WARTAMU.ID, Way Kanan (Lampung)__ Sepertinya hanya ada dalam cerita rakyat, dimana 999 candi/bangunan rampung hanya dalam satu malam. Hal tersebut dapat terjadi bukan tanpa sebab, melainkan dorongan yang kuat baik internal maupun eksternal dari seorang Bandung Bondowoso untuk mendapatkan tujuannya yang tak lain adalah syarat agar dapat meminang seorang putri yang cantik jelita dari Kerajaan Prambanan bernama Roro Jongrang. Namun ketika pembangunan 1000 candi dalam waktu semalam tersebut hampir terwujud dengan bantuan pasukan Jin yang diperintahkan Bandung Bondowoso, Roro Jongrang yang memang tak menginginkan dirinya dilamar oleh Bandung Bondowoso membuat siasat agar dayang-dayangnya melaksanakan tugas membakar jerami yang membuat langit menjadi kemerah-merahan dan menumbuk lesung seolah waktu fajar akan tiba dan para Jin berhamburan/kocar-kacir pergi karena takut terbakar sengat terik matahari. Alhasil, candi hanya terbangun 999 dan Bandung Bondowoso murka mengutuk Roro Jongrang menjadi batu untuk melengkapi 1000 candi tersebut.
Cerita diatas sepertinya tidak seimbang jika terjadi dikehidupan saat ini diabad ke-21. Bagaimana tidak, untuk membuat suatu bangunan kita membutuhkan setidaknya lokasi pembangunan, material bangunan (Pasir,semen, batu dll) dan tukang. Seperti yang terjadi dalam proses pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Way Kanan Lampung yang beralamakan dikampung Umpu Kencana Blambangan Umpu sekitar 100 Meter dari jalan lintas Sumatra. Bangunan yang digagas dari tahun 2021 ini baru rampung sekitar 50% dari plainning yang ditentukan.
Inilah yang membuat kepikiran dan tidur kurang nyenyak semalam dan memutuskan pagi hari ini berkunjung melihat progres pembangunan gedung tersebut. Sabtu, 4/3/2023.
Dalam perjalanan dijumpai anak sekolah berseragam pramuka dilapangan Umpu Bhakti tengah berlatih Drum Band dan sebagian siswa lainnya mengantri giliran agar dapat memainkan alat tersebut, tak lama dari lokasi tersebut juga nampak seorang bapak tua mengayunkan tali yang terhubung dengan simbol lainnya berisi kaleng bekas susu atau dencis sehingga berbunyi “klinting-klinting” Untuk mengusir burung-burung yang hendak mencuri buah padi dari tangkainya. Nampak juga muka memelas dari seorang mas-mas penjual sayur yang dirubungi emak-emak namun yang membeli hanya satu/dua orang saja dari puluhan suara tawar-menawar yang dilontarkan. “Mosok kangkung secuil ini 2rb om?”. Dalam hati ku bergumam ” Bagaimana kalau kangkung secuil/seupil itu masuk kedalam hidungnya 😁”.
Halaman Parkir Musola At-Taqwa Kampung Umpu Kencana
Setelah besi tua beroda 4 ini terparkir dihalaman Musola At-taqwa yang berada diseberang jalan dari bangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Way Kanan, aku bergegas masuk ke lokasi bangunan dan menemui 3 orang tukang yang tengah bekerja melakukan finishing 2 ruangan dan kamar mandi.
“Beginilah mas kondisinya, kalau ada material terus kita kerjakan, kalau lagi kosong ya kita berhentikan sementara”. Ujar Lek Nusirwan sambil memegang cetok semen diruangan dalam.
Ku lihat diruang tengah (tempat untuk beristirahat) semuanya kosong, tak nampak gorengan sebagai pengganjalperut maupun minuman/kopi penyemangat dipagi hari.
”Opo wes podo mulai poso pakde? koyone Muhammadiyah posone jek tanggal telu likur? (Apa sudah mulai puasa pakde? kalau gak salah Muhammadiyah itu puasa Ramadhan tahun ini dimulai 23 Maret 2023)”. Tanya ku kepada para tukang tersebut dan dijawab mereka ”ya belum mas hehe”.
Ketika ditanya sudah pada ngopi kah ketiga tukang ini serentak menjawab seperti murid yang ditanya gurunya tentang jumlah dari 1 + 1 =
” Urung mas (Belum mas) ” Dan salah seorang lagi menambah “Jek isuk, mengko wae rodo awan (Masih pagi, nanti saja mendekati siang)”.
Sembari menunggu siang, aku pun mulai merangkai kata-kata ini tak perlu berselang waktu lama, datang kedua sahabat (Eko Prasetiyo dan Erwin) kelokasi pembangunan menambah keluhan sudah melaksankan kerjaan tapi belum juga gajihan.
Suasana Didalam Ruang Istirahat SembariNgopi dan Makan Gorengan
Sekitar pukul 11;00 Wib datang mobil kijang tua berwarna merah dan langsung parkir dibahu jalan sebelah kanan. Orang tersebut adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Way Kanan bapak Joko Susanto yang setelah mengucap salam lalu bertanya kepada kami, apakah sudah dari tadi?. Langsung dijawab oleh Eko Prasetiyo.
”Ini baru istirahat pak”. langsung ku timpali ”Lha bukannya dari tadi kita ya istirhat ya mas? yang kerjakan pakde bertiga ini hehehe”. Langsung membuat semua yang ada tertawa renyah sembari menunggu gorengan yang dibawa ketua PDM ini diturunkan untuk dimakan bersama-sama.
Ya semuanya sudah memiliki bagian masing-masing dalam proses ibadah membangun gedung dakwah ini. Ada yang menghibahkan tanahnya, menyisihkan sedikit dari gajihnya, memberikan sumbang sih pikiran atau tenaganya. Ada juga yang sekedar menjadi komentator bola.
”Dygak bermain, tapipinter mengomentari para pemain tapi itulah tugasnya dari seorang komentator bola yang bisa jadi dirinya pun kalau menendang bola arahnya jadi melenceng”. Jelas Joko Susanto yang juga menjabat salah satu Kasi di Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Way Kanan ini.
Berbagai upaya telah dilakukan agar Gedung Dakwah Muhammadiyah Way Kanan ini cepat diselesaikan namun belum selesainya sampai saat ini karena sering terganggu masalah dana/pembiayaan. Kita tidak tahu bahwa hal tersebut memang sengaja Allah SWT takdirkan agar para pembaca juga dapat ikut serta menyisihkan sebagian harta yang dimiliki sebagai investasi Akhirat.
”Wahai kaum ku, sesungguhnya kehidupandunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. Q.S Al-Ghafir ayat 39.
Penulis : Sigit Dwi Suwardi.
1,640 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini
Agar Cepat Selesai Harus Terus Dimulai Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang Cerita Pembanguna 1000 Candi Muhammadiyah Pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Way Kanan





