Oleh: Affan Al Quddus, S.Sos., M.Si
Data BPS mengemuka paradoks kesejahteraan Indonesia. Pada 5 Agustus 2026, angka kemiskinan turun menjadi 8,07% (22,93 juta orang), tapi Rasio Gini justru naik menjadi 0,368 dari 0,363 pada September 2025.
Jurang kaya-miskin melebar. Di kota, Gini mencapai 0,387, di desa 0,296. DKI Jakarta bahkan mencatat Gini 0,435, tertinggi nasional, sementara Bangka Belitung hanya 0,214. Data Bank Dunia memperjelas: 20% penduduk terkaya menguasai 45,34% pengeluaran nasional, sementara 40% termiskin hanya menikmati 19,22%.
Kita berhasil mengurangi kemiskinan, tapi gagal menciptakan pemerataan. Ekonomi tumbuh, tapi manfaatnya menumpuk di atas.
Fenomena ini 1.100 tahun lalu sudah dijawab oleh Abu Nashr Al-Farabi (870-950 M) dalam karyanya “Al-Madinah Al-Fadilah (Kota Utama)”.
Jika Tidak Adil: Indonesia Condong Al-Madinah Al-Jahiliyah
Al-Farabi membagi kota menjadi 4:
a). Al-Madinah Al-Fadilah: Kota Utama, warganya bekerjasama untuk mencapai kebahagiaan (As-Sa’adah) bersama.
b). Al-Madinah Al-Jahiliyah: Kota Bodoh, warganya hanya mengejar kekayaan dan kenikmatan pribadi.
c). Al-Madinah Al-Fasiqah: Kota Fasik, tahu yang baik tapi tidak diamalkan.
d) Al-Madinah Al-Dhallah: Kota Sesat, punya tujuan baik tapi caranya salah.
Dengan Gini 0,368, Indonesia hari ini terancam condong menjadi “Al-Madinah Al-Jahiliyah”. Al-Farabi berkata:
“Kota yang tidak bahagia adalah kota di mana setiap orang hanya mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri, bukan untuk bersama.”
Itulah yang terjadi di Ibu Kota dengan Gini 0,435. Pertumbuhan properti mewah 15%, apartemen miliaran, sementara di kampung yang sama, 40% penduduk bawah di kota hanya menguasai 18,31% pengeluaran. Kita hidup dalam satu kota, tapi dua dunia.
Ekonomi tumbuh 5,61% tapi 87 juta orang masih terjebak informal. Itu bukan Kota Utama.
Teori Ta’awun: Kesejahteraan Lahir dari Kerjasama, Bukan Kompetisi Liar.
Inti teori Al-Farabi adalah “Ta’awun (kerjasama)”. Manusia tidak bisa bahagia sendiri. Seorang petani butuh tukang roti, tukang roti butuh pandai besi, pandai besi butuh guru. Kebahagiaan hanya tercapai jika ada pembagian peran yang adil.
Al-Farabi menyebut manusia sebagai makhluk madani yang harus bekerjasama.
Ketimpangan kita hari ini karena Ta’awun rusak. Yang terjadi adalah kompetisi liar. Data BPS Maret 2026: porsi pengeluaran 20% terkaya 47,07% di kota. Artinya, sistem ekonomi kita memberi porsi lebih besar pada mereka yang sudah punya modal, akses, dan jaringan.
Al-Farabi mengingatkan, dalam Kota Utama, kekayaan bukan tujuan, tapi alat untuk mencapai keutamaan (fadhilah). Jika negara hanya fokus mengejar PDB tinggi tapi membiarkan Gini naik, maka kita membangun fisik kota, tapi meruntuhkan jiwa kota.
Pemimpin Sebagai Ar-Rais Al-Awwal: Kunci Pemerataan.
Menurut Al-Farabi, syarat utama Kota Utama adalah “Ar-Rais Al-Awwal (Pemimpin Utama)” yang memiliki 12 sifat, intinya: bijaksana (hakim), adil, mencintai kebenaran, dan mendahulukan kepentingan warganya.
Pemimpin Kota Utama tidak boleh membiarkan warganya lapar sementara yang lain kekenyangan.
Maka tugas pemerintah hari ini bukan sekadar menurunkan kemiskinan dari 8,25% ke 8,07%, tapi memastikan kenaikan Gini dari 0,363 ke 0,368 itu dihentikan.
Jika Al-Farabi menjadi Pemimpi kita saat ini, apa yang akan dia lakukan?
Rekomendasi Kebijakan Ala Al-Farabi untuk Indonesia:
Pertama, Dari Al-Jahiliyah ke Al-Fadilah: Reforma Pajak Progresif. Kota Utama harus mengambil dari yang berlebih untuk yang kekurangan. Usulan: Pajak kekayaan (wealth tax) 2% untuk aset di atas Rp 50 Miliar di Ibu Kota (Gini 0,435) dan hasilnya langsung untuk subsidi BPJS dan beasiswa vokasi bagi 40% terbawah. Ini adalah ta’awun yang dilembagakan.
Kedua, Menguatkan Ta’awun Ekonomi Desa-Kota. Gini desa 0,296 jauh lebih baik dari kota 0,387. Artinya desa lebih adil. Program Dana Desa Rp 70 triliun harus diarahkan bukan untuk infrastruktur fisik saja, tapi untuk “Bumdes Al-Fadilah”: koperasi desa yang menghubungkan petani langsung ke pasar kota tanpa tengkulak. Jika petani mendapat harga adil, Gini kota akan turun.
Ketiga, Pendidikan sebagai Jalan Menuju Sa’adah.
Bagi Al-Farabi, tujuan akhir negara adalah kebahagiaan hakiki, bukan sekadar kenyang. APBN pendidikan 20% harus difokuskan pada pendidikan keahlian yang membuat 40% terbawah naik kelas. Bukan bansos yang membuat mereka bertahan miskin, tapi beasiswa skill yang membuat mereka punya daya tawar.
Penutup
Al-Farabi menutup kitab Al-Madinah Al-Fadilah dengan peringatan abadi: Kota yang tidak adil akan kacau-balau bukan karena tekanan dari luar, tapi karena kebencian warganya sendiri.
Peringatan itu relevan untuk Indonesia hari ini. Rasio Gini 0,368 adalah alarm keras. Kita boleh bangga angka kemiskinan turun 430 ribu orang menjadi 22,93 juta jiwa (8,07%), namun jika 20% orang terkaya masih menguasai 45,34% kue ekonomi, sementarah 40% termiskin hanya menikmati 19,22%, maka kita sesungguhnya sedang membangun “Al-Madinah Al-Jahiliyah”: kota yang terlihat kaya secara fisik, tapi miskin secara jiwa.
Tugas kita hari ini sebagai kaum intelektual, sebagai pemerintah, dan sebagai warga adalah mengikhtiarkan Indonesia menjadi “Al-Madinah Al-Fadilah”. Bukan kota yang semua warganya kaya raya, melainkan kota di mana pertumbuhan ekonomi dirasakan semua, di mana si kaya dan si miskin saling menopang dalam semangat ta’awun untuk mencapai As-Sa’adah (kebahagiaan bersama).
Karena kesejahteraan sejati, sebagaimana hikmah Al-Farabi, bukanlah ketika semua orang menjadi kaya, melainkan ketika tidak ada satu pun warga yang merasa ditinggalkan serta harus terseok-seok untuk sekadar bertahan hidup di Negeri yang sama.
Jika Pemimpin di Istana Negara sebagai Ar-Rais Al-Awwal mampu menjadi jembatan yang adil di atas jurang ketimpangan itu, maka Indonesia tidak hanya akan tumbuh, tapi akan bahagia.
Penulis: Dosen Fisip UMSU, Pemerhati Kebijakan Publik & Pemberdayaan Masyarakat.







