Tiada Pekan Tanpa Perkaderan: Menjaga Ruh Islam Berkemajuan
Oleh : Jufri
Pagi ini, baru membuka handphone dan masuk ke grup Alumni Darul Arqam, saya langsung membaca informasi tentang pengkaderan di Sibolga yang baru saja dibuka oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Ustadz Mario Kasduri pada hari Jum’at 14 Agustus 2026 , bersama Ketua PDM Kota Sibolga, Ustadz Yusran Pasaribu.
Tidak lama kemudian, saya membaca informasi dari Instruktur Nasional Bapak Dr Irfan Islami yang membagikan jadwal pengkaderan yang sedang dan akan berlangsung sepanjang tahun 2026 di berbagai daerah. Membaca jadwal itu, saya seperti diingatkan kembali pada satu hal yang sering kita bicarakan, tetapi kadang belum kita kerjakan secara sungguh-sungguh: masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh keseriusan kita menyiapkan kader.
Dari informasi tersebut terlihat bagaimana perkaderan terus bergerak. Di Sumatera Utara ada Baitul Arqam Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sibolga. Di Kalimantan Timur ada Baitul Arqam AMM Kota Samarinda. Sebelumnya ada PCM Mantrijeron di Yogyakarta dan Baitul Arqam dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya. Ke depan masih ada perkaderan dosen, tenaga kesehatan dan nonkesehatan, pejabat struktural rumah sakit hingga PCM-PRM baru di berbagai wilayah.
Ada sesuatu yang menarik dari rangkaian ini. Perkaderan ternyata tidak hanya menyentuh pimpinan organisasi. Ia masuk ke berbagai ruang kehidupan Muhammadiyah.
Dan memang demikian seharusnya.
Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan kader di ruang sidang organisasi, tetapi juga kader di ruang kelas, rumah sakit, kampus, masjid, cabang, ranting, organisasi otonom, amal usaha dan berbagai ruang pengabdian lainnya.
Kaderisasi bukan sekadar menyiapkan orang untuk menduduki jabatan. Kaderisasi adalah menyiapkan manusia untuk menjaga ruh sebuah gerakan.
Karena itu saya tertarik dengan istilah TPTP: Tiada Pekan Tanpa Perkaderan.
Kalimatnya sederhana, tetapi gagasannya besar.
Bayangkan apabila setiap pekan di berbagai penjuru negeri selalu ada proses perkaderan. Ada Baitul Arqam di masjid, ada perkaderan pimpinan, ada pembinaan AMM, ada kaderisasi dosen, ada penguatan kader tenaga kesehatan, ada pembinaan cabang dan ranting, dan ada proses menyiapkan generasi muda untuk mengambil estafet kepemimpinan.
Jika dilakukan secara konsisten, perkaderan tidak lagi menjadi agenda tambahan. Ia menjadi budaya organisasi.
Dan saya kira inilah yang dibutuhkan Muhammadiyah hari ini.
Muhammadiyah telah berjalan lebih dari satu abad. Banyak generasi telah lahir, tumbuh dan kemudian memberikan pengabdian. Para pendahulu telah meletakkan fondasi yang kuat. Kita menikmati hasil perjuangan mereka hari ini.
Tetapi setiap generasi memiliki tugasnya sendiri.
Generasi sekarang tidak mungkin mengulang persis apa yang dilakukan generasi pendahulu. Zaman telah berubah. Tantangan berubah. Teknologi berubah. Cara manusia berkomunikasi berubah. Bahkan cara orang belajar, bekerja dan membangun relasi sosial juga berubah.
Kecerdasan buatan, misalnya, sedang mengubah banyak hal. Dunia pendidikan, kesehatan, bisnis, komunikasi dan bahkan pola dakwah mengalami transformasi.
Karena itu, kader Muhammadiyah masa depan harus memiliki kemampuan membaca zaman.
Tidak cukup hanya memahami sejarah Muhammadiyah. Tidak cukup hanya hafal doktrin dan jargon organisasi. Kader harus memiliki karakter, wawasan, kompetensi, kemampuan beradaptasi dan keberanian menghadirkan solusi.
Di sinilah Islam Berkemajuan menemukan relevansinya.
Islam Berkemajuan bukan Islam yang hanya berbicara tentang masa lalu. Ia adalah cara memahami dan mengamalkan Islam untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, kader Islam Berkemajuan harus memiliki akar yang kuat pada nilai, tetapi sekaligus memiliki kemampuan untuk menjawab perubahan.
Berakar kuat, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk tumbuh.
Maka perkaderan utama dan perkaderan fungsional harus berjalan bersama.
Perkaderan utama memberikan fondasi ideologi, nilai, karakter dan orientasi gerakan. Sedangkan perkaderan fungsional membekali kader dengan kemampuan sesuai bidang pengabdiannya.
Kader dosen harus profesional sebagai dosen sekaligus memahami misi Muhammadiyah. Kader dokter dan tenaga kesehatan harus unggul dalam profesinya sekaligus memahami nilai pelayanan sebagai bagian dari dakwah. Kader pengelola amal usaha harus memiliki kemampuan manajerial sekaligus memiliki integritas ideologis.
Dengan demikian, perkaderan tidak membuat orang hanya menjadi kader organisasi, tetapi menjadi kader kehidupan.
Kader yang mampu membawa nilai Muhammadiyah ke mana pun ia berada.
Sebab ukuran keberhasilan perkaderan bukan hanya berapa banyak peserta yang hadir. Bukan pula hanya berapa banyak sertifikat yang dibagikan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi setelah perkaderan selesai?
Apakah peserta menjadi lebih matang? Apakah pemahamannya bertambah? Apakah karakternya semakin kuat? Apakah ia menjadi lebih produktif? Apakah ia mampu menggerakkan orang lain? Apakah ada perubahan nyata di lingkungan tempat ia kembali?
Di sinilah perkaderan harus mulai berbicara tentang dampak.
Kita tidak boleh puas hanya karena sebuah kegiatan berjalan sesuai jadwal. Perkaderan harus menghasilkan manusia yang bergerak.
Sebab kader yang baik bukan hanya pandai berbicara tentang Islam Berkemajuan, tetapi mampu menghadirkan Islam Berkemajuan dalam tindakan.
Muhammadiyah boleh memiliki kampus yang besar, rumah sakit yang modern, sekolah yang banyak, masjid yang berkembang dan berbagai amal usaha lainnya. Semua itu penting.
Tetapi ada satu hal yang jauh lebih menentukan: siapa yang akan menghidupkan semuanya pada masa yang akan datang?
Gedung bisa berdiri puluhan tahun. Aset bisa diwariskan. Sistem bisa dibuat. Teknologi bisa diperbarui.
Tetapi ruh gerakan tidak bisa diwariskan begitu saja.
Ia harus ditanamkan, dirawat dan dihidupkan dari generasi ke generasi.
Karena itulah saya melihat informasi yang saya baca pagi ini dari grup Alumni Darul Arqam bukan sekadar jadwal kegiatan. Ada pesan besar di baliknya: di berbagai tempat, Muhammadiyah sedang menyiapkan masa depan.
Dari Sibolga, Samarinda, Yogyakarta, Surabaya, Jawa Timur hingga Jakarta. Dan semoga terus meluas ke seluruh Indonesia bahkan dunia internasional.
TPTP akhirnya bukan sekadar Tiada Pekan Tanpa Perkaderan, tetapi semangat untuk memastikan bahwa tidak ada masa depan Muhammadiyah tanpa kader.
Kaderisasi adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan.
Kita menerima Muhammadiyah dari generasi terdahulu bukan untuk sekadar menikmatinya, tetapi untuk menjaganya, mengembangkannya dan mewariskannya dalam keadaan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Maka mari kita gerakkan perkaderan utama dan perkaderan fungsional secara lebih massif, prosedural, adaptif dan berdampak.
Sebab menjaga eksistensi Muhammadiyah bukan hanya dengan memperbesar amal usaha, tetapi juga dengan memastikan ruh Islam Berkemajuan tetap hidup di dalam diri kader-kadernya.
Dan mungkin pada akhirnya, inilah makna paling sederhana dari TPTP:
Tiada Pekan Tanpa Perkaderan, karena tiada masa depan gerakan tanpa kader.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






