Mubaligh Muhammadiyah Diajak Berdakwah dengan Strategi dan Etika Digital
INFOMU.CO | Bantul – Sebuah pesan dakwah di media sosial dapat menjangkau ribuan orang dalam hitungan jam. Namun, luasnya jangkauan tidak otomatis membuat pesan dipahami atau membawa manfaat. Mubaligh perlu mengenali cara kerja platform, memahami kebutuhan audiens, dan menjaga kebenaran informasi yang disampaikan.
Tantangan itu menjadi pokok bahasan sesi ketiga Pelatihan dan Sertifikasi Mubaligh Muhammadiyah Pusat Angkatan Pertama Majelis Tabligh Muhammadiyah di Tabligh Institute Muhammadiyah, Ahad, 11 Oktober 2026. Dalam sesi bertema “Strategi Menguasai Algoritma Medsos untuk Dakwah”, Dr. Raden Muhammad Ali, S.S., M.Pd., dari Bidang VI Sistem Informasi Dakwah dan Digitalisasi Tabligh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, mengajak peserta melihat media sosial sebagai ruang dakwah yang memerlukan strategi sekaligus tanggung jawab.
Menurut Raden Muhammad Ali, perkembangan media digital memperluas ruang dakwah yang sebelumnya banyak bertumpu pada pertemuan langsung dan majelis. Kini, mubaligh dapat menyampaikan pesan melalui “mimbar digital” yang bisa diakses kapan saja dan dari berbagai tempat. Perluasan ruang ini membuka peluang dakwah menjangkau masyarakat yang mungkin tidak hadir di masjid atau pengajian.
“Sebelumnya kita bertumpu dalam pertemuan secara lansung dalam majelis, sekarang bia menyampaikan dalam mimbar digital yang bisa diakses dimana dan kapanpun”. Ujarnya.
Namun, kehadiran di media sosial saja tidak cukup. Konten perlu mampu menarik perhatian, mempertahankan minat audiens, dan menjawab kebutuhan mereka. Karena itu, strategi digital bukan semata-mata mengejar jumlah penonton atau viralitas, melainkan merancang pesan agar ditemukan, dipahami, dan memberi manfaat.
Dirinya mengibaratkan algoritma sebagai pustakawan cerdas yang menyeleksi dan merekomendasikan konten kepada pengguna yang dianggap sesuai. Konten yang relevan dan mampu membuat orang bertahan menonton memiliki peluang lebih besar untuk diperkenalkan kepada audiens lain. Dengan pemahaman itu, mubaligh diajak meninggalkan anggapan bahwa algoritma bekerja sepenuhnya secara acak atau sengaja menyembunyikan konten tanpa alasan.
Setiap platform juga memiliki karakter yang perlu dipahami. Pada TikTok, durasi menonton dan keterlibatan audiens menjadi perhatian penting. Sementara di Instagram, relasi pengguna, interaksi, dan relevansi konten turut berpengaruh. Karena itu, satu format atau cara publikasi belum tentu bekerja sama pada setiap platform.
Raden Muhammad Ali mendorong peserta menggunakan data analitik untuk mengevaluasi konten. Pengelola akun dapat memeriksa jumlah kunjungan profil, pertumbuhan pengikut, waktu audiens aktif, serta respons terhadap unggahan. Data tersebut membantu menentukan topik, format, dan waktu publikasi berikutnya. Keputusan tidak semestinya hanya bertumpu pada perkiraan pribadi.
Untuk video pendek, ia mengenalkan susunan sederhana: pembuka yang menarik perhatian, inti persoalan, penjelasan atau solusi yang disertai landasan, lalu ajakan yang relevan. Pembuka atau hook penting untuk membuat audiens berhenti menggulir layar, tetapi harus tetap berhubungan dengan isi. Judul atau potongan awal yang menjanjikan sesuatu yang tidak dibahas dalam video justru dapat mengikis kepercayaan.
Kualitas penyampaian juga dipengaruhi oleh hal-hal teknis. Lensa kamera yang bersih, pencahayaan memadai, suara jernih, serta kesesuaian teks, narasi, dan gambar pendukung membuat pesan lebih mudah diikuti. Perangkat sederhana seperti telepon pintar dapat digunakan untuk memproduksi konten, asalkan mubaligh memperhatikan mutu dan keterbacaan pesan.
Di tengah derasnya arus informasi, strategi produksi harus berjalan bersama etika. Raden Muhammad Ali mengingatkan peserta pada prinsip tabayyun sebagaimana diajarkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 6. Informasi perlu diperiksa sebelum dipercaya atau disebarluaskan, terutama jika menyangkut persoalan keagamaan. Ia menguraikan sikap tabayyun melalui kehati-hatian, pemeriksaan sumber, pemilahan informasi berdasarkan manfaat dan urgensi, serta pertimbangan terhadap dampaknya bagi publik.
Etika itu juga berlaku ketika mubaligh menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi dapat membantu mencari gagasan, menyusun kerangka naskah, dan membuat ilustrasi. Namun, hasilnya harus diperiksa. AI tidak boleh menjadi sumber yang dibiarkan mengarang ayat, hadis, kutipan, atau rujukan keagamaan. Penggunaan teknologi juga tidak patut dipakai untuk memanipulasi wajah maupun suara tokoh demi membangun legitimasi palsu.
Tanggung jawab akhir tetap berada pada mubaligh. Ia perlu memastikan pesan yang dipublikasikan benar, sesuai kompetensi, dan tidak menyesatkan audiens. Sikap terbuka terhadap koreksi pun penting, baik ketika terjadi kesalahan informasi maupun saat merespons perbedaan pendapat di kolom komentar.
Sebelum membuat konten, peserta juga diajak memetakan audiens: apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan, pendekatan apa yang sesuai, dan bahasa seperti apa yang mudah mereka pahami. Pemetaan ini membantu mubaligh menyesuaikan bentuk penyampaian tanpa mengubah prinsip ajaran. Dakwah kepada kelompok dan kebutuhan yang berbeda dapat memerlukan pilihan bahasa serta format yang berbeda pula.
Sesi tersebut menegaskan bahwa algoritma hanyalah sarana untuk memperluas distribusi pesan. Ukuran keberhasilan dakwah tidak berhenti pada jangkauan digital, tetapi juga pada kebenaran isi, tanggung jawab penyampai, dan manfaatnya bagi masyarakat. Sebagaimana disampaikan Raden Muhammad Ali, “Algoritma hanya menyebarkan pesan, tetapi hidayah yang menggerakkan hati.” (tabligh)








