Filosofi Elang, Terbang Tinggi dengan Visi, Bertahan Kuat dalam Badai
(Tulisan ke-69 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Univeristas Negeri Medan
Mengapa Allah menciptakan badai?
Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh. Sebab hampir semua makhluk berusaha menghindarinya. Ketika langit menggelap, angin bertiup kencang, dan hujan mulai turun, burung-burung kecil segera mencari tempat berlindung. Pepohonan bergoyang. Daun-daun berguguran. Alam tampak ketakutan menghadapi amukan cuaca.
Namun ada seekor burung yang bersikap berbeda. Ia tidak lari dari badai. Ia justru terbang menyongsongnya. Burung itu adalah elang. Ketika arus udara bergerak naik akibat badai, elang membentangkan kedua sayapnya. Ia tidak menghabiskan tenaga dengan mengepak sekuat-kuatnya. Ia memanfaatkan kekuatan angin untuk terbang lebih tinggi daripada sebelumnya. Apa yang bagi burung lain menjadi ancaman, bagi elang justru menjadi kesempatan. Alam kembali berbicara kepada manusia. Allah tidak hanya mengajarkan hikmah melalui wahyu yang dibaca, tetapi juga melalui ciptaan-Nya yang terbentang di hadapan mata. Sebagaimana firman-Nya,
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Elang adalah salah satu tanda itu.
Ia mengajarkan bahwa kualitas seorang pemimpin tidak terlihat ketika langit cerah, tetapi ketika badai datang.
Badai Tidak Selalu untuk Dihindari
Dalam hidup, setiap kader pasti mengalami badai.
Ada yang diuji dengan fitnah. Ada yang diuji oleh kegagalan. Ada yang kecewa karena amanah tidak datang. Ada yang lelah karena pengorbanannya tidak dihargai. Ada pula yang harus menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. Sebagian orang memilih berhenti. Sebagian lagi menyalahkan keadaan. Namun elang mengajarkan pelajaran yang berbeda. Ia tidak bertanya mengapa badai datang. Ia bertanya bagaimana memanfaatkan badai untuk naik lebih tinggi.
Bukankah demikian pula Allah mendidik para nabi dan orang-orang saleh?
Tidak ada pribadi besar yang lahir dari kehidupan yang selalu mudah.
Nabi Yusuf ‘alaihis salam melewati sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara sebelum memimpin negeri.
Nabi Musa ‘alaihis salam menghadapi Fir’aun sebelum membebaskan Bani Israil.
Nabi Muhammad ﷺ menghadapi pemboikotan, penghinaan, dan hijrah sebelum Islam menerangi dunia.
Badai bukan tanda Allah meninggalkan hamba-Nya.
Sering kali badai adalah cara Allah meninggikan derajat mereka.
Penglihatan yang Melampaui Jarak
Elang memiliki penglihatan yang luar biasa tajam.
Dari ketinggian, ia mampu melihat mangsa yang hampir tidak tampak oleh mata manusia.
Mengapa Allah menganugerahkan kemampuan itu?
Karena makhluk yang terbang tinggi membutuhkan pandangan yang jauh.
Begitu pula seorang kader.
Muhammadiyah tidak cukup dipimpin oleh orang yang hanya sibuk menyelesaikan persoalan hari ini. Persyarikatan membutuhkan kader yang mampu membaca masa depan. Melihat perubahan ilmu pengetahuan. Mempersiapkan generasi digital. Menjawab tantangan kecerdasan buatan, krisis lingkungan, kemiskinan, dan perubahan sosial. Visi adalah kemampuan melihat apa yang belum terlihat oleh kebanyakan orang. Pemimpin yang kehilangan visi akan sibuk mengurus rutinitas. Pemimpin yang memiliki visi akan membangun peradaban.
Elang Tidak Memakan Bangkai
Salah satu karakter elang adalah berburu mangsa yang hidup. Ia tidak menunggu sisa hasil buruan makhluk lain. Ia memilih bekerja daripada bergantung. Pelajaran ini sangat berharga. Dalam kehidupan organisasi, selalu ada godaan untuk menikmati hasil tanpa ikut membangun. Ada yang ingin memperoleh kehormatan tanpa pengabdian. Ada yang ingin dikenal tanpa berkarya. Ada yang ingin memimpin tanpa pernah belajar melayani. Elang mengajarkan kehormatan. Bahwa kemuliaan diperoleh melalui usaha yang halal, kerja keras, dan keberanian menghadapi tantangan.
Bukan dengan mengambil apa yang telah dibangun oleh orang lain.
Induk Elang Tidak Membesarkan Anak yang Manja
Ada pemandangan yang mungkin tampak kejam. Ketika anak elang mulai tumbuh, induknya tidak terus-menerus menyuapi dan melindunginya. Ia justru mendorong anaknya keluar dari sarang. Anak elang terjatuh. Panik. Mengepakkan sayapnya. Belajar terbang. Ketika hampir menyentuh tanah, sang induk menyambutnya kembali. Lalu proses itu diulang. Berkali-kali. Bukan karena sang induk tidak sayang. Justru karena kasih sayangnya. Ia tahu bahwa elang tidak akan pernah menjadi penguasa langit jika terus hidup dalam kenyamanan sarang.
Bukankah ini hakikat kaderisasi?
Kaderisasi bukan memanjakan kader. Kaderisasi adalah memberi ruang untuk belajar, mencoba, gagal, bangkit, dan akhirnya mampu memimpin. Organisasi yang terlalu melindungi kader akan melahirkan generasi yang bergantung. Sebaliknya, organisasi yang berani memberi kepercayaan akan melahirkan pemimpin.
Saatnya Memperbarui Diri
Elang mengalami masa pergantian bulu. Bulu lama akan rontok, lalu digantikan oleh yang baru. Proses ini membuatnya tetap mampu terbang dengan kuat. Alam mengajarkan bahwa kehidupan memerlukan pembaruan. Muhammadiyah mengenalnya sebagai tajdid. Seorang kader tidak boleh berhenti belajar. Tidak boleh merasa cukup dengan keberhasilan masa lalu. Tidak boleh puas hanya karena pernah memimpin.
Ilmu harus diperbarui. Cara berpikir harus diperbarui. Metode dakwah harus diperbarui. Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah tauhid, akhlak, dan komitmen kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Pembaruan bukan berarti kehilangan jati diri. Pembaruan adalah menjaga nilai dengan cara yang selalu relevan.
Jangan Menjadi Burung yang Takut Terbang
Barangkali tantangan terbesar kader hari ini bukanlah badai. Melainkan rasa takut. Takut gagal. Takut dikritik. Takut memulai. Takut diberi amanah. Takut keluar dari zona nyaman. Padahal langit tidak pernah dimiliki oleh burung yang hanya bertengger di dahan. Langit hanya dimiliki oleh mereka yang berani mengepakkan sayap. Muhammadiyah membutuhkan kader yang memiliki keberanian moral.
Berani berkata benar. Berani mengambil tanggung jawab. Berani membuka jalan baru. Berani menjadi pelopor. Bukan karena ingin dipuji, tetapi karena menyadari bahwa dakwah tidak boleh berhenti hanya karena kita takut melangkah.
Terbang Lebih Tinggi untuk Membawa Lebih Banyak Manfaat
Suatu hari nanti, badai kehidupan akan berlalu. Jabatan akan berakhir. Masa kepengurusan akan berganti. Namun keberanian yang pernah kita tanam akan hidup dalam generasi sesudah kita. Sebagaimana elang memanfaatkan badai untuk mencapai langit yang lebih tinggi, begitulah seorang kader seharusnya memandang setiap ujian. Bukan sebagai alasan untuk menyerah. Melainkan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Mungkin itulah pelajaran terbesar dari seekor elang. Ia tidak meminta langit selalu cerah. Ia hanya memastikan sayapnya selalu siap menghadapi angin. Maka jadilah seperti elang. Miliki pandangan yang jauh. Beranilah menghadapi badai. Didik generasi agar mampu terbang sendiri. Perbarui diri tanpa kehilangan jati diri. Sebab kader Muhammadiyah yang sejati bukanlah mereka yang sekadar berhasil melewati zamannya.
Melainkan mereka yang mampu mengangkat umat untuk terbang lebih tinggi menuju peradaban Islam yang berkemajuan.
Wallāhu a’lam bish shawāb.



