PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Mengubah “paksaan” menjadi kebiasaan merupakan kunci utama cara ikhlas bersedekah, sebagaimana disampaikan Ketua LPPIK UMS Mahasri Shobahiya saat menyoroti esensi spiritual di balik bagi-bagi amplop THR pada Selasa (24/3).
Ketua Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Mahasri Shobahiya, membagikan perspektif menarik mengenai fenomena ini. Menurutnya, bulan Syawal seharusnya menjadi fase peningkatan kualitas diri setelah menjalani latihan intensif selama Ramadan.
“Kebiasaan bersedekah kemudian di hari lebaran menyiapkan amplop-amplop yang dibagi untuk anak-anak atau saudara-saudara, itu bagus karena bisa membahagiakan orang lain,” ujar Mahasri. Ia menekankan bahwa kebahagiaan orang lain akan membuat suasana Lebaran terasa jauh lebih menyenangkan dan bermakna bagi si pemberi.
Melatih Kebiasaan Berbagi Sejak Dini
Momentum pembagian THR ini juga menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif. Orang tua dapat mengarahkan anak-anak agar tidak hanya menjadi penerima pasif, tetapi juga belajar menyisihkan sebagian rezeki mereka. Hal ini penting untuk menanamkan empati sosial sejak usia belia melalui tindakan nyata seperti infak.
Selain aspek edukasi, tradisi ini berperan besar dalam memperkuat kohesi sosial. Mahasri menjelaskan bahwa pemberian sekecil apa pun tetap mampu menciptakan rasa senang dan mencegah kecemburuan sosial. Oleh karena itu, berbagi menjadi kunci utama untuk mempererat tali silaturahmi antaranggota keluarga maupun tetangga.
Rahasia Cara Ikhlas Bersedekah
Namun, tantangan terbesar dalam berderma adalah menjaga ketulusan hati. Mahasri mengakui bahwa sikap ikhlas tidak selalu muncul secara instan pada setiap individu. Ia memberikan tips unik bahwa keikhlasan sering kali harus diawali dengan kedisiplinan yang ketat atau bahkan sedikit paksaan diri.
“Jadi ikhlas itu kadang dimulai dari pemaksaan. Lama-lama akan menjadi kebiasaan. Kalau sudah menjadi kebiasaan, rasanya ringan dan tidak lagi menjadi beban,” ungkapnya. Dengan konsistensi, seseorang akan mencapai tahap di mana berbagi bukan lagi kewajiban, melainkan sebuah kerinduan spiritual.
Melalui tradisi THR, nilai-nilai Ramadan pun terus berlanjut di bulan Syawal. Ketika hubungan sosial terjalin harmonis melalui kedermawanan, kepedulian antarwarga akan tumbuh secara alami. Pada akhirnya, kebiasaan berbagi ini menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan penuh empati bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kontributor: Maysali
Editor: Al-Afasy
The post Ingin Tahu Cara Ikhlas Bersedekah? Mulailah dari Amplop THR Lebaran appeared first on Muhammadiyah Jateng.









