Milad ke-109 Aisyiyah, LLHPB PWA Sumut Gelar Sarasehan Bencana Hidrometeorologi
INFOMU.CO | Medan, Dalam rangka menyemarakkan Gebyar Milad ‘Aisyiyah ke-109, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara menggelar Sarasehan Bencana Hidrometeorologi bertajuk “Peran Perempuan Berkemajuan dalam Mitigasi Bencana Hidrometeorologi: Dari Ketahanan Keluarga Menuju Perdamaian Semesta”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMSU, Jalan Kapten Muchtar Basri No. 3 Medan, Sabtu (4/7).
Sarasehan ini menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidang kebencanaan. Materi pertama disampaikan oleh perwakilan BPBD Sumatera Utara, Afdoli, AP., M.Si., dengan tema “Penguatan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana Hidrometeorologi Berbasis Komunitas.” Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Kepala BMKG Sumatera Utara, Dr. Hendro Nugroho, S.T., M.Si., bertajuk “Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Berbasis Informasi Cuaca dan Iklim: Meningkatkan Literasi Kebencanaan Keluarga.”
Sarasehan ini dihadiri oleh Wakil Ketua sekaligus Koordinator Bidang LLHPB PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara, dr. Robitah Asfur, M.Biomed, Sekretaris PW ‘Aisyiyah Sumut Yuniar R. Yoga, Bendahara PW ‘Aisyiyah Sumut Prof. Siti Mujiatun, Sekretaris LLHPB PW ‘Aisyiyah Sumut Dr. Sri Ngayomi Yudha Wastuti, jajaran Majelis dan Lembaga PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara, serta perwakilan LLHPB PDA Kota Medan bersama Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah se-Kota Medan.


Dalam sambutannya, Wakil Ketua PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara, dr. Robitah Asfur, M.Biomed, menegaskan komitmen ‘Aisyiyah dalam berdakwah melalui amar ma’ruf nahi munkar dengan mencerdaskan umat, memberdayakan perempuan, memperkuat ketahanan keluarga, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan.
Ia menyoroti meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan iklim yang berdampak luas terhadap lingkungan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis sebagai pendidik dalam keluarga, penggerak masyarakat, dan agen perubahan dalam membangun budaya sadar bencana.
Ia juga mengapresiasi LLHPB PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara yang konsisten berada di garda terdepan dalam penanganan bencana. Menurutnya, ketahanan keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang tangguh. Karena itu, ‘Aisyiyah terus berkomitmen menghadirkan berbagai program pemberdayaan, seperti edukasi mitigasi bencana, pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi keluarga, pelayanan kesehatan, dan pengembangan komunitas tangguh.
Di akhir sambutannya, dr. Robitah mengajak seluruh kader menjadikan sarasehan ini sebagai momentum memperkuat komitmen untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan, sehingga setiap ikhtiar menjaga ketahanan keluarga, kelestarian lingkungan, dan kesiapsiagaan bencana menjadi jalan menuju perdamaian semesta.

Sementara itu Sekretaris LLHPB PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara, Dr. Sri Ngayomi Yudha Wastuti, menjelaskan bahwa Sarasehan Bencana Hidrometeorologi bertujuan memperkuat peran perempuan berkemajuan dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Menurutnya, mitigasi merupakan langkah awal untuk mengurangi risiko bencana sebelum terjadi melalui berbagai program yang dijalankan LLHPB.
Ia menyebutkan sejumlah program tersebut, di antaranya edukasi penanaman pohon, sayuran, dan tanaman pangan di pekarangan rumah guna mendukung ketahanan pangan keluarga, gerakan diet kantong plastik untuk mengurangi sampah plastik yang berdampak terhadap lingkungan, serta program kelentingan keluarga yang mendorong penguatan ekonomi dan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan sempit untuk bercocok tanam maupun beternak skala rumah tangga.
Selain mitigasi, LLHPB juga memberikan edukasi mengenai kesiapsiagaan bencana, termasuk pentingnya menyiapkan tas siaga bencana yang berisi perlengkapan penting untuk kondisi darurat. Saat bencana terjadi, LLHPB PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara bersama Majelis, Lembaga, dan MDMC bergerak cepat memberikan respons tanggap darurat melalui penyaluran bantuan berupa makanan, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya.
Sri Ngayomi menegaskan bahwa ‘Aisyiyah memandang bencana bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai fenomena yang perlu dipahami secara ilmiah akibat perubahan iklim dan kondisi geofisika. Karena itu, perempuan berkemajuan diharapkan mampu bersikap tanggap, sigap, dan tetap berpikir positif dalam membantu sesama. Menurutnya, seorang relawan juga harus memiliki ketangguhan diri sehingga mampu memberikan bantuan secara optimal kepada masyarakat yang terdampak bencana.
Kepala BMKG Sumatera Utara, Dr. Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009, BMKG memiliki peran strategis dalam mendukung 12 sektor pembangunan, di antaranya ketahanan bencana, ketahanan air, ketahanan pangan, dan ketahanan energi. Menurutnya, berbagai informasi dan layanan BMKG terus dioptimalkan untuk mendukung pengambilan kebijakan serta menyukseskan program-program pembangunan nasional.
Terkait kondisi cuaca di Sumatera Utara, Hendro menyampaikan bahwa wilayah sumatera utara saat ini tengah memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh fenomena iklim global yang dapat meningkatkan kompleksitas cuaca, sehingga masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, baik secara individu maupun kelompok, dalam menghadapi potensi bencana.
Ia turut mengapresiasi penyelenggaraan Sarasehan Bencana Hidrometeorologi yang digelar LLHPB PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara. Menurutnya, perempuan, khususnya kader ‘Aisyiyah, memiliki peran penting dalam menyebarluaskan informasi kebencanaan kepada masyarakat. Ia berharap ilmu yang diperoleh peserta dapat diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar sehingga informasi dari BMKG maupun BPBD semakin luas jangkauannya dan mampu memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Perwakilan BPBD Sumatera Utara, Afdoli, AP., M.Si., menyampaikan bahwa sejumlah wilayah di Sumatera Utara masih memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Menurutnya, kawasan pantai barat, wilayah Bukit Barisan, hingga pesisir timur seperti Langkat dan Medan masih berpotensi terdampak bencana, terutama banjir. Kerawanan tersebut semakin tinggi mengingat banyaknya permukiman padat yang berada di bantaran sungai.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, meskipun kondisi cuaca saat ini terus berubah. Menurutnya, perubahan iklim menyebabkan cuaca semakin sulit diprediksi, di mana musim hujan dapat menghadirkan curah hujan ekstrem, sementara musim kemarau juga berlangsung dengan kondisi yang tidak kalah ekstrem. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat harus terus diperkuat sebagai langkah menghadapi berbagai potensi bencana.
Afdoli juga memberikan apresiasi kepada PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara yang telah mengambil peran aktif melalui penyelenggaraan Sarasehan Bencana Hidrometeorologi. Menurutnya, kader ‘Aisyiyah memiliki potensi besar untuk menjadi agen edukasi kebencanaan di lingkungan keluarga, desa, dan masyarakat. Ia menyebutkan bahwa saat ini jumlah Desa Tangguh Bencana di Sumatera Utara baru mencapai sekitar 723 desa dari lebih dari 6.000 desa yang ada, sehingga masih diperlukan keterlibatan berbagai elemen masyarakat untuk memperluas edukasi dan membangun budaya sadar bencana.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan literasi kebencanaan dengan memanfaatkan berbagai sumber informasi, termasuk media sosial dan internet. Menurutnya, saat bencana terjadi masyarakat harus tetap tenang dan tidak panik, namun yang lebih penting adalah membangun pengetahuan dan kesiapsiagaan sejak dini. “Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya literasi kebencanaan setelah bencana datang,” ujarnya.
Kegiatan Sarasehan Bencana Hidrometeorologi ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif antara narasumber dan peserta. Melalui kegiatan ini, LLHPB PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara berharap literasi kebencanaan masyarakat, khususnya perempuan dan keluarga, semakin meningkat sehingga mampu membangun budaya siaga bencana dan memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai risiko bencana di masa mendatang (AH)






