Haedar Nashir: Gramasurya Harus Menjadi Cahaya dan Api Kemajuan Muhammadiyah
INFOMU.CO | Yogyakarta – Filosofi hidup manusia sejatinya adalah memohon anugerah Allah sekaligus mengusahakan hadirnya berbagai kebaikan. Karena itu, anugerah tidak cukup ditunggu, melainkan harus dijemput dengan ikhtiar, kerja keras, dan kesungguhan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Milad ke-14 PT Gramasurya yang mengusung tema “14 Tahun Gramasurya Bersinergi: Merangkai Kolaborasi, Merawat Amanah Berkelanjutan” di SM Tower Yogyakarta, pada Jumat (14/8).
“Gramasurya ini adalah salah satu anugerah yang kita buat, agar Allah datangkan kebaikan kepada kita,” ujarnya.
Haedar mengungkapkan rasa syukurnya atas perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang percetakan tersebut. Menurutnya, setiap proses pertumbuhan tidak pernah terlepas dari dinamika dan tantangan.
“Tetap semangat. Tentu ini adalah proses yang akan terus bertumbuh, yang dari proses awalnya hingga sekarang pasti dipenuhi dinamika,” katanya.
Haedar menjelaskan bahwa sebuah perusahaan tidak lahir secara instan, melainkan melalui tahapan demi tahapan (ṭabaqan ‘an ṭabaq). Hal itu juga terjadi pada Muhammadiyah yang dirintis oleh KH Ahmad Dahlan hingga berkembang menjadi gerakan besar seperti saat ini.
Ia juga menyinggung peran Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah. Menurut Haedar, pidato Nyai Walidah pada tahun 1946 yang dimuat di berbagai surat kabar menjadi fenomena penting karena menampilkan gagasan kemajuan dari seorang perempuan di ruang publik.
Haedar menyebut bahwa perjuangan para tokoh tersebut lahir dari beruf, yang dalam bahasa Jerman berarti pekerjaan, tetapi dalam konteks sosiologis juga dimaknai sebagai “jiwa yang hidup”.
“Jiwa yang hidup itu lahir dari benturan-benturan dalam menjalani kehidupan. Sehingga dinamika yang dihadapi akan menjadi obor yang terus menyala dan inspirasi yang selalu hidup dalam jiwa setiap tokoh,” ungkapnya.
Menurut Haedar, semangat serupa juga ditunjukkan para tokoh Muhammadiyah, termasuk KH AR Fachruddin yang tetap berkiprah di Muhammadiyah sambil menjalankan aktivitas usahanya.
“Itu adalah beruf, jiwa yang hidup dari pergumulan yang dilakukan oleh para tokoh kita. Di kemudian hari bahkan beliau memperoleh gelar Pahlawan Nasional,” ujarnya.
Karena itu, Haedar menekankan bahwa kesungguhan dalam berusaha merupakan bagian dari sunnatullah. Kesungguhan tersebut perlu diwujudkan melalui badzlul juhdi, yakni mengerahkan seluruh kemampuan secara optimal.
Haedar menuturkan, sebelum berdirinya Gramasurya, majalah Suara Muhammadiyah dicetak di percetakan milik pengusaha keturunan Tionghoa yang saat itu menjadi salah satu percetakan terbesar di Yogyakarta.
“Pada saat itu kita pindah baik-baik dengan memberikan waktu enam bulan. Mereka merasa kehilangan. Alhamdulillah, saat ini kita merupakan yang terbesar di Yogyakarta,” ujarnya.
Menurut Haedar, perjalanan 14 tahun Gramasurya merupakan capaian yang luar biasa. Ia mengibaratkannya sebagai fi’il madhi, yaitu pekerjaan yang telah dilakukan di masa lalu, sedangkan tahun ke-15 dan seterusnya adalah fi’il mudhari’, yaitu pekerjaan yang akan datang.
“Al-mustaqbal atau masa depan merupakan sesuatu yang harus kita rebut agar menjadi lebih baik dari al-madhi,” katanya.
Ia mencontohkan semangat KH Ahmad Dahlan yang tetap mengurus Muhammadiyah meskipun dalam kondisi sakit. Bagi Haedar, hal tersebut mencerminkan etos pengkhidmatan yang dilandasi keikhlasan dan kesungguhan.
“Ujrah yang didapat dengan ikhlas akan menjadi dua kali lipat. Ikhlas saja tidak cukup jika belum dibarengi dengan bersungguh-sungguh,” ujarnya.
Haedar menambahkan, kesungguhan harus dibangun melalui etos kerja yang tinggi dan karakter yang kuat.
“Karakter adalah karakter Muhammadiyah: sedikit bicara, banyak bekerja. Itulah yang dinamakan etos kerja,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kebersamaan dalam jamaah. Dari kebersamaan akan lahir kolaborasi, rasa saling percaya (trust), dan profesionalitas yang menjadi kekuatan Muhammadiyah.
Menjelang akhir sambutannya, Haedar mengingatkan pentingnya menjaga cita-cita besar Muhammadiyah, yaitu dakwah dan tajdid untuk membangun masyarakat yang makmur dan menghadirkan peran rahmatan lil ‘alamin.
Menurutnya, bekerja di Persyarikatan akan menghadirkan kebahagiaan apabila dilandasi ketulusan dan keikhlasan.
“Gramasurya harus terus menjadi cahaya dan api yang membawa kemajuan bagi umat dan bangsa melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Insyaallah akan terus membawa kemajuan,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)






