WARTAPTM.ID, SEMARANG — Mahasiswa semester 7 Program Studi S1 Informatika Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Naufal Denta Elsatya Nugraha, berhasil menembus jurnal internasional terindeks Scopus melalui riset tentang sistem komputer untuk membantu proses diagnosis medis.
Artikel berjudul “A Training-Free Symbolic Baseline for Interactive Medical Diagnosis: Automatic Rule-Slot Derivation and Weighted Evidence Combination” dinyatakan accepted for publication di Journal of Computing Theories and Applications (JCTA), jurnal yang berada pada kuartil Q3 Scopus.
Dalam penelitian tersebut, Naufal menjadi penulis pertama bersama Dr. Dhendra Marutho, S.Kom., M.Kom., dan Muhammad Sam’an, S.Si., M.Mat., Ph.D.
Penelitian itu mengembangkan pendekatan training-free symbolic untuk diagnosis medis interaktif. Sistem tidak hanya memproses gejala yang diberikan, tetapi juga menentukan pertanyaan lanjutan yang perlu diajukan berdasarkan metode expected information gain.
Naufal menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam pengembangan sistem ini adalah menjaga efisiensi interaksi tanpa mengorbankan ketepatan.
“Riset ini menunjukkan bahwa akurasi tinggi saja tidak cukup dalam diagnosis medis berbasis komputasi. Ada kompromi antara ketepatan diagnosis dan efisiensi interaksi. Kami merancang sistem yang tidak hanya akurate, tetapi juga tahu pertanyaan lanjutan apa yang paling relevan agar pasien tidak dibebani pertanyaan yang berlebihan,” ujar Naufal.
Pendekatan tersebut kemudian diuji menggunakan sejumlah benchmark medis berbasis simulasi untuk melihat kemampuan sistem dalam menggabungkan informasi gejala dan menentukan langkah interaksi berikutnya.
Pada dataset MedlinePlus yang mencakup 893 penyakit, sistem mencapai akurasi 99,27 persen dengan rata-rata 1,75 pertanyaan. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat akurasi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai kinerja sistem.
Pada varian SymCat, misalnya, sistem menghasilkan akurasi yang lebih tinggi, tetapi membutuhkan jumlah pertanyaan yang lebih banyak. Temuan ini memperlihatkan adanya kompromi antara ketepatan diagnosis dan efisiensi interaksi antara sistem dengan pengguna.
Publikasi tersebut tidak diperoleh melalui proses singkat. Sebelum dinyatakan diterima, penelitian melewati tahapan peer review dan revisi untuk memperkuat kualitas artikel.
Tim penulis melakukan perbaikan pada sejumlah bagian, mulai dari argumentasi penelitian, formulasi matematis, algoritma, hingga penyajian hasil. Naufal mengaku proses penelaahan tersebut memberikan dinamika dan pelajaran akademik yang berharga.
“Proses peer review hingga dinyatakan accepted di jurnal terindeks Scopus menjadi pelajaran yang sangat berharga. Saya menyadari bahwa publikasi ilmiah tidak sekadar tentang ide yang menarik, tetapi bagaimana kami mempertahankan argumentasi, formulasi matematis, dan metodologi agar benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ungkapnya.
Meski menghasilkan temuan yang menjanjikan, penelitian tersebut memiliki keterbatasan. Seluruh pasien dalam benchmark yang digunakan merupakan data simulasi sehingga hasil penelitian belum dapat dipandang sebagai bukti efektivitas sistem dalam praktik klinis.
“Karena pengujian ini masih menggunakan data simulasi, hasil penelitian kami belum bisa disimpulkan efektif untuk praktik klinis langsung. Langkah selanjutnya yang sangat krusial adalah menguji sistem ini dengan data klinis nyata serta melibatkan tenaga medis secara langsung di lapangan,” tambah Naufal.
Oleh karena itu, penelitian merekomendasikan pengujian lebih lanjut menggunakan data klinis nyata serta melibatkan tenaga medis untuk mengetahui kinerja sistem dalam konteks pelayanan kesehatan yang sesungguhnya.
Bagi Naufal, publikasi tersebut menjadi pengalaman akademik penting selama menempuh pendidikan di UNIMUS. Pengalaman itu memberinya kesempatan untuk tidak hanya mempelajari teknologi di ruang kuliah, tetapi juga mengembangkan gagasan, mengujinya melalui penelitian, dan mempertanggungjawabkannya dalam forum ilmiah internasional.
Capaian tersebut sekaligus menunjukkan ruang bagi mahasiswa perguruan tinggi Muhammadiyah untuk terlibat dalam riset sejak masa studi. Pengalaman melakukan penelitian dan menghadapi proses peer review dapat menjadi bagian dari pembentukan budaya akademik yang mendorong mahasiswa menghasilkan karya ilmiah yang dapat berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan.
The post Mahasiswa UNIMUS Tembus Jurnal Scopus lewat Riset Diagnosis Medis Berbasis Komputasi appeared first on Warta PTM.




