Digitalisasi Muhammadiyah Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Transformasi Nalar
INFOMU.CO | Jakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menuturkan bahwa Muhammadiyah perlu lebih banyak mengakumulasi program-programnya untuk mempercepat proses transformasi Muhammadiyah sebagai organisasi yang modern, maju dan profesional.
Hal tersebut disampaikan Haedar dalam Penandatanganan Nota Kesepahaman Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan PT Indosat TBK, di Aula Kantor PP Muhammadiyah pada Rabu (19/8).
“Hal tersebut sesuai mandat dari dua muktamar yang lalu. Dan insyaAllah, Muhammadiyah secara umum telah menjadi organisasi yang relatif lebih maju, profesional dan modern,” ujarnya.
Haedar juga menerangkan, kekuatan Muhammadiyah untuk membangun ekosistem pengetahuan dan infrastruktur budaya untuk mengembangkan teknologi informasi tentu saja memerlukan jaringan.
“Di era post modern atau abad dua puluh satu ini, ditentukan oleh kekuatan-kekuatan jaringan yang menguasai teknologi atau sistem digital. Kekuatan inilah yang sangat menghegemoni dunia,” tuturnya.
Namun menurutnya, sistem pengetahuan dari budaya juga perlu dijadikan landasan. Haedar mengungkapkan teknologi IT dan AI tidak bisa hanya diterima begitu saja, tanpa memperkokoh ekosistem pengetahuan dan budayanya.
Haedar menuturkan, Sutan Takdir Alisjahbana dulu pernah mencetuskan “Polemik Kebudayaan” di tahun 1930-an, yang beranggapan bahwa cara untuk maju adalah dengan mengikuti kemajuan barat.
Namun, gagasan tersebut ditolak oleh banyak pihak. Mereka menyadari bahwa Indonesia dan negara-negara bagian Timur lainnya memiliki landasan spiritualitas yang kuat, sehingga cenderung melemahkan rasionalitasnya.
“Maka, diperlukan konvergensi yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas dan budaya Timur dengan teknologi, sains, serta nalar. Saya yakin Muhammadiyah dengan gerakan kemajuannya akan mempercepat langkah tersebut,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal itu, menurutnya, tidak bisa dijalankan tanpa kolaborasi dengan pihak lain. Haedar mengajak seluruh masyarakat untuk bersama melakukan transformasi nalar.
“Ada sebuah logika ‘kasur tua’, dimana mereka merasa menguasai dunia hanya dengan menjadi mayoritas, tapi tertinggal dari nalar, sains, teknologi dan ekosistem. Kita tidak boleh seperti itu,” tegasnya.
Haedar menekankan dakwah kemajuan kebudayaan masyarakat yang sedang dilakukan Muhammadiyah untuk membangun sebuah ekosistem pengetahuan. Untuk mencapainya, Haedar mengatakan dibutuhkan sistem teknologi yang mempercepat itu.
“Maka media sosial dan media baru lainnya perlu digunakan untuk mempercepat langkah kita mebangun strategi kebudayaan, melalui pola dakwah,” katanya.
Maka dari itu, Haedar menyebut transformasi digitalisasi ini sebagai sebuah tugas mulia. Bukan hanya sekadar membangun ekosistem pengetahuan untuk menguasai sains, tetapi tetap berpijak pada sistem sosial budaya yang kita miliki. (muhammadiyah.or.id)



