Mengapa Saya Bertahan di Muhammadiyah
( Tulisan ke-45 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh : Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Universitas Negeri Medan
Suatu sore, setelah pulang kuliah, saya singgah dan duduk sendirian di ruang pustaka lantai 2 Gedoeng Dakwah Muhammadiyah jalan Ahmad Dahlan. Tubuh lelah, pikiran penuh. Di kepala saya berputar satu pertanyaan yang tidak sederhana: mengapa saya masih bertahan di Muhammadiyah, setelah sekian banyak waktu, energi, dan kegelisahan yang saya habiskan?
Pertanyaan itu tidak lahir dari kekecewaan sesaat. Ia tumbuh perlahan, seiring usia bertambah dan pengalaman menumpuk. Saya telah melalui berbagai fase dalam Muhammadiyah—dari remaja di IRM, mahasiswa di IMM, lanjut ke Pemuda Muhammadiyah, hingga menjadi bagian dari struktur persyarikatan. Saya pernah berada di ruang kaderisasi yang hangat, juga di forum-forum yang dingin oleh rutinitas. Saya pernah merasakan idealisme yang menyala, juga kelelahan yang sunyi.
Di tengah semua itu, pertanyaan tentang bertahan atau pergi bukan hal asing. Ia sering muncul di antara kader-kader yang telah lama berjalan. Terutama ketika aktivitas terasa padat, tetapi makna seolah menipis. Ketika rapat demi rapat berjalan rapi, namun kegelisahan tentang arah gerakan jarang dibicarakan.
Namun justru dari kegelisahan itulah saya belajar memahami Muhammadiyah secara lebih dewasa.
Muhammadiyah, bagi saya, bukan sekadar organisasi. Ia adalah ruang belajar yang panjang. Di dalamnya, saya tidak hanya belajar memimpin, tetapi juga belajar dikritik. Tidak hanya belajar menggerakkan orang lain, tetapi juga mengendalikan diri sendiri. Di Muhammadiyah, saya belajar bahwa tajdid bukan sekadar slogan pembaruan, melainkan sikap batin untuk terus bertanya: apakah yang kita lakukan masih setia pada nilai?
Nilai itulah yang membuat saya bertahan. Nilai tentang pendidikan sebagai jalan pencerahan. Tentang kaderisasi sebagai proses pematangan, bukan percepatan jabatan. Tentang amal usaha yang seharusnya menjadi ladang pengabdian, bukan sekadar institusi administratif. Nilai-nilai ini tidak selalu tampak dalam praktik sehari-hari, tetapi ia hidup sebagai ingatan kolektif yang terus memanggil untuk dijaga.
Sebagai pendidik, saya menemukan Muhammadiyah bukan hanya di forum musyawarah, tetapi di ruang kelas. Di sekolah-sekolah yang dibangun dengan semangat gotong royong. Di guru-guru yang bertahan mengajar dengan segala keterbatasan. Di situ saya melihat bahwa Muhammadiyah hidup bukan karena strukturnya, melainkan karena orang-orang yang bekerja dengan keikhlasan.
Namun, bertahan bukan berarti menutup mata. Justru karena bertahan, saya merasa berkewajiban untuk jujur. Ada kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Kita semakin rapi dalam administrasi, tetapi sering gagap dalam refleksi. Kaderisasi berjalan rutin, tetapi kehilangan daya sentuh batin. Aktivisme menjadi padat agenda, namun miskin perenungan.
Kita terlalu sering mengukur keberhasilan dari seberapa cepat seseorang naik, bukan dari seberapa dalam ia bertumbuh. Kepemimpinan kadang dipersempit menjadi soal jabatan, bukan keteladanan. Forum-forum organisasi dipenuhi laporan, tetapi jarang memberi ruang untuk bertanya tentang makna.
Kritik ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ia lahir dari kecintaan. Dari kesadaran bahwa gerakan besar bisa lelah bukan karena kekurangan kader, tetapi karena kelebihan rutinitas tanpa ruh. Ketika proses tidak lagi dihargai, nilai akan perlahan memudar, meski simbol tetap terjaga.
Saya bertahan di Muhammadiyah karena saya percaya organisasi ini masih memiliki daya koreksi dari dalam. Tradisi musyawarah, nilai tajdid, dan etos pendidikan memberi ruang untuk memperbaiki diri. Tetapi daya itu hanya akan hidup jika ada keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Bertahan juga berarti bersedia tinggal lebih lama bersama proses. Tidak selalu berada di garis depan, tidak selalu merasa paling benar. Bersedia mendengar generasi baru tanpa merasa terancam. Bersedia menepi ketika saatnya tiba, tanpa kehilangan rasa memiliki.
Dalam perjalanan panjang ini, saya belajar bahwa kesetiaan bukan soal bertahan tanpa kritik, tetapi merawat kritik agar tetap berakar pada nilai. Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang hanya pandai memuji, tetapi kader yang berani gelisah demi kebaikan bersama.
Saya tidak bertahan karena semuanya sempurna. Saya bertahan karena Muhammadiyah memberi ruang bagi ketidaksempurnaan yang terus diperbaiki. Ia bukan organisasi tanpa cacat, tetapi gerakan yang selalu membuka peluang untuk belajar dari kesalahan.
Sore itu, di ruang Pustaka yang sunyi, diantara tumpukan buku yang ditulis oleh pejuang Muhammadiyah terdahulu, pertanyaan saya akhirnya menemukan jawabannya sendiri. Saya bertahan bukan karena jabatan, bukan karena nostalgia, tetapi karena saya masih menemukan ruang untuk belajar tentang keikhlasan, kesabaran, dan kedewasaan organisasi.
Barangkali Muhammadiyah hari ini tidak membutuhkan kader yang paling lantang bersuara, tetapi kader yang bersedia menjaga nurani gerakan. Kader yang tetap tinggal ketika semangat ramai telah reda. Kader yang memilih setia pada proses, meski hasilnya tidak selalu segera terlihat.
Dan mungkin, bertahan adalah bentuk paling sunyi dari cinta pada sebuah gerakan.
Wallahu a’lam bish shawab




