PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Alfin Nur Ridwan, lulusan UMS yang kini menjadi guru pengabdi di Sentani, Jayapura, harus menghadapi risiko keamanan dan tantangan sosial yang tinggi demi menjalankan misi pendidikan di wilayah terluar Indonesia sejak awal 2026 lalu.
Alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini merasakan ketegangan nyata saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Papua. Meskipun membawa misi mulia, ia tidak bisa mengabaikan realitas sosial dan keamanan di wilayah tersebut. Cerita dari para pendatang lama tentang kerawanan wilayah menjadi peringatan dini bagi langkahnya.
“Beberapa dari mereka dengan nada serius mengingatkan saya untuk berhati-hati ketika bepergian. Mereka bercerita bahwa kasus pencurian, khususnya motor, masih cukup sering terjadi,” ujar Alfin, Rabu (25/3). Situasi tersebut sempat membentuk kewaspadaan tinggi dalam dirinya selama menjalani masa awal penempatan.
Menembus Tantangan Sosial di Sentani
Selain faktor keamanan, Alfin juga menghadapi tantangan terkait kebiasaan masyarakat setempat, termasuk konsumsi minuman keras yang kerap memicu situasi tidak kondusif. Hal ini membuatnya harus berpikir dua kali sebelum beraktivitas di titik-titik tertentu. Namun, ia menyadari bahwa memahami medan adalah bagian tak terpisahkan dari misi kemanusiaan ini.
Di balik kewaspadaan itu, Alfin justru menemukan sisi hangat dari masyarakat asli Papua. Ia melihat bahwa warga lokal sangat menghargai pendatang yang membawa niat baik dan sikap rendah hati. “Ada semacam etika sosial yang tidak tertulis, bahwa saling menghormati adalah kunci untuk bisa hidup berdampingan di sini,” ungkapnya.
Ujian Karakter di Ruang Kelas
Tantangan nyata juga muncul ketika Alfin mulai mengajar mata pelajaran Kemuhammadiyahan di sekolah dasar. Latar belakangnya sebagai aktivis hukum dan pers mahasiswa ternyata tidak cukup membekalinya menghadapi kondisi psikologis siswa di sana. Ia menjumpai anak-anak dengan fondasi karakter yang cukup keras dan emosi yang mudah meledak.

Meskipun berat, ia percaya bahwa kehadiran guru di wilayah 3T bukan sekadar soal transfer ilmu pengetahuan. Alfin memandang setiap interaksi sebagai peluang untuk menanamkan jejak kebaikan pada memori anak-anak didiknya. Baginya, ketulusan dalam menjalani proses adalah ukuran sejati dari sebuah keberhasilan misi di tanah rantau.
Kini, setiap hari Alfin terus mengabdi sembari menjaga rutinitas mengajar mengaji bagi generasi muda Muslim setempat. Ia merasa bahwa pengalaman ini telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan dan perbedaan. Pada akhirnya, perjalanan ini menjadi pembuktian bahwa dedikasi mampu melampaui rasa takut dan keterasingan di ujung timur Indonesia.
Kontributor: Alfin Nur Ridwan
Editor: Al-Afasy
The post Suka Duka Pengabdian di Papua: Alumnus UMS Ceritakan Sisi Keras Sentani appeared first on Muhammadiyah Jateng.









