Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
Oleh : Jufri
Ada kalanya kita terlalu sibuk memperhatikan tanda-tanda yang tampak di permukaan, hingga lupa melihat jejak yang sesungguhnya. Salah satunya adalah ketika memahami makna atsarissujud. Sebagian orang memaknainya sebagai bekas hitam di dahi akibat sering bersujud. Padahal, makna itu bisa jauh lebih luas dan lebih dalam.
Almarhum Prof. Malik Fajar mengajak kita melihat atsarissujud dari perspektif yang berbeda. Baginya, bekas sujud adalah bekas kebudayaan, yaitu jejak yang ditinggalkan oleh orang-orang beriman melalui karya, pengabdian, dan amal yang memberi manfaat bagi kehidupan. Sujud tidak berhenti sebagai ritual, tetapi berlanjut menjadi energi yang mengubah masyarakat.
Pemahaman seperti inilah yang selama ini dapat kita lihat dalam perjalanan Muhammadiyah. Organisasi ini tidak dikenal karena banyaknya simbol, tetapi karena banyaknya karya nyata. Bekas sujud itu hadir dalam ribuan sekolah yang mencerdaskan anak bangsa, rumah sakit yang melayani tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan, panti asuhan yang menjadi rumah bagi mereka yang membutuhkan kasih sayang, perguruan tinggi yang melahirkan pemimpin dan ilmuwan, serta berbagai lembaga sosial yang terus bekerja untuk kemanusiaan.
Di situlah ibadah menemukan makna sosialnya. Salat membentuk kedisiplinan, zakat menumbuhkan kepedulian, puasa melatih kepekaan, dan sujud melahirkan kerendahan hati yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Agama tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi hadir menjawab persoalan kehidupan.
Dalam konteks itulah, Muktamar Muhammadiyah ke-49 yang akan diselenggarakan di Sumatera Utara pada 18–21 November 2027 mengusung tema “Islam Berkemajuan: Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan agar setiap warga Muhammadiyah menghadirkan atsarissujud dalam kehidupan nyata. Sumatera Utara menjadi ruang perjumpaan gagasan dan amal, tempat memperkuat komitmen bahwa kemajuan Islam diukur bukan hanya dari banyaknya wacana, tetapi juga dari besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat.
Tema tersebut mengingatkan bahwa kecerdasan bukan hanya soal kemampuan intelektual. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu mengubah ilmu menjadi solusi, iman menjadi pengabdian, dan kekuasaan menjadi amanah. Semesta yang bercahaya bukan karena gemerlap pembangunan semata, melainkan karena hadirnya manusia-manusia yang membawa manfaat bagi sesamanya.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya seberapa lama ia beribadah, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dirasakan orang lain dari kehadirannya. Inilah hakikat atsarissujud yang sesungguhnya.
Kita tentu tidak harus menjadi pendiri universitas, direktur rumah sakit, atau pemimpin organisasi besar untuk meninggalkan jejak kebaikan. Seorang guru yang mendidik dengan tulus, seorang dokter yang melayani dengan hati, seorang petani yang menghasilkan pangan, seorang pedagang yang jujur, seorang aparatur negara yang bekerja dengan integritas, bahkan seorang tetangga yang ringan tangan membantu sesama, semuanya sedang meninggalkan atsarissujud dalam bentuk yang berbeda.
Dari Sumatera Utara, muktamar ini diharapkan memancarkan inspirasi bagi seluruh Indonesia. Di tengah tantangan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, disrupsi teknologi, dan dinamika demokrasi, bangsa ini membutuhkan semakin banyak “bekas sujud” yang hadir dalam bentuk karya, inovasi, pelayanan, dan keteladanan. Sebab, peradaban tidak dibangun oleh simbol-simbol, melainkan oleh manusia-manusia yang bekerja dengan ikhlas dan berintegritas.
Akhirnya, bekas sujud bukanlah sesuatu yang selalu tampak di dahi. Bekas sujud yang paling abadi adalah jejak kebaikan yang tetap hidup meski pelakunya telah tiada. Ia menjadi ilmu yang terus diajarkan, amal yang terus dirasakan, dan inspirasi yang terus menggerakkan generasi berikutnya.
Mari terus berbuat baik sesuai kemampuan masing-masing. Saling mendukung, saling menguatkan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Semoga Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara, 18–21 November 2027, menjadi momentum memperteguh semangat Islam Berkemajuan untuk mencerdaskan bangsa, menerangi semesta, dan menghadirkan atsarissujud sebagai jejak peradaban yang bermanfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



