Delegasi MDMC Sumatera Utara Ikuti Rakernas 2026 di Yogyakarta
* Dorong “One Muhammadiyah One Response” dan Respons Bencana Lebih Cepat
INFOMU.CO | Yogyakarta — Lembaga Resiliensi Bencana/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MDMC 2026 yang berlangsung pada 11–13 September 2026 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPV), Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rakernas yang diselenggarakan LRB/MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut mengangkat tema “Sinergi dan Inovasi: Penguatan Kapasitas Wilayah Dalam Manajemen Bencana Berbasis Teknologi dan Kearifan Lokal.” Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan mandat Muktamar Muhammadiyah ke-48 sekaligus upaya memperkuat sinergi program kebencanaan antara tingkat pusat dan wilayah.
Sumatera Utara mengirimkan tiga orang delegasi, yaitu Dr. dr. H. Elman Boy, M.Kes., Sp.KKLP., Subsp. FOMC selaku Ketua MDMC Sumatera Utara, Irsan Armadi selaku Sekretaris, dan Sri Ngayomi, M.Psi. selaku Bendahara. Komposisi delegasi tersebut sesuai ketentuan Rakernas yang meminta setiap wilayah mengirim tiga perwakilan yang terdiri atas ketua, sekretaris, dan bendahara. Dalam lampiran undangan, LRB/MDMC PWM Sumatera Utara termasuk dalam 35 wilayah yang diundang mengikuti Rakernas.
Keikutsertaan delegasi Sumatera Utara mendapat dukungan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara.

Dari Tanggap Bencana Menuju Budaya Siap Bencana
Menanggapi keikutsertaan delegasi MDMC Sumatera Utara dalam Rakernas MDMC 2026, Prof. Dr. dr. Kamal Basri Siregar, MH.Kes., M.Ked(Surg), Sp.B, Subsp. Onk(K), FICS, selaku Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara (PWM Sumut) yang mengoordinasikan bidang yang membawahi MDMC Sumut, menegaskan bahwa posisi Indonesia yang berada di wilayah dengan risiko bencana tinggi menuntut Muhammadiyah untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang semakin kuat, terintegrasi, dan mampu bergerak cepat.
Menurut Prof. Kamal, kondisi tersebut harus mendorong perubahan paradigma dari sekadar tanggap bencana menjadi siap menghadapi bencana. Mitigasi, kesiapsiagaan sumber daya, peningkatan kapasitas relawan, sistem komunikasi, hingga kecepatan respons harus dipersiapkan sebelum bencana terjadi.
“Indonesia berada di wilayah dengan risiko bencana yang tinggi. Karena itu, Muhammadiyah tidak boleh hanya kuat ketika memberikan bantuan setelah bencana terjadi. Kita harus membangun budaya siap bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, respons cepat hingga pemulihan masyarakat,” ujar Prof. Kamal.
Prof. Kamal menilai Muhammadiyah Sumatera Utara memiliki modal yang sangat besar untuk mewujudkan hal tersebut. Jaringan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, masjid, organisasi otonom, kader, relawan, media, Lazismu, serta jaringan sosial Muhammadiyah tersebar luas di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dapat dihubungkan dan digerakkan dalam satu sistem yang terkoordinasi.
Konsep One Muhammadiyah One Response (OMOR), menurut Prof. Kamal, menjadi sangat strategis untuk menyatukan seluruh kekuatan tersebut dalam satu jejaring kemanusiaan Muhammadiyah.
“Melalui One Muhammadiyah One Response, seluruh kekuatan Muhammadiyah harus dapat terhubung. Ketika MDMC, Lazismu, rumah sakit, klinik, kampus, sekolah, masjid, Ortom, media, kader dan relawan bergerak dalam satu koordinasi, kita tidak hanya memiliki lembaga penanggulangan bencana, tetapi membangun sebuah ekosistem kemanusiaan dan ketangguhan masyarakat Muhammadiyah di Sumatera Utara,” jelasnya.
Ia menambahkan, integrasi tersebut bukan hanya akan mempercepat mobilisasi personel, logistik, layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan, tetapi juga mencegah tumpang tindih kegiatan serta memastikan bantuan sampai kepada masyarakat secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Prof. Kamal juga menekankan bahwa kekuatan jejaring tersebut harus dikelola secara profesional, transparan dan akuntabel. Kehadiran Muhammadiyah yang cepat dan terorganisasi ketika masyarakat menghadapi bencana akan semakin meningkatkan kepercayaan publik, yang pada akhirnya menjadi modal sosial penting bagi Muhammadiyah dalam memperluas manfaat gerakan kemanusiaannya.
Sementara itu, Dr. dr. H. Elman Boy, M.Kes., Sp.KKLP., Subsp. FOMC, selaku Ketua MDMC Sumatera Utara, menyampaikan bahwa arahan tersebut akan ditindaklanjuti pasca-Rakernas melalui penguatan konsolidasi MDMC Sumut, termasuk kolaborasi MDMC, Lazismu dan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM Sumut, serta rekrutmen terbuka relawan dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). (***)








