Mitigasi Gelombang Panas dan Ancaman Keamanan Gaya Baru
Oleh Boy Anugerah | Founder dan Peneliti Utama Senayan Geopolitical Forum (SGF)
EROPA sedang berada dalam situasi krisis. Krisis yang terjadi bukan karena adanya serangan militer, ancaman nuklir, atau konflik geopolitik mematikan seperti yang sedang terjadi di Timur Tengah. Krisis yang terjadi di Eropa saat ini dipicu oleh gejala alam berupa serangan gelombang panas yang bersifat mematikan. Data yang dibeberkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sedikitnya terjadi lebih dari 10 ribu kematian di seluruh Eropa akibat cuaca ekstrem.
Dampaknya tidak berhenti sampai di situ. Gelombang panas juga memicu persoalan ekologis seperti kebakaran hutan, kerusakan fasilitas publik, hingga lumpuhnya transportasi dan aktivitas publik. Dari fenomena ini menyeruak sebuah fakta baru perihal minimnya perhatian dan kewaspadaan nasional dari para pemangku kebijakan negara-negara di Eropa terhadap gelombang panas sebagai ancaman keamanan non-tradisional, yang tak kalah mematikan dibandingkan ancaman tradisional seperti serangan militer atau invasi dari negara lain.
Merujuk situasi Eropa saat ini, dapat dikatakan bahwa para pemimpin negara-negara di Benua Biru belum memberikan atensi serius terhadap ancaman keamanan non-tradisional seperti perubahan iklim dan gelombang panas. Tidak dimungkiri bahwa persepsi negara-negara kuat seperti Jerman, Inggris, Perancis, Spanyol, dan lainnya masih didominasi ancaman berbasis militer dan penggunaan instrumen koersif lain.
Dikotomi Persepsi Ancaman Keamanan
Masih kuatnya persepsi ancaman berbasis pendekatan keamanan tradisional ini tercermin secara lugas dalam kebijakan negara-negara Eropa, terutama mereka yang bergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Peningkatan anggaran militer secara sigifikan terlihat pada Jerman yang berkomitmen untuk menaikkan anggaran militer hingga 3,5 persen dari PDB pada 2029, Inggris yang menaikkan anggaran militer hingga 27 persen untuk mengejar target 2,7 persen dari PDB dalam beberapa tahun ke depan, serta Italia dan Perancis yang mengejar target anggaran militer hingga 2,5 persen dari PDB dalam beberapa tahun ke depan.
Yang lebih gila, Hungaria manargetkan anggaran militer sebesar 5 persen dari PDB—angka ideal anggaran pertahanan 1,5-2 persen dari PDB. Perlombaan peningkatan anggaran militer ini sejatinya dilakukan untuk ancaman yang belum tentu konkret seperti persepsi serangan dari Rusia atau teroris. Sedangkan hal-halyang sifatnya nyata dan di depan mata seperti perubahan iklim dan gelombang panas menjadi realitas empirik yang cenderung diabaikan.
Barry Buzan, Ole Waever, dan Jaap de Wilde dalam bukunya yang berjudul “Security: A New Framework for Analysis” (1999) mengenalkan istilah sekuritisasi. Dalam konsepsi ini, ancaman bukanlah realitas objektif yang diam di tempat melainkan dibentuk melalui diskursus. Sebuah isu diangkat menjadi status ancaman tatkala aktor politik—dalam hal ini pemerintah suatu negara—melalui kebijakannya memberikan izin untuk meresponsnya melalui tindakan keamanan yang bersifat luar biasa.
Konsepsi sekuritisasi secara tidak langsung telah memperluas definisi keamanan tidak terbatas pada hal-hal yang sifatnya militer—spionase, agresi, invasi, terorisme, nulklir—tapi juga menyasar pada isu-isu sosial, politik, dan budaya, termasuk yang berasal dari lingkungan seperti perubahan iklim, deforestasi, kenaikan permukaan air laut, hingga kenaikan suhu global dan gelombang panas seperti yang melanda Eropa saat ini.
Dampak Gelombang Panas
Gelombang panas yang melanda Eropa telah menyebabkan dampak serius. Spanyol merupakan negara terdampak paling parah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Pada bulan lalu, suhu di Spanyol mencapai lebih dari 40 derajat celcius di beberapa wilayah yang mengakibatkan kematian 1.028 orang. Gelombang panas di Spanyol bahkan memicu kebakaran hutan hebat di wilayah Almeria (Spanyol bagian Selatan) yang menelan belasan korban jiwa. Perancis, Italia, Inggris, Jerman, dan Swiss juga menghadapi situasi yang sama meskipun dengandampak yang lebih minim.
Pemerintah negara-negara Eropa sudah mengambil langkah-langkah responsif strategis seperti memperkuat langkah mitigasi melalui kontrol dan peringatan dari otoritas masing-masing, pengaktifan protokol darurat, namun belum bisa menghilangkan kesan kurangnya kewaspadaan terhadap bahaya dan ancaman yang ditimbulkan. Hal ini tercermin dari kurang tanggapnya
pemerintah negara-negara tersebut terhadap dampak derivatif yang ditimbulkan seperti panic buying untuk produk payung, kipas angin, AC, dan alat pendingin lainnya. Fernomena ini berdampak pada bentrok antarwarga dan kelangkaan stok akibat tidak imbangnya antara ketersediaan barang dan lonjakan jumlah permintaan.
Dampak yang bersifat multidimensi dan fatalistik yang diakibatkan oleh gelombang panas di Eropa ini sudah seyogianya menjadi pembelajaran penting bagi para pemerintahan di Eropa untuk lebih mencermati hal-hal yang bersifat ancaman keamanan yang nyata. Ancaman tidak melulu perkara militer, tapi terkadang berasal dari hal-hal yang kerap diabaikan dan merupakan konsekuensi logis dari perilaku manusia yang antroposentris terhadap alam.
Ancaman keamanan non-tradisional seperti gelombang panas yang melanda Eropa berada pada derajat ancaman yang sama dengan ancaman militer apabila tidak dibersamai dengan kapasitas
kewaspadaan nasional yang tinggi dari pemerintah. Jika menggunakan pendekatan komparatif, apa yang terjadi di Eropa saat ini serupa dengan bencana banjir yangkerap terjadi di Tiongkok yang menelan ribuan jiwa, serta pandemi Covid-19 pada 2019-2022 yang menjadi katastrofi dan bencana global. Persoalannya adalah lemahnya persepsi dan atensi pemerintah negara-negara di dunia untuk menempatkannya sebagai ancaman nyata yang perlu diantisipasi secara lebih serius.
Langkah Strategis
Pemerintah negara-negara di dunia tampaknya perlu memasukkan ancaman keamanan non-tradisional dan spesifikasinya dalam regulasi pertahanan masing-masing. Hal ini penting untuk menjadi pedoman untuk menetapkan langkah-langkah mitigatif dan punitif. Dengan pemetaan ancaman keamanan non-tradisional secara regulatif tersebut, maka pemerintah dapat membuat skala prioritas dan skala kemungkinan, untuk kemudian melakukan delegasi kewenangan pada instansi terkait dalam menetapkan langkah responsif secara segera ketika ancaman itu terjadi—baik dari sisi anggaran, personel, serta strateginya.
Melalui mekanisme ini, ancaman keamanan non-tradisional seperti kebakaran hutan, banjir, hingga gelombang panas yang notabene berasal dari alam dapat diperkecil risikonya. Jika merujuk pada dampak yang dialami oleh Eropa dewasa ini, tergambar jelas kelemahan negara- negara tersebut dalam kapasitas mitigasi—hutan dengan cepat terbakar, infrastruktur tidak tahan gelombang panas, dan aktivasi protokol darurat yang bersifat reaktif dan reaksioner setelah menelan banyak korban jiwa.
Gelombang panas yang melanda Eropa hari ini menjadi pembelajaran mahal mengenai pentingnya kapasitas pemerintah dalam mempersepsikan ancaman. Ancaman yang fatalistik ternyata bukan berasal dari Rusia yang dianggap sebagai “musuh Eropa”, bukan juga dari kelompok teroris atau ekstremis. Ancaman justru berasal dari fenomena alam yang tidak terpetakan dan diantisipasi dengan baik sebelumnya.
Dalam jangka panjang, fenomen gelombang panas yang melanda Eropa saat ini harus menjadi pukulan keras yang menyadarkan para pengambil kebijakan untuk kembali fokus pada strategi mitigasi terhadap perubahan iklim. Pendekatan pengelolaan ekonomi politik negara-negara Eropa yang cenderung industrialis dan antroposentris terhadap sumber daya alam akan membuat mereka berada pada situasi yang lebih berbahaya di masa mendatang, lebih dari yang mereka hadapi saat ini. (*)



