SANG SURYA DI HORIZON PESISIR: DAKWAH MUHAMMADIYAH BERBASIS PEMBERDAYAAN EKONOMI BAHARI.
Oleh: Affan Al Quddus, S.Sos., M.Si.
Jika kita membuka peta Indonesia, yang terlihat bukan daratan, melainkan lautan yang mendominasi 77% wilayah negara. Kita bangga menyebut diri negara bahari terbesar dunia dengan garis pantai 108.000 km. Namun ironi kita hari ini: di negeri yang potensi ekonomi maritimnya mencapai US$ 1,33 triliun per tahun atau lebih dari Rp 20.000 triliun, nelayannya justru menjadi kelompok termiskin.
Di sinilah Sang Surya Muhammadiyah harus menyinari cahaya-nya, bukan hanya di perkotaan, tetapi di horizon paling ujung: pesisir pantai.
Tantangan Dakwah dan Kemiskinan Pesisir.
Dakwah abad kontemporer menghadapi tiga tantangan: disinformasi digital, krisis keteladanan dan hedonisme, serta radikalisme-sekularisme. Semua tantangan ini bermuara di pesisir.
Data terbaru sangat memprihatinkan. Menko Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa nelayan Indonesia termasuk desil 1, kelompok termiskin, dengan Nilai Tukar Nelayan (NTN) hanya 103, sementara Nilai Tukar Petani sudah 129. Data BPS 2022 juga menyebut kemiskinan di daerah pesisir mencapai 17,74% dengan 3,9 juta jiwa masuk kategori miskin ekstrem. Sebanyak 85% dari 2,4 juta nelayan adalah nelayan kecil yang rentan terlilit hutang tengkulak.
Pemerintah bahkan memprediksi ikan kita dicuri asing senilai Rp 200 triliun lebih per tahun. Padahal sektor perikanan berkontribusi 2,54% terhadap PDB Nasional atau Rp 407 triliun pada Triwulan III 2024 dan sektor maritim secara keseluruhan menyumbang 7,9% PDB 2024 dengan target menjadi 12,5% pada 2045.
Ini adalah pekerjaan dakwah. Allah berfirman: وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا (QS. An-Nahl: 14). Artinya:
“Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”.
Komitmen kita untuk menghidupkan ranting pada dasarnya adalah komitmen kita untuk membuat Muhammadiyah ini tetap senantiasa berkembang,
Pentingnya semangat menghidupkan ranting adalah untuk meneguhkan kembali identitas Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang dinamis dan amal sosialnya langsung dirasakan.
Selama ini ranting kita kuat di kota dan desa agraris, tapi lemah di pesisir. Padahal Allah memerintahkan وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (QS. Asy-Syu’ara: 214) mulai dari yang terdekat dan terpinggirkan. Kita butuh Ranting Bahari Muhammadiyah.
Ranting bahari adalah basis untuk menjawab disinformasi dengan gerakan tabayyun: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا (QS. Al-Hujurat: 6). Pengajian ranting bahari harus menjadi pusat literasi digital.
Orientasi AUM Kelautan: Sinergi PTM dan Sekolah Kejuruan
Muhammadiyah memiliki modal besar. Data resmi mencatat kekuatan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) meliputi 172 Perguruan Tinggi Muhammadiyah, 1.143 SMA/SMK/MA, 457 rumah sakit, serta 132 Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM). Inilah mesin Ekonomi Berkemajuan yang harus diorientasikan ke kelautan.
PTM sebagai Pusat Riset dan Inkubator Ekonomi Bahari.
PTM harus menjadi otak. Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang ditargetkan pemerintah membangun 5.000 kampung hingga 2029 lengkap dengan cold storage, pabrik es, dan SPBN adalah model yang harus diadopsi Muhammadiyah. PTM jurusan perikanan, teknik, dan ekonomi syariah harus meriset teknologi cold storage tenaga surya murah dan model BTM Nelayan anti rentenir.
Hadirnya Sekolah Kejuruan Muhammadiyah: Pusat Ilmu Pengelolaan Hasil Laut
Inilah orientasi AUM paling relevan. Basis pemberdayaan ummat ada di ranting dan gerakan Al-Ma’un mestinya lebih dikembangkan di basis ranting tersebut.
Tafsir KH. Ahmad Dahlan atas أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ… (QS. Al-Ma’un: 1-3) harus diwujudkan dengan memberdayakan istri dan anak nelayan.
SMK Muhammadiyah di pesisir harus menjadi Pusat Pelatihan Pengelolaan Hasil Laut: pengolahan ikan menjadi abon, nugget, kerupuk bernilai ekspor; teknik rantai dingin; digital marketing; dan Sekolah Nelayan Berkemajuan.
AUM Ekonomi: BTM Nelayan dan Koperasi Al-Ma’un Bahari
Dari Ranting Bahari lahir Koperasi Al-Ma’un Bahari. Inilah dakwah بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ (QS. An-Nahl: 125).
Penutup
Muhammadiyah besar bukan hanya karena pusatnya hebat, tapi karena rantingnya hidup. Jika ranting bahari hidup dengan dukungan PTM dan SMK Muhammadiyah, maka kita telah menjawab tantangan dakwah digital sekaligus mengentaskan kemiskinan pesisir.
Jika ranting bahari hidup dengan dukungan PTM sebagai pusat riset dan SMK Muhammadiyah sebagai pusat ilmu pengelolaan hasil laut, maka kita telah menjawab tantangan dakwah digital sekaligus mengentaskan kemiskinan pesisir.
Menyejahterakan nelayan adalah menghidupkan Muhammadiyah. Menghidupkan Muhammadiyah di pesisir adalah wujud nyata dari Sang Surya yang tidak pernah padam. Ketika nelayan bisa tersenyum karena hasil lautnya diolah dan bernilai, ketika anak nelayan bisa kuliah di PTM karena beasiswa dari Koperasi Al-Ma’un Bahari, di situlah Muhammadiyah benar-benar hidup.
Mari kita buktikan, Sang Surya tidak hanya bersinar di kota-kota besar, tetapi juga di gubuk-gubuk nelayan di tepi samudera. Karena selama nelayan masih miskin di lautan yang kaya, maka tugas dakwah Al-Ma’un kita belum selesai.
Hidup-Hidupkan Muhammadiyah, Nelayan Sejahtera, Indonesia Berkemajuan !
Wassalam…
Penulis: Dosen Fisip UMSU, Pemerhati kebijakan publik dan pemberdayaan masyarakat.




