Muhammadiyah Harus Menguatkan dan Merawat Ekosistem Seni Budaya
INFOMU.CO | Jakarta – Menteri Kebudayaan Fadli Zon sangat bangga kepada Muhammadiyah yang telah berkiprah begitu rupa lebih dari satu abad lamanya di segala bidang kehidupan, salah satunya melalui seni budaya.
Demikian dikemukakan saat Orasi Kebudayaan Rapat Kerja Nasional Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (10/7) di Gedung Theater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat.
Menurut Fadli, Muhammadiyah berhasil melakukan itu. “Fokus untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia,” ujarnya.
Dalam konteks itu, ia menegaskan bahwa pengembangan seni dan budaya merupakan mandat konstitusi yang tertuang dalam Pasal 32 ayat (1) UUD 1945.
“Ini pasal 32 ayat 1. Di pasal 32-nya bicara tentang bagaimana kita merawat, melestarikan bahasa daerah,” tuturnya.
Adalah suatu keniscayaan, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat melimpah ruah. “Kita ini Indonesia ini adalah negara yang megadiversity. Artinya negara yang keberagaman, kekayaan budayanya itu luar biasa,” bebernya.
Hal itu dari Sabang sampai Merauke, ekspresi budayanya amat banyak. Dan ini tidak dimiliki bangsa lain. “Kekayaan budaya kita tuh luar biasa. Tidak ada kekayaan budaya, keberagaman budaya yang lebih hebat dari budaya Indonesia,” bongkarnya.
Fakta di lapangan menunjukkan, warisan budaya tak benda atau intangible cultural heritage Indonesia jumlahnya tercatat ada 2727. “Tahun lalu saja tambahannya adalah 500-an dari intangible cultural heritage kita,” ungkapnya.
Wayang dan gamelan, misalnya, menurutnya, satu di antara intangible cultural heritage yang telah diakui oleh UNESCO. Demikian pula keris, batik, Tari Saman, pantun, termasuk tapak suci. “Itu juga bagian dari warisan budaya tak benda dunia sekarang UNESCO,” urainya.
Kemudian ada juga jamu. “Ini bagian dari pangan lokal,” ucap Fadli. Serta ada Kolintang, dari Minahasa, Sulawesi Utara, kebaya, dan angklung. “Kira-kira 16 kota yang sudah terinskripsi di UNESCO,” sebutnya.
Juga ada warisan budaya kebudayaan, cagar-cagar budaya. Menurutnya, Indonesia mempunyai cagar budaya yang jumlahnya sangat banyak.
“Totalnya sekarang sudah 743. Jadi selama 79 tahun kita hanya mencatat cagar budaya tingkat nasional itu 200-an. Sekarang kita akselerasi, sekarang alhamdulillah sudah ada 743 cagar Budaya Nasional,” tuturnya.
Derivasi cagar budaya itu berupa situs candi dan masjid tua seperti Masjid Demak, Masjid Cirebon, Masjid Baiturrahman, dan masih banyak lagi terbentang di pelbagai daerah.
“Jadi ini kekayaan-kekayaan budaya kita yang merupakan modal budaya, satu cultural capital,” jelas Fadli.
Lebih-lebih lagi, Indonesia punya banyak museum yang tercecer di banyak tempat. “Jadi museum di Indonesia ini ada sekitar 516 museum,” katanya. Salah satunya, milik Muhammadiyah yang berada di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
“Museumnya juga sangat baik, tata pamernya bagus, lini masanya bagus, edukatornya bagus,” bebernya.
Karena itu, Fadli mendorong kepada Muhammadiyah untuk memfungsikan museum bukan sekadar tempat pameran, tetapi bersamaan dengan itu, sebagai bagian dari edukasi, ruang untuk berekspresi, dan ruang budaya.
“Jadi museum bukan sekedar tempat penyimpanan, bukan sekedar tempat untuk eksibisi, tapi ini juga satu cultural enklav, satu kantong budaya. Di museum kalau di negara-negara maju museum itu selalu selalu menjadi etalase depan,” tegasnya.
Di sinilah diperlukan upaya merawat dan memelihara budaya yang amat kaya itu. Terlalu mahal untuk didestruksi. “Dan ini menurut saya harus kita gerakkan sebagai bagian dari kemajuan kebudayaan,” tandasnya.
Sehingga, melalui Rakernas ini, Fadli berharap, Muhammadiyah makin menguatkan komitmennya dalam memajukan seni dan budaya. “Karena budaya itu merupakan soft power kita,” pungkasnya. (Cris/SM)






