Krisis Keteladanan di Era Digital, Orang Tua Diminta Rebut Kembali Peran dalam Mendidik Anak
INFOMU.CO | Yogyakarta – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak-anak memperoleh informasi, belajar, berinteraksi, hingga mencari figur yang mereka jadikan panutan. Di tengah perubahan tersebut, keluarga menghadapi tantangan yang semakin besar dalam menjalankan fungsi pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mhd. Lailan Arqam mengatakan, persoalan yang dihadapi generasi saat ini tidak dapat diselesaikan dengan sekadar menyalahkan gawai atau teknologi. Menurutnya, persoalan yang lebih mendasar adalah terjadinya krisis keteladanan.
Hal itu disampaikan Lailan Arqam di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad (30/08). Ia mengawali pembahasannya dengan kegelisahan melihat berbagai persoalan sosial yang terus muncul, mulai dari kekerasan hingga kejahatan seksual terhadap anak.
Anak Kini Memiliki Banyak Sumber Pengaruh
Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan kehidupan anak-anak pada era digital. Jika dahulu orang tua dalam mendidik anak terutama berhadapan dengan pengaruh teman dan guru, kini anak-anak berhadapan dengan jauh lebih banyak sumber pengaruh.
“HP ada di dalamnya YouTube, TikTok, game, influencer, ada AI,” ujar Lailan.
Menurutnya, anak-anak sekarang memiliki banyak “guru” yang memengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Perubahan ini juga membuat posisi orang tua dan guru sebagai pusat sumber pengetahuan mengalami pergeseran. Anak dapat memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan melalui mesin pencari, media sosial, maupun teknologi kecerdasan buatan.
Karena itu, orang tua tidak dapat lagi mendidik anak dengan pola yang sama seperti masa lalu. Bahkan ketika anak mengajukan pertanyaan sederhana, orang tua harus mampu memberikan jawaban yang benar, sesuai ilmu pengetahuan, sekaligus disampaikan dengan bahasa yang sesuai dengan usia anak.
Lailan mencontohkan bagaimana seorang anak yang penasaran mengenai asal-usul dirinya dapat dengan mudah mencari jawaban melalui Google atau AI. Jika orang tua tidak hadir memberikan penjelasan yang tepat, anak berpotensi menemukan informasi atau gambar yang belum semestinya mereka akses.
Di sisi lain, tingginya penggunaan internet juga menunjukkan besarnya ruang yang kini ditempati teknologi dalam kehidupan anak. Lailan menyebut data UNICEF yang menunjukkan 99,4 persen anak Indonesia menggunakan internet dengan rata-rata penggunaan sekitar lima jam per hari.
Kondisi tersebut membuat tantangan pendidikan anak semakin kompleks. Anak dapat mengakses hiburan, informasi, figur publik, dan berbagai bentuk konten hampir sepanjang waktu.
Namun, Lailan menegaskan bahwa teknologi tidak dapat dijadikan satu-satunya pihak yang disalahkan.
“Kita enggak bisa menyalahkan teknologi ataupun gawainya, karena bukan itu akar dari masalahnya,” katanya.
Menurutnya, teknologi merupakan bagian dari kemajuan ilmu pengetahuan yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia. Persoalan yang lebih penting adalah siapa yang mengendalikan dan siapa yang dikendalikan.
Pertanyaan yang perlu diajukan orang tua, lanjut Lailan, adalah apakah anak menggunakan teknologi atau justru teknologi yang berhasil mengambil alih perhatian anak. Ketika anak lebih banyak memperoleh pengaruh dari layar daripada keluarga, maka persoalan yang muncul bukan sekadar persoalan penggunaan gawai, tetapi persoalan pendidikan dan keteladanan.
Tiga Krisis Ketika Anak Kehilangan Teladan
Ia menyebut setidaknya terdapat tiga krisis yang muncul ketika anak kehilangan sosok teladan, yaitu krisis otoritas, krisis identitas, dan krisis perhatian.
Krisis otoritas terjadi ketika anak lebih mempercayai perkataan influencer daripada nasihat orang tua. Figur yang mereka lihat melalui layar dapat menjadi rujukan perilaku, bahkan ketika perilaku tersebut berisiko atau tidak sesuai dengan nilai yang seharusnya ditanamkan.
Krisis kedua adalah krisis identitas. Anak dapat membangun persepsi negatif terhadap dirinya sendiri dan merasa kurang dibandingkan orang lain. Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami nilai-nilai positif dalam dirinya sekaligus memberikan pemahaman konkret mengenai nilai keislaman.
Lailan mencontohkan konsep takwa. Anak, menurutnya, perlu mendapatkan penjelasan yang konkret mengenai bagaimana takwa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berkata baik, bersikap lembut, menjaga kebersihan, dan menjalankan kebiasaan baik.
Adapun krisis ketiga adalah krisis perhatian. Media sosial dapat membuat seseorang terbiasa mencari pengakuan melalui jumlah tanda suka, komentar, dan tayangan. Kebutuhan terhadap validasi yang berlebihan dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi hubungan seseorang dengan pasangan, anak, maupun lingkungan sosialnya.
Orang Tua Harus Menjadi Role Model
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Lailan menekankan pentingnya kembali kepada pola pendidikan Rasulullah yang mengedepankan kasih sayang. Pendidikan anak, menurutnya, tidak cukup dilakukan dengan larangan dan perintah, tetapi harus disertai cinta, perhatian, dialog, pembiasaan, dan pengarahan.
“Anak-anak kita itu bukan membutuhkan remote control, tapi dia butuh role model,” tegasnya.
Orang tua, kata Lailan, perlu menjadi figur yang dapat dilihat dan ditiru secara langsung oleh anak. Anak perlu melihat ayah dan ibunya beribadah, bersikap santun, mampu berdialog, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menunjukkan cara menggunakan teknologi secara sehat.
Ia mengingatkan bahwa orang tua tidak dapat menuntut anak melakukan sesuatu apabila mereka sendiri tidak memberikan contoh serupa. Ia mengutip Surah ash-Shaff ayat 2–3 yang mengecam orang-orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengerjakannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, orang tua meminta anak segera melaksanakan salat ketika azan berkumandang. Namun, pada saat yang sama orang tua masih sibuk dengan telepon genggam. Menurut Lailan, ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan semacam ini menjadi persoalan serius dalam pendidikan anak.
Keteladanan juga perlu dibangun melalui hal-hal sederhana. Rasulullah saw. sendiri merupakan teladan dalam berbagai peran, baik sebagai suami, pemimpin, anggota masyarakat, orang berilmu, maupun panglima. Karena itu, pendidikan Islam menurut Lailan menempatkan keteladanan sebagai pendidikan yang paling dasar dan utama.
Sekolah terbaik, fasilitas terbaik, dan berbagai teori pendidikan tidak akan cukup apabila anak tidak mendapatkan contoh yang baik di rumah. Anak yang belajar salat di sekolah, misalnya, akan mengalami kebingungan jika di rumah tidak melihat orang tuanya melaksanakan salat.
Menurut Lailan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan perilaku anak tidak dapat begitu saja dibebankan kepada sekolah. Ketika terjadi masalah yang melibatkan pelajar, masyarakat sering kali pertama kali menghubungi kepala sekolah. Padahal, keluarga memiliki peran yang sangat besar karena rumah merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak.
Karena itu, ia mengajak orang tua dan guru membangun kerja sama sekaligus memberikan kepercayaan terhadap proses pendidikan. Orang tua perlu memahami bahwa menjadi ayah dan ibu merupakan tanggung jawab pendidikan tersendiri.
Keteladanan juga tidak berhenti di lingkungan keluarga. Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan perilaku yang baik kepada anak-anak di sekitarnya. Kepedulian sosial perlu dibangun sehingga masyarakat tidak bersikap acuh hanya karena anak yang melakukan kesalahan bukan bagian dari keluarganya.
Lima Ruang Keteladanan di Era Digital
Lailan kemudian mengajak keluarga untuk “merebut kembali” ruang keteladanan yang semakin luas di era digital. Menurutnya, keteladanan dapat diwujudkan setidaknya dalam lima bidang.
Pertama, keteladanan dalam ibadah dengan membiasakan anak melihat orang tua melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an. Kedua, keteladanan dalam penggunaan teknologi dengan membuat aturan mengenai waktu dan ruang penggunaan gawai serta memperhatikan konten yang dikonsumsi anak.
Ketiga, keteladanan dalam mengelola emosi, termasuk menunjukkan kepada anak bagaimana meminta maaf, berdialog, dan menyikapi perbedaan pendapat. Keempat, keteladanan dalam literasi dengan menghadirkan budaya membaca dan ilmu pengetahuan di rumah. Kelima, keteladanan dalam kepedulian sosial melalui kegiatan nyata seperti menjenguk orang sakit, bersedekah, dan membantu tetangga.
Ia juga menawarkan sejumlah kebiasaan sederhana yang dapat dimulai keluarga. Salah satunya menyediakan waktu setidaknya 10 menit setiap hari untuk berbicara dengan anak tanpa gangguan telepon genggam.
Kebiasaan makan bersama juga perlu dihidupkan kembali sebagai ruang dialog keluarga. Orang tua dapat bertanya mengenai aktivitas anak di sekolah, mendengarkan ceritanya, dan membangun komunikasi tanpa gangguan layar.
Selain itu, keluarga dapat membiasakan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, menceritakan kisah para nabi dan orang-orang yang berhasil memperbaiki kehidupannya, serta menanyakan kepada anak mengenai apa yang mereka lihat dan lakukan di internet tanpa langsung menghakimi.
Perubahan Harus Dimulai dari Orang Tua
Evaluasi juga perlu dilakukan oleh orang tua terhadap dirinya sendiri. Lailan mengajak orang tua bertanya secara jujur, apabila anak meniru cara berbicara, cara marah, maupun cara menggunakan telepon genggam mereka, apakah perilaku tersebut merupakan sesuatu yang membanggakan.
“Yang harus pertama berubah bukanlah anak kita, tapi kita sebagai orang tua,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan orang tua pada era digital bukan sekadar membatasi apa yang dilihat anak melalui layar. Orang tua harus memastikan bahwa ketika anak mengalihkan pandangan dari layar dan kembali melihat rumah, mereka menemukan figur yang paling layak untuk ditiru.
Lailan menutup dengan mengingatkan kembali pentingnya keteladanan sebagai fondasi pendidikan dan perubahan sosial. Ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan, keteladanan tetap menjadi salah satu jalan penting untuk membangun generasi yang lebih baik.
“Teladan, teladan, teladan. Pokoknya keteladanan itu adalah hal yang paling dasar, paling utama dalam segala situasi yang ada,” katanya.
Ia berharap keluarga mampu melahirkan generasi yang berkemajuan, unggul, serta tetap menjaga iman, amal, dan akhlak sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. (muhammadiyah.or.id)



