Spirit Teologi Al-Maun Menjadi Dasar Gerakan Muhammadiyah
INFOMU.CO | Parapat – Spirit Teologi Al-Maun menjadi dasar gerakan dakwah Muhammadiyah. Gerakan A-Maun yang dijalankan Muhammadiyah sejak berdirinya Muhammadiyah hingga saat ini diharapkan dapat memberikan bantuan dan perhatian khusus kepada mereka-mereka yang membutuhkan.
Penjelasan itu disampaikan Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman pada kegiatan Darul Arqam Pimpinan Tingkat Wilayah yang berlangsung di Parapat 9 -12 Juli 2026. dr. Agus Taufiqurrahman menjadi nara sumber untuk dua materi, yakni Teologi Al-Maun dan Risalah Akhlaq Kepemimpinan Muhammadiyah.
Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman mengatakan penerapan teologi al-Maun berbeda antara masa awal berdirinya Muhammadiyah dengan kondisi saat ini. Untuk itu, Muhammadiyah harus melakukan pengembangan, agar pelayanan-pelayanan yang diberikan Muhammadiyah sesuai dengan kebutuhan saat ini. dr. Agus Taufiqurrahman menyebutkan dengan istilah : Spirit Al-Maun yang Kekinian.
Menjawab jurnalis infomu.co terkait dengan konsep tauhid sosial, dr. Agus Taufiqurrahman mengatakan, bahwa iman yang baik harus menghadirkan kepedulian. Karena tidak mungkin seseorang yang beriman, muttaqin tidak melahirkan kepedulian. Karena itulah warga Muhammadiyah memiliki kepedulian yang kuat dengan wujud memberikan pelayanan dalam banyak bentuk di bidang sosial, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

Akhlaq Ber-Muhammadiyah
Bila merujuk Matan Keyakinan Hidup dan Cit-cita Hidup Muhammadiyah, demikian dr. Agus Taufiqurrahman menjelaskan, dimana Muhammadiyah membangun dari sisi Aqidah, ibadah akhlaq dan muamalah duniawiyah. Maka akhkaq menjadi perhatian serius bagi Muhammadiyah. Untuk itulah kemudian, Muhammadiyah membangun kerangka akhlaq yang harus dimiliki pimpinan Muhammadiyah dalam menjalankan amanah yang diembannya.
Kata Taufiqqurahman, seorang pimpinan dalam persyarikatan harus memiliki beberapa persyaratan. Pertama, ia harus ikhlas dalam menjalankan amanah. Kedua amanah. Karena semua amanah itu harus dipertanggungjawabkan maka seorang pimpinan harus amanah dalkam menjalan kewajibannya. ” Tidak ada iman lagi, bagi orang yang tidak amanah,” tegas Ketua PP Muhammadiyah itu.
Ketiga, seorang pimpinan Muhammadiyah selalu berikhtiar, berinisiatif untuk menghasilkan kerja terbaik dan hasil terbaik itu harus diwariskan generasi setelahnya.
Karena Muhammadiyah adalah sebuah persyarikatan, maka akhlaq membangun kebersamaan harus dijunjung tinggi. Akhlaq yang dibangun bersama itu diharapkan dapat membangun tim yang kuat. ” Muhammadiyah tidak dibangun oleh superman tapi supertim,” tegas Agus Taufiqurrahmah.
Pada sesi ceramahnya, Ketua PP Muhammadiyah itu mengajak semua pimpinan Muhammadiyah disemua tingkatan untuk bekerjasa bersama dalam menyukseskan Muktamar 49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Medan pada Nopember 2027 mendatang. (Syaifulh/AH/Bess)







