Lembut dalam Sikap, Tegas dalam Prinsip
Oleh : Jufri
Banyak orang mengagumi kelembutan KH Haedar Nashir. Beliau dikenal tenang dalam berbicara, santun dalam bersikap, dan tidak mudah terpancing oleh hiruk-pikuk politik. Namun, kelembutan tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan. Santun bukan berarti kehilangan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Pernyataan beliau yang mengingatkan pemerintah agar tidak terjadi militerisasi dalam kehidupan sipil adalah contoh nyata bagaimana Muhammadiyah menjalankan fungsi moralnya. Sikap itu tidak lahir dari kebencian kepada pemerintah, melainkan dari kecintaan kepada Indonesia dan komitmen menjaga demokrasi, supremasi sipil, serta amanat reformasi. Mengingatkan bukan berarti melawan, tetapi menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari kekuatan masyarakat madani.
Siapa bilang warga Muhammadiyah dilarang mengkritisi pemerintah hanya karena banyak kader Muhammadiyah dipercaya mengemban amanah di kabinet? Sejak awal, Muhammadiyah bukan organisasi politik yang menjadi kepanjangan tangan kekuasaan. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, tajdid, dan Islam Berkemajuan yang berdiri untuk kepentingan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Kehadiran kader Muhammadiyah di pemerintahan tidak pernah menghapus independensi organisasi. Jabatan adalah amanah pribadi, sedangkan Muhammadiyah tetap berpijak pada khittah perjuangannya. Karena itu, setiap kebijakan yang membawa kemaslahatan wajib didukung. Sebaliknya, apabila terdapat kebijakan yang dinilai kurang tepat, kurang adil, atau berpotensi menggeser prinsip-prinsip demokrasi dan negara hukum, Muhammadiyah berkewajiban mengingatkan dengan cara yang santun, argumentatif, dan bertanggung jawab.
Sikap inilah yang selama ini diperlihatkan oleh KH Haedar Nashir. Muhammadiyah tidak ingin menjadi oposisi yang sekadar mencari kesalahan, tetapi juga tidak bersedia menjadi pendukung yang kehilangan daya kritis. Jalan yang dipilih adalah jalan kenegarawanan: mendukung yang benar, mengoreksi yang keliru, dan menawarkan solusi yang mencerahkan.
Pandangan tersebut selaras dengan konsep Darul Ahdi wa Syahadah. Indonesia adalah negeri hasil konsensus bersama yang wajib dijaga. Kesetiaan kepada negara tidak identik dengan membenarkan seluruh kebijakan pemerintah. Justru kecintaan kepada tanah air diwujudkan dengan memastikan penyelenggaraan negara tetap berada di atas konstitusi, keadilan, dan kepentingan rakyat.
Demokrasi yang sehat memerlukan kritik yang sehat. Pemerintah memerlukan dukungan, tetapi juga membutuhkan pengingat. Tanpa kritik yang jujur, kekuasaan berpotensi kehilangan keseimbangan. Sebaliknya, kritik tanpa etika hanya akan melahirkan perpecahan. Muhammadiyah memilih jalan tengah yang bermartabat: mengkritik tanpa membenci, mendukung tanpa menjilat.
Di tengah polarisasi yang semakin tajam, bangsa ini memerlukan lebih banyak suara yang teduh namun tegas. Suara yang lahir dari ilmu, akhlak, dan tanggung jawab moral. Sebab kritik yang dilandasi kasih sayang kepada bangsa jauh lebih bernilai daripada pujian yang hanya menyenangkan telinga penguasa.
Muhammadiyah telah memberi teladan bahwa kelembutan dapat berjalan beriringan dengan ketegasan. Santun bukan berarti diam. Bijaksana bukan berarti kehilangan keberanian. Inilah wajah Islam Berkemajuan: menjaga Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, mencerdaskan kehidupan bangsa, menghadirkan kemaslahatan bagi semesta, serta menjadikan Indonesia Bercahaya melalui ilmu, integritas, dan keberanian menyampaikan kebenaran. Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni










