata,” ujar Pujiono dengan nada tegas.
Murid Sebagai Nyawa dan Penopang Operasional Sekolah
Lebih lanjut, Pujiono menjelaskan bahwa keberadaan peserta didik merupakan aspek paling krusial. Sehebat apa pun kualitas tenaga pendidik dan kecanggihan fasilitas, sekolah akan mati tanpa adanya aktivitas pembelajaran dari murid.
Kondisi ini terasa lebih krusial bagi sekolah Muhammadiyah dan lembaga swasta lainnya. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar dana operasional sekolah bertumpu langsung pada jumlah iuran siswa. Oleh karena itu, seluruh guru dan karyawan wajib memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menyukseskan pendaftaran murid baru.
Ia juga memaparkan sebuah prinsip keseimbangan yang sangat sederhana. Jika tahun ini sebuah sekolah melepas 25 lulusan, maka target PPDB sekolah swasta tersebut minimal harus mendapatkan 25 siswa baru.
“Jika yang masuk ternyata hanya 15 anak, berarti modal awal sekolah minus 10 orang. Apabila tren penurunan ini terus berulang, lambat laun sekolah pasti gulung tikar,” tambahnya.
Contoh Nyata Strategi Mencari Murid Lewat Gerakan Door to Door
Tantangan nyata ini langsung mendapat respons positif dari akar rumput. Kepala SMP Muhammadiyah Sambi yang baru, Ustaz Sahid, langsung mempraktikkan strategi mencari murid secara agresif dan tidak sekadar menunggu di balik meja kerja.
Ustaz Sahid memilih turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendekatan door to door ke rumah warga. Beliau bergerak cepat dengan memanfaatkan basis data lulusan dari SD Muhammadiyah PK Sambi. Hasilnya, langkah taktis tersebut sukses menjaring tiga murid baru dalam waktu singkat.
“Langkah nyata Ustaz Sahid membuktikan bahwa hasil itu lahir dari jemput bola, bukan dari sikap pasif menunggu keajaiban,” puji Pujiono terhadap aksi tersebut.
Mengubah Budaya Banyak Rapat Menjadi Banyak Langkah Nyata
Menutup keterangannya, Ketua FGM Boyolali ini mengajak seluruh elemen sekolah untuk mengubah pola pikir. Guru zaman sekarang tidak boleh lagi hanya berperan di dalam kelas, melainkan harus mampu menjadi agen pemasaran yang efektif bagi sekolahnya.
Setiap pendidik harus terampil mengenalkan keunggulan program sekolah kepada masyarakat luas. Langkah konkret ini menjadi kunci utama untuk memenangkan persaingan dalam PPDB sekolah swasta yang semakin kompetitif setiap tahunnya.
“Masa depan lembaga pendidikan kita hari ini tidak ditentukan oleh seberapa sering kita rapat. Keberlanjutan sekolah sangat bergantung pada seberapa banyak langkah nyata kita untuk menghadirkan murid baru,” pungkas Pujiono.
Kontributor: Pujiono
Editor: Ayma
The post Belajar dari SMP Muhammadiyah Sambi, Begini Cara Taktis Mengatasi Target PPDB Sekolah Swasta yang Minus appeared first on Muhammadiyah Jateng.



