DARI PANTI KE PABRIK KETERAMPILAN: PLS DAN PEMBERDAYAAN KAUM MUSTAD’AFIN SEBAGAI GERAKAN AL-MA’UN MUHAMMADIYAH

Oleh: Rafdinal, S.Sos., M.AP.
Jika Muhammadiyah hari ini ditanya, apa gerakan paling otentiknya? Jawabannya ada di “Surah Al-Ma’un”
Kiai Ahmad Dahlan tidak menafsirkan Al-Ma’un di atas mimbar. Beliau menafsirkannya dengan mendatangi kaum miskin, menggendong anak yatim, dan memberi makan fakir. Dari tafsir yang hidup itulah lahir panti asuhan, rumah sakit, dan sekolah-sekolah Muhammadiyah pertama.
Satu abad kemudian, pertanyaannya masihkah tafsir Al-Ma’un itu hidup untuk kaum marginal hari ini ?
Kaum marginal hari ini bukan hanya yatim yang tidak punya ayah. Mereka adalah “masyarakat mustad’afin modern”: ibu-ibu korban PHK di pinggiran Kota, pemuda putus sekolah yang jadi pengangguran di kampung-kampung, petani kecil yang kalah oleh tengkulak, tukang becak yang anaknya tak mampu lanjut kuliah. Kemiskinan mereka bukan sekadar kemiskinan uang, tapi “kemiskinan keterampilan’.
Di sinilah “Pendidikan Luar Sekolah (PLS)” menemukan khitah-nya yang paling Muhammadiyah.
Selama ini kita terjebak bahwa pendidikan itu hanya yang ada di dalam sekolah. Padahal, bagi masyarakat marginal, sekolah formal seringkali sudah terlambat, terlalu mahal, dan terlalu jauh.
Seorang ibu berusia 40 tahun yang janda dengan dua anak, tidak butuh ijazah SMP. Ia butuh keterampilan membuat kue, menjahit, mengelola keuangan warung kecil, dan literasi digital untuk jualan online.
Seorang pemuda putus sekolah tidak butuh pelajaran trigonometri. Ia butuh pelatihan las, servis HP, barista, mekanik motor, atau budidaya lele bioflok yang langsung bisa menghasilkan uang minggu depan.
Inilah yang dalam PLS kita sebut “
life skills dan vocational skills”. Pendidikan yang membebaskan, bukan yang membelenggu dengan ijazah..
PLS Gerakan Al-Ma’un Masa Kini
Jika zaman Kiai Dahlan, wujud Al-Ma’un adalah memberi makan orang miskin, maka di abad 21 ini, wujud Al-Ma’un yang paling berkelanjutan adalah memberi keterampilan agar mereka tidak lagi miskin.
Jika kita jujur, fenomena Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang membanjiri Malaysia, Singapura, dan Timur Tengah adalah cermin paling jujur dari gagalnya sistem keterampilan kita.
Mengapa seorang ibu dari Langkat, Deli Serdang, atau Serdang Bedagai harus rela menjadi PRT di Malaysia dengan risiko kekerasan dan eksploitasi? Mengapa seorang pemuda dari Medan harus menjadi buruh kasar di perkebunan sawit Malaysia?
Jawabannya bukan karena mereka tidak mau bekerja di Indonesia. Jawabannya adalah “kemiskinan keterampilan yang bersertifikasi dan tidak adanya akses modal”
Memberi ikan itu baik, tapi Al-Ma’un hari ini harus naik kelas: memberi kail, memberi jala, dan mengajari cara memancing di lautan ekonomi digital.
Ali Syari’ati menyebut kaum marginal ini sebagai mustad’afin yang sengaja dibuat tak berdaya oleh sistem yang mirip kolonial.
Sistem yang membiarkan warganya menjadi TKI unskilled karena tidak berdaya di negerinya sendiri, adalah sistem Fir’aun modern yang melanggengkan penindasan kaum mustad’afin.
QS. Al-Qash: 4 mengingatkan:
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka.”
LazisMu memiliki tiga peran strategis dalam mendukung PLS sebagai gerakan Al-Ma’un:
LazisMu sebagai Venture Capital Kaum Dhuafa (Modal Usaha).
Dana zakat, infaq, dan shadaqah tidak lagi hanya diberikan sebagai sembako. Dana itu diberikan sebagai modal usaha setelah mereka lulus dari PKBM/LKP
Ini yang disebut dalam literatur filantropi Islam kontemporer sebagai from charity to social justice (Benthall & Bellion-Jourdan, 2003).
Beasiswa Sang Surya untuk Keterampilan. Beasiswa penuh untuk pemuda marginal agar bisa ikut pelatihan las 6G, pelatihan barista bersertifikat, pelatihan digital marketing, atau pelatihan caregiver Jepang bersertifikat.
Dengan Rp 3-5 juta per orang, kita bisa mengubah seorang calon TKI unskilled menjadi tenaga terampil bersertifikat yang bisa bekerja di perusahaan nasional di Indonesia, bukan menjadi pekerja kasar di Malaysia.
Rasulullah SAW bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari Muslim)
Tugas LazisMu adalah mengubah tangan di bawah (mustahik, penerima zakat) menjadi tangan di atas (muzakki, pemberi zakat) melalui keterampilan. Inilah puncak dari gerakan Al-Ma’un.
Maka Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah, dan ‘Aisyiyah harus bertransformasi. Jangan hanya jadi lembaga kursus yang mengejar sertifikat, tapi jadikan ia Pabrik Keterampilan Kaum Marginal.
Tiga Orientasi Baru PLS Berbasis Al-Ma’un:
Pertama, Dari Charity ke Empowerment. Selama ini gerakan Al-Ma’un kita masih dominan karitatif: bagi sembako, santunan yatim. Itu mulia, tapi tidak membuat mereka berdaya. PLS harus mengubah orientasi: dari memberi bantuan menjadi memberi kemampuan. Programnya bukan lagi sekadar bakti sosial, tapi inkubator wirausaha dhuafa, kelas keterampilan gratis, pendampingan UMKM ibu-ibu.
Kedua, Dari Formalistik ke Fungsional. Kurikulum PLS jangan meniru kurikulum sekolah. Harus fungsional dan kontekstual. Di kawasan pesisir, ajarkan pengolahan hasil laut. Di kawasan pertanian, ajarkan digital marketing hasil tani. Di perkotaan, ajarkan keterampilan yang laku di pasar kerja hari ini: barbershop, content creator, teknisi AC, tata rias. Pendidikan harus langsung terpakai.
Ketiga, Dari Proyek ke Gerakan.
Pemberdayaan masyarakat marginal tidak bisa dengan proyek 3 bulan yang lalu hilang. Ia harus menjadi gerakan. Setiap ranting dan cabang Muhammadiyah harus punya satu PKBM unggulan, satu LKP pemberdayaan. Jadikan masjid Muhammadiyah bukan hanya tempat shalat, tapi juga tempat pelatihan keterampilan di malam hari. Itulah masjid ala Kiai Dahlan.
Inilah Al-Ma’un yang sesungguhnya. Ketika seorang pemuda marginal yang tadinya pengangguran, setelah ikut pelatihan di PKBM Muhammadiyah, ia bisa membuka bengkel kecilnya sendiri dan kemudian ia bisa memberi makan tetangganya yang lain. Rantai kemiskinan terputus.
Penutup
Kita bangga Muhammadiyah punya ribuan sekolah dan kampus. Tapi Kiai Dahlan akan lebih bangga jika melihat satu ibu miskin di pinggiran Medan yang karena pelatihan keterampilan dari ‘Aisyiyah, ia kini bisa menyekolahkan anaknya tanpa mengemis.
Pendidikan Luar Sekolah adalah jalan sunyi Muhammadiyah yang paling ideologis. Ia tidak mencari tepuk tangan, ia mencari ridha Allah dengan mengangkat derajat kaum mustad’afin.
Jika pendidikan formal adalah tentang mencerdaskan otak, maka PLS berbasis Al-Ma’un adalah tentang “memuliakan martabat”.
Karena pada akhirnya, seperti pesan Ali Syari’ati dan Kiai Dahlan yang bertemu dalam satu titik: “Tugas seorang Roushanfikr dan seorang Muslim sejati bukanlah menjadi pintar sendirian, tapi membuat orang lain yang tertindas menjadi berdaya”.
Dan di sanalah, di bengkel las kecil, di warung kue ibu-ibu, dan di kebun lele pemuda desa binaan Muhammadiyah itu, Surah Al-Ma’un itu hidup kembali.
*** Penulis: Wakil Ketua PDM Medan, Dosen FISIP UMSU, Aktifis Pemberdayaan Sosial







