Antara Tinta dan Pena: Menyalakan Nalar Kritis Kader IMM di Tengah Arus Zaman
Arus modernisasi global hari ini tidak lagi datang dengan dentuman revolusi yang bising, melainkan merayap secara senyap melalui layar gawai, algoritma media sosial, dan budaya instan yang melemahkan daya tahan berpikir kritis. Di tengah ekosistem digital yang serba cepat ini, anak muda termasuk mahasiswa kerap terdistraksi oleh riuhnya pencitraan, sehingga melupakan esensi utama dari dunia kampus: tradisi membaca, merenung, dan menulis. Bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), situasi ini merupakan alarm darurat. Jika kader-kadernya berhenti membaca realitas dan berhenti menorehkan gagasan, maka organisasi akan kehilangan fungsi vitalnya sebagai lokomotif pencerahan peradaban.
Menghadapi tantangan zaman yang kian cair dan tanpa bentuk ini, kader IMM tidak boleh hanya merespons keadaan dengan aksi-aksi jalanan yang reaktif tanpa fondasi konsepsional yang matang. Dalam pandangan salah satu ulama dan pemikir besar Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo, kemajuan umat Islam sangat bergantung pada seberapa jauh mereka mampu menguasai ilmu pengetahuan dan mengintegrasikannya dengan keluhuran akhlak. Semangat ini sejalan dengan apa yang sering digaungkan oleh Buya Syafii Maarif bahwa seorang intelektual berdaulat harus berani berdiri di atas prinsip kebenaran, menolak segala bentuk pembodohan, dan menyuarakan suara kaum tertindas melalui ketajaman pena. Bagi Buya Syafii, tinta seorang penulis suci harganya karena ia ditulis dengan keberpihakan pada kemanusiaan yang universal.
Di sinilah letak strategis instrumen tinta dan pena. Menulis dan merumuskan gagasan kritis bukanlah aktivitas hiasan atau sekadar hobi akademis bagi seorang kader, melainkan sebuah bentuk perlawanan kultural terhadap kebodohan dan hegemoni informasi yang menyesatkan. Melalui goresan pena, seorang kader IMM sedang memetakan masalah sosial, membongkar ketidakadilan struktural, sekaligus merumuskan cetak biru masa depan bangsa. Tanpa tradisi literasi yang kuat, gerakan mahasiswa hanya akan menjadi buih di lautan ramai terdengar dipermukaan, namun kosong di dalam, mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan pragmatis kekuasaan sesaat.
Lebih lanjut, jika ditarik dalam payung pemikiran Kuntowijoyo tentang Ilmu Sosial Profetik, budaya literasi dan nalar kritis harus diarahkan untuk mewujudkan transformasi sosial yang konkret. Pena menjadi alat liberasi untuk memerdekakan masyarakat dari cengkeraman kebodohan dan kemiskinan struktural, sekaligus menjadi medium humanisasi untuk memulihkan martabat manusia yang tergilas modernisasi. Ketika seorang kader menuangkan ide-ide profetiknya ke atas kertas, ia sedang menjalankan misi keislaman yang rahmatan lil alamin menghubungkan kesadaran transendental dengan kerja-kerja nyata di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, sudah saatnya kader IMM kembali memegang erat tinta dan penanya dengan penuh kesadaran historis. Kampus harus kembali dihidupkan sebagai rahim gagasan besar, bukan sekadar tempat mengejar kelulusan administratif. Menyalakan nalar kritis di tengah arus zaman yang bising ini adalah harga mati agar ikatan tidak kehilangan arah kompas perjuangannya. Sebab, sebuah peradaban besar tidak pernah lahir dari teriakan yang hampa, melainkan dicatat abadi oleh ketajaman tinta pena para cendekiawan yang setia pada kebenaran dan umatnya. (Ahmad Rody Nasution)





