Dosen UMSU, Cut Novita Menduniakan Bahasa Indonesia ke Warga USA
INFOMU.CO | Medan – Dr. Cut Novita Srikandi, S.S., M.Hum dosen sekaligus Ketua Badan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menjadi salah satu yang diberi kepercayaan mengajar bahasa Indonesia kepada warga Amerika Serikat (USA) melalui KBRI Washington DC.
Tugas mengajar Bahasa Indonesia untuk warga Amerika Serikat ini tentu menjadi kebanggan tersendiri. Kepercayaan yang diberikan melengkapi tugas mengajar mahasiswa internasional yang diemban selama ini sebagai Ketua BIPA UMSU.
Perempuan kelahiran Blang Jrun, 10 November 1988 masih mengajar di kelas disela aktifitasnya mengajarkan Bahasa Indonesia ke mahasiswa internasional. Bagi Cut Novita, menjadi akademisi bukan sekadar tentang mencapai gelar atau menduduki posisi tertentu. Lebih dari itu, ilmu yang dimiliki harus terus berkembang dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi orang lain.
Beberkal pendidikan Sarjana Sastra inggris di USU, Magister Ilmu Susastra UI dan Doktor lmu Susastra UI, terbilang aktif mengikuti berbagai kegiatan nasional dan internasional . Dari aktifitasnya itu, dia dipercaya menjadi pembicara dalam ASEAN Voice 2026: One Country One Day, lulus fellowship bersama Montgomery College yang diselenggarakan di Universitas Bina Nusantara. Di luar itu Cut Novita juga terlibat dalam pengabdian masyarakat dan memenangkan hibah serta penghargaan yang menggunakan perspektif gender dalam pengajaran maupun kegiatan kemasyarakatan oleh BRIDA.

Karir Cut Novita bermula dari kecintaan membaca sastra Indonesia sejak SMP, perjalanannya berlanjut pada mendalami ilmu susastra. Karirnya berlanjut hingga diamanhkan memimpin lembaga BIPA UMSU. Dari situ dia terpilih menjadi salah satu dari 36 pengajar yang dikirim dalam program internasional.
Ketika UMSU merintis lembaga BIPA, Assoc. Prof. Dr. Cut Novita Srikandi, S.S., M.Hum., mulai serius dan berinisiatif membentuk lembaga yang memfasilitasi pengajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing pada 2022.
Katanya, saat itu BIPA belum terlalu dikenal dan berkembang di Sumatera Utara. Mahasiswa internasional yang mengikuti program tersebut pun masih sedikit. Antusiasme terhadap BIPA juga belum besar karena program ini masih tergolong baru di Sumut. Kondisi itu justru menjadi semangat Cut Novita dalam membangun lembaga BIPA UMSU dan menduniakan bahasa Indonesia.
Berkat kegigihannya, lembaga BIPA UMSU semakin berkembang dan memperoleh berbagai rekognisi sehingga menjadi contoh atau model bagi institusi lain yang ikut berinisiatif membangun lembaga serupa di kampus lain. Dia juga berhasil membimbing mahasiswa Internasional asal Kamboja menjuari Semarak Bulan Bahasa dan Festival Handai Taulan BIPA.
Menurut Cut Novita, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sama-sama memiliki kajian linguistik dan sastra. Namun secara pribadi, ia merasa lebih condong kepada bahasa Indonesia.
Bagi dirinya, bahasa Indonesia bukan hanya objek kajian akademik. Bahasa Indonesia juga dapat menjadi alat untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia.
Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang menyatukan mahasiswa dengan latar belakang negara dan budaya yang berbeda. Dalam konteks tersebut, BIPA tidak hanya mengajarkan kemampuan berbahasa, tetapi juga membuka ruang perjumpaan antarmanusia.
“Bahasa Indonesia itulah yang menjadi bahasa pemersatu, bahasa persahabatan,” demikian pandangannya mengenai pengalaman mahasiswa internasional tersebut.
Lebih lanjut, bahasa Indonesia memiliki potensi untuk terus digalakkan sebagai bahasa internasional. Apalagi, bahasa Indonesia memiliki akar Melayu yang memiliki kedekatan dengan bahasa yang digunakan di berbagai negara ASEAN.
Menurutnya berakar berarti tetap berpijak pada ilmu, nilai, pengalaman, dan identitas yang membentuk perjalanan akademiknya. Sementara bertumbuh berarti tidak pernah merasa selesai dalam belajar.
Rangkaian perjalanan itu memperlihatkan satu hal: bahasa dapat menjadi pintu menuju pengetahuan, kebudayaan, sekaligus persahabatan. (Syaifulh)








