Ketika “Insya Allah” Menjadi Kunjungan ke Simeulue
Oleh: Jufri
Pada bulan Juni 2025 yang lalu, saya bersama Mas Abdul Qafur, Instruktur MPKSDI Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, berkesempatan mengunjungi Pulau Simeulue, tepatnya Kota Sinabang, ibu kota Kabupaten Simeulue. Kami hadir untuk memberikan pembekalan kepada guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah se-Kabupaten Simeulue. Sebuah perjalanan yang tidak hanya meninggalkan jejak tugas, tetapi juga menyisakan kesan mendalam tentang semangat dakwah dan pendidikan di sebuah pulau yang berada di tepian Samudera Hindia.
Kami disambut dengan penuh kehangatan, layaknya keluarga yang telah lama saling mengenal. Ada rasa akrab yang sulit dijelaskan. Di antara yang menyambut kami adalah Ustadz Maulana Malik Safii , yang telah bermukim di Sinabang sejak awal tahun 2010. Beliau merupakan junior kami di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Negeri Medan (UNIMED) dan hingga kini hubungan kami tetap terjalin erat dalam suasana kekeluargaan. Kehadirannya membuat kami merasa tidak sedang bertamu di tempat yang jauh, tetapi seperti pulang menemui saudara sendiri.
Yang menarik, meskipun Simeulue berada di Provinsi Aceh, nuansanya terasa begitu dekat dengan Sumatera Utara, bahkan juga Sumatera Barat. Sinabang seolah menjadi titik temu tiga budaya yang hidup berdampingan secara harmonis.
Suasana Acehnya tetap terasa kuat. Warung kopi bertebaran di berbagai sudut kota, menjadi ruang perjumpaan masyarakat sebagaimana lazim dijumpai di berbagai daerah di Aceh. Namun, di sisi lain, tidak sulit menemukan warga yang berasal dari Sumatera Utara maupun Sumatera Barat. Di Simeulue hidup berdampingan berbagai suku, mulai dari Aceh, Mandailing, Minangkabau, hingga Jawa. Bahkan, bahasa yang digunakan masyarakat di Kota Sinabang pun sangat dekat dengan bahasa Minangkabau.
Menariknya lagi, masyarakat Simeulue memiliki beberapa bahasa daerah yang berbeda-beda di berbagai pelosok pulau. Tidak semua bahasa daerah itu saling dipahami oleh sesama warga Simeulue. Karena itulah, bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu yang menjembatani komunikasi antarmasyarakat di pulau tersebut. Keberagaman suku, bahasa, dan budaya itu justru menjadi kekuatan yang memberi warna tersendiri bagi kehidupan sosial di Simeulue.
Di sela-sela kunjungan tersebut, saya sempat menyampaikan sebuah pesan kepada Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti. Saya ceritakan kepada beliau bahwa di pulau terluar Aceh, di tengah luasnya Samudera Hindia, terdapat sebuah kota dan kabupaten dengan denyut nadi kehidupan Muhammadiyah yang begitu kental. Saya berharap suatu hari nanti beliau dapat berkunjung ke pulau tersebut untuk melihat secara langsung semangat para guru, kader, dan warga Muhammadiyah yang terus berjuang memajukan pendidikan di daerah kepulauan. Beliau hanya menjawab singkat, “Insya Allah.”
Jawaban itu saya simpan sebagai sebuah harapan. Tidak ada kepastian kapan akan terwujud, tetapi saya percaya bahwa setiap niat baik selalu memiliki jalannya sendiri.
Hingga dua hari yang lalu, harapan itu ternyata mulai menjadi kenyataan. Saya menerima kiriman informasi bahwa Prof. Abdul Mu’ti benar-benar dijadwalkan berkunjung ke Simeulue. Untuk memastikan kabar tersebut, saya langsung mengonfirmasi kepada beliau. Jawaban yang saya terima sederhana, namun begitu menenangkan hati, “Insya Allah hadir.” Insya Allah, kunjungan tersebut akan terlaksana pada akhir Agustus 2026. Bagi masyarakat Simeulue, khususnya keluarga besar Muhammadiyah, kabar ini tentu menjadi kebahagiaan dan kehormatan tersendiri.
Tentu saja, saya tidak pernah mengaitkan rencana kehadiran beliau dengan pesan yang pernah saya sampaikan. Saya meyakini bahwa kunjungan ini merupakan buah dari komunikasi, koordinasi, dan sinergi yang terjalin dengan baik antara Pemerintah Aceh, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh, serta Pemerintah Kabupaten Simeulue dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Simeulue. Apa yang saya sampaikan kepada beliau saat itu hanyalah ungkapan harapan seorang kader Muhammadiyah yang ingin melihat pulau terluar ini mendapat perhatian. Komunikasi melalui alat komunikasi sering saya lakukan Sekalian untuk terus menjalin silaturahmi yang saya teruskan dari Ayahanda Pendeta Weinata Sairin seperti yang sudah pernah saya ceritakan.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya sebuah agenda kunjungan seorang menteri. Namun bagi warga Muhammadiyah Simeulue, terutama para guru, tenaga kependidikan, dan pegiat dakwah, kehadiran beliau memiliki makna yang jauh lebih besar. Ini adalah bentuk perhatian negara kepada daerah terluar, sekaligus penghargaan terhadap mereka yang selama ini terus menghidupkan pendidikan dan dakwah Persyarikatan di tengah keterbatasan geografis.
Simeulue mengajarkan bahwa letak yang jauh dari pusat pemerintahan bukanlah penghalang untuk terus berbuat dan mengabdi. Semangat masyarakatnya, keramahan warganya, keberagaman budayanya, serta kuatnya denyut Muhammadiyah menjadi bukti bahwa Indonesia dibangun dari seluruh penjuru negeri, termasuk dari pulau-pulau yang berdiri kokoh di tengah Samudera Hindia.
Kadang-kadang, sebuah kalimat sederhana seperti “Insya Allah” bukan sekadar ungkapan. Ia adalah doa, harapan, sekaligus komitmen yang dijaga dengan ikhtiar. Dan ketika akhirnya menjadi kenyataan, kita belajar bahwa setiap harapan yang disampaikan dengan tulus dapat menemukan waktunya untuk terwujud.
Semoga kunjungan Prof. Abdul Mu’ti pada akhir Agustus 2026 nanti membawa berkah bagi Simeulue, memperkuat sinergi antara pemerintah dan Muhammadiyah, serta semakin menguatkan ikhtiar bersama membangun pendidikan yang unggul hingga ke pulau-pulau terdepan negeri ini. Sebab, Indonesia yang maju tidak hanya dibangun dari kota-kota besar, tetapi juga dari pulau-pulau terluar yang terus menjaga semangat persatuan, pendidikan, dan pengabdian.
Kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah di Simeulue juga merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan tema Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49, “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Mencerdaskan bangsa tidak boleh berhenti di pusat-pusat kota, tetapi harus menjangkau seluruh pelosok negeri, hingga ke pulau-pulau terluar di Samudera Hindia. Ketika perhatian terhadap pendidikan hadir tanpa membedakan letak geografis, ketika guru-guru di pulau terdepan merasakan sentuhan yang sama dengan mereka yang berada di kota-kota besar, maka pada saat itulah cita-cita Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya benar-benar menemukan maknanya.
Simeulue menjadi pengingat bahwa cahaya peradaban tidak hanya menyala di pusat-pusat kekuasaan, tetapi juga bersinar dari pulau-pulau terluar Indonesia yang terus setia menjaga pendidikan, persatuan, dan pengabdian.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






