Memutuskan Silaturrahim itu Perbuatan Setan
- Sebagai Penyakit Hati dalam Perspektif Tafsir Al-Qur’an
Oleh: Isa Anshari SF
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Dalam rangkaian menyambut bulan Ramadhan 1447 ini, penulis ingin menorehkan sebuah tulisan yang mengandung sebuah pesan moral. Semoga bisa menjadi manfaat bagi pembaca dalam menjaga hati dengan terus menyambung silaturrahmi.
Sehingga dengan izin Allah, kita mengharapkan puasa Ramadhan dapat kita lakukan dengan keimanan dan mendapatkan pahala (ihtisaban) maka dosa kita di masa lalu akan diampuni Allah Yang Maha Kuasa”. Sebagaimana sabda Rasulullah dari sahabat Abu Hurairah RA:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Man shama ramadhana imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih”.
“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Imam Bukhari no. 38, 2014 dan Imam Muslim no. 760)
Saudaraku.
Silaturahmi dalam Islam tentunya bukan sekadar hubungan sosial. Silaturrahmi adalah amanah iman, adalah bukti bahwa hati seorang mukmin hidup dan terhubung dengan Allah. Maka ketika silaturahmi diputus, sesungguhnya yang sedang rusak bukan hanya hubungan manusia — tetapi juga kondisi hati yang sedang berpenyakit.
Di tengah kehidupan modern, konflik terasa semakin mudah terjadi. Perbedaan pandangan, persoalan harta, ego keluarga, bahkan percakapan di media sosial, mampu memutus hubungan yang telah terjalin puluhan tahun. Sebagian orang mungkin menganggapnya hal biasa. Namun dalam pandangan Al-Qur’an, ini bukan perkara ringan.
Ancaman Keras
Allah SWT berfirman dalam Surah Muhammad ayat 22–23:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ
Fahal ‘asaitum in tawallaitum an tufsidū fil-arḍi wa tuqaṭṭi‘ū arḥāmakum.
Ulaa-ikalladziina la’anahumullaahu fa ashammahum wa a’maa absaarahum
*”Maka sekiranya kamu berkuasa apakah kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka serta dibutakan-Nya penglihatan mereka.”*
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman keras bagi siapa saja yang merusak tatanan hubungan yang diperintahkan Allah untuk dijaga. Termasuk di dalamnya adalah hubungan kekeluargaan (silaturahmi). Laknat Allah menunjukkan betapa besar dosa tersebut. Artinya memutus silaturahmi bukan hanya persoalan pribadi, tetapi bentuk kerusakan sosial yang dimurkai Allah.
Relevansi dengan Surah Al-Baqarah Ayat 10
Allah SWT berfirman:
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
Fī qulūbihim maraḍun fa zādahumullāhu maraḍā(n), wa lahum ‘ażābun alīmum bimā kānū yakżibūn(a).
*”Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka berdusta.”* (QS. Al-Baqarah: 10)
Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan “penyakit” dalam ayat ini adalah keraguan, kemunafikan, hasad, kebencian, dan kerusakan niat. Penyakit ini berada di dalam hati, bukan terlihat secara fisik, tetapi dampaknya sangat nyata.
Sementara itu, Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa penyakit hati adalah kondisi batin yang membuat seseorang tidak mampu menerima kebenaran dan sulit melakukan kebaikan. Ketika penyakit hati itu dipelihara, Allah membiarkannya semakin parah sebagai konsekuensi pilihan hidupnya.
Jika kita refleksikan, bukankah akar dari putusnya silaturahmi sering kali berasal dari penyakit-penyakit hati itu?
* Hasad terhadap keberhasilan saudara
* Sakit hati yang tidak diselesaikan
* Gengsi karena punya jabatan, gengsi untuk meminta maaf
* Merasa diri paling benar
* Sifat “benci” yang dipelihara
Hasad itu dalamIslam, adalah penyakit hati berupa sikap tidak senang ketika orang lain mendapatkan nikmat, serta keinginan kuat agar kenikmatan tersebut hilang dariorang itu, atau berpindah kepadanya.
Strategi Setan
Saudaraku. Silaturahmi bisa dirusak secara perlahan oleh hati yang tidak dibersihkan. Itulah strategi Setan untuk memecah pikiran dengan merusak hati secara perlahan atau bertahap, bukan menghancurkan dan merusak seketika, bisa sampai ajal menjemput, Jika tidak disadari dengan bertaubat.
Hadist dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
“Innas-syaythāna qad ayisa an ya’budahul-mushallūna fī jazīratil-‘arab, wa lākin fit-tahrīshi baynahum.”
bahwa Setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang beriman di Jazirah Arab, tetapi ia berusaha keras untuk menimbulkan permusuhan di antara mereka (HR. Muslim No. 5030).
Makna dari hadist itu, Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun Setan tetap berusaha melakukan mengadu domba dan menimbulkan perpecahan (tahrisy) di antara kaum Muslimin.
Maksudnya kegagalan Setan saat itu, putus asa karena gagal menjadikan kaum muslimin yang taat shalat di Jazirah Arab untuk kembali menyembah berhala. Maka Setan mengalihkan strategi untuk fokus menghasut, memprovokasi, dan menimbulkan permusuhan serta perpecahan antar sesama muslim.
Ancaman At-Tahrisy (التحريش), Hadits ini memperingatkan bahaya memprovokasi, mengadu domba, atau memancing pertengkaran dan permusuhan di antara sesama manusia, khususnya kaum muslimin. Perbuatan ini sering dikaitkan dengan tipu daya setan yang bertujuan memecah belah persaudaraan, menciptakan konflik, kasar, kebencian dan pastinya dapat merusak hubungan persaudaraan sesama Muslim.
Sesungguhnya Strategi Setan itu:
- bukan langsung menjadikan seseorang jadi kafir, tetapi menjadikan saudara sesama muslim saling membenci dan provokasi
- Membisikanmu kesalahan yang kecil menjadi besar
- Meniupkanmu prasangka setiap saat
- Juga mempengaruhimu untuk sibuk menghitung kesalahan saudarmu, tetapi lupa menghitung dosa atau kesalahan sendiri.
- Tertawa dengan gembira setiap membuat suami istri berdebat/ bergaduh
Sehingga ketika seseorang tidak lagi mau menyapa seorang muslim lainnya, maka Setan telah menang satu langkah
Silaturahmi dan Keberkahan Hidup
Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Man ahabba an yubsatha lahu fii rizqihi wa yunsa’a lahu fii atsarihi falyashil rahimahu”.
*”Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”* (HR. Imam Bukhari no. 5986 dan 2043 dan Imam Muslim (no. 2557)
Makna dari hadist ini, silaturahmi dikaitkan langsung dengan rezeki dan umur. Para ulama menjelaskan bahwa “dipanjangkan umur” bisa dimaknai dengan umur yang penuh keberkahan dan kebaikan. Namun Sebaliknya, jika hatimu sempit selalu dipenuhi dengan kebencian mengakibatkan hidup merasa picik, parokial dan angkuh. Rezeki terasa kurang terus. Jiwa gelisah. Doa terasa jauh dari langit.
Mengalah Itu Kemuliaan
Sesungguhnya satu hal sifat atau kebiasaan yang sering kali menghalangi hati kita untuk berdamai adalah: ego atau egois. Sebab orang yang bersifat egois itu selalu mengutamakan kepentingan, keinginan, dan kebutuhan diri sendiri secara berlebihan, tanpa mempertimbangkan perasaan atau dampak bagi orang lain. Sifat ini berasal dari kata “ego” (diri sendiri) dan cenderung membuat individu tidak peduli, kurang empati, serta seringkali merasa dirinya yang paling utama.
Padahal Sabda Rasulullah ﷺ dari sahabat Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
bahwa orang yang menyambung silaturahmi bukanlah yang membalas kunjungan dengan kunjungan, tetapi penyambung silaturahmi sejati adalah orang yang tetap menyambung ketika hubungan itu diputus (HR. Imam Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad/ Shaih Bukhari nomor nomor 5991)
Kita bisa bayangkan jika hari ini adalah hari terakhir kita hidup,
Apakah kita masih ingin mempertahankan ego?
Apakah masih tetap untuk bertahan menyimpan kebencian?
Padahal sangat banyak orang yang menyesal ketika orang yang ingin dimintai maaf telah tiada.
Mungkin masih banyak orang egois diajak untuk bersimaafan berkata, “Nanti saja kalau dia yang mulai.” Padahal mungkin Allah sedang menunggu kita yang memulai. Semoga saja kita tidak termasuk golongan egois itu.
Kemenangan Iman atas Ego
Surah Al-Baqarah ayat 10 diatas mengingatkan kita bahwa penyakit hati yang dibiarkan, bisa semakin bertambah. Jika hari ini kita membiarkan kebencian, besok ia menjadi dendam. Lusa ia menjadi permusuhan. Sehingga akhirnya berakibat sanggup mengajak orag sekitar memutuskan silaturahmi.
Padahal sesungguhnya memutus silaturahmi itu adalah kemenangan bagi Setan. Sebaliknya menyambungnya kembali adalah kemenangan iman.
Maka mari introspeksi diri dengan bertanya pada diri sendiri:
Siapa orang-orang yang belum saya maafkan?
Siapa orang-orang yang sudah tidak lagi saya hubungi?
Siapa orang-orang yang sudah saya ajak untuk memutus silaturahmi?
Siapa orang-orang yang sudah saya putus silaturahminya?
Penutup
Mungkin satu pesan singkat ini bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Mungkin satu langkah kecil untuk hati kita berdamai bisa menjadi sebab dibukanya pintu surga. Karena pada akhirnya, yang Allah nilai bukan siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling bersih hatinya.
*** Penulis adalah: Sekretaris PC. Muhammadiyah Helvetia. Ketua LHKP PD Muhammdiyah Kota Medan Periode 2015-2022



