Zuhudnya Imam An-Nawawi, Tak Tidur di Kasur Hanya Bersandar di Buku-buku
INFOMU.CO | Jakarta – Zuhud dalam ajaran Islam merujuk pada sikap atau akhlak yang ditunjukkan seseorang yang lebih mementingkan kehidupan akhirat dibandingkan dunia. Orang zuhud (zahid) lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Salah satu ulama besar yang terkenal akan kisah kezuhudannya adalah Imam An-Nawawi. Ia menjalani zuhud yang paling berat, menjauhi kesenangan duniawi dan memilih fokus pada ilmu. Simak kisah zuhudnya Imam An-Nawawi dalam ulasan berikut ini.
Pemilik nama Abu Zakaria Yahya bin Syarfuddin An-Nawawi merupakan sosok yang dikenal atas pengetahuannya yang luas dan kisah kezuhudannya. Mengutip buku 60 Biografi Ulama Salaf karya Syaikh Ahmad Farid, Imam An-Nawawi bukan orang yang tergiur dengan nikmat dunia, melainkan memilih perjalanan hidup layaknya pengendara unta yang membawa bekal dalam perjalanan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَالِي وَلِلدُّنْيَا إِنَّمَا كَرَاكِبٍ قَالَ فِي ظِلٍّ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا.
Artinya: “Antara aku dan dunia adalah seperti seorang pengendara yang beristirahat di bawah sebuah pohon yang teduh kemudian pergi meninggalkannya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Bergelut dengan Ilmu
Diceritakan dalam buku Imam Nawawi dan Madrasah Darul Hadits karya Abuzar Al Ghifari, Imam An-Nawawi menuntut ilmu di Damaskus. Selama dua tahun tinggal di Madrasah Rawahiyah, Imam An-Nawawi belum pernah tertidur lelap lantaran ia memilih membaca sepanjang siang dan malam. Dia hanya meninggalkan buku untuk wudu dan salat.
Ketika Imam An-Nawawi merasakan kantuk, ia hanya menyandarkan kepala di atas buku-buku yang ada di sekitarnya. Imam An-Nawawi hanya tidur selama satu jam lalu segera bangun untuk melanjutkan membaca. Menurut riwayat, Imam An-Nawawi membaca 12 buku atau kitab setiap harinya yang kemudian ia pelajari, beri komentar, hingga menjelaskan istilah dan ketepatan harakat pada kalimatnya.
Tidak Tidur di Kasur
Diceritakan dalam buku Menyingkap Tabir Kemuliaan Al-Qur’an oleh Maheswara, selama menuntut ilmu, Imam An-Nawawi tidak pernah tidur di atas kasur karena kasur membuat orang terlalu nyaman.
Apabila Imam An-Nawawi tidak sengaja tertidur, ia akan langsung bangun dan mengucap “Innalillahi wainna ilaihi rajiun” karena merasa telah menyia-nyiakan waktu.
Hidup dalam Kesederhanaan
Imam An-Nawawi tidak memiliki banyak waktu untuk memasak atau makan, sehingga ia hanya makan dan minum dalam jumlah sedikit. Biasanya, ia hanya makan roti al-ka’k dan buah zaitun hauran yang dikirim oleh ayahnya. Ia disebutkan tidak makan buah-buahan karena menjalani wira’i.
Kesederhanaan Imam An-Nawawi juga terlihat dari pakaian yang ia kenakan. Ulama besar ini hanya memiliki sedikit pakaian. Bahkan, Imam An-Nawawi rela memakai pakaian yang ditambal.
Imam An-Nawawi tinggal di asrama yang disediakan untuk para siswa madrasah. Kamarnya penuh kitab-kitab, sehingga ketika ada yang bertamu, ia akan menumpuk buku-buku tersebut agar ruangnya dapat ditempati para tamu.
Zuhud yang dijalani oleh Imam An-Nawawi melebihi zuhud nafsu, yang merupakan zuhud paling berat. Pengarang kitab hadits, fikih, dan doa terkemuka itu memilih melajang, mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan ibadah.
Mengenai zuhudnya Imam An-Nawawi, Al-Yunini mengatakan, “Perkara yang menyebabkan ia berada di barisan terdepan dari para ulama adalah banyaknya zuhud, taat agama dan wira’inya di dunia.” (hikmah/dtk)



