PWMJATENG.COM, MAROS — Seruan untuk memiliki keberanian moral dalam menegakkan kebenaran di tengah himpitan hidup modern menggema kuat dalam pelaksanaan shalat Idul Adha 2026 di Masjid Mujahidin Muhammadiyah Kappang, Maros, Rabu (27/5/2026). Khatib Haidir Fitrah Siagian menegaskan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim AS sangat relevan untuk menjawab krisis kejujuran hari ini.
Keteladanan Nabi Ibrahim dan Tantangan Zaman
Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan itu menjelaskan, kualitas keberagamaan umat Islam saat ini sedang diuji. Momentum Idul Adha 2026 harus menjadi titik balik bagi jamaah untuk merefleksikan kembali esensi ketauhidan yang kokoh. Menurutnya, kisah perjuangan Nabi Ibrahim AS bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan kompas moral yang nyata.
Haidir menyebutkan ada tiga nilai utama yang menjadi fondasi penting bagi umat, yakni keikhlasan, keberanian menghadapi tantangan, dan semangat pembaruan (tajdid). Ketiga pilar ini saling berkaitan dalam membentuk karakter muslim yang tangguh di era modern. Tanpa fondasi ini, umat akan mudah terombang-ambing oleh arus zaman.
Menjaga Keikhlasan Tanpa Pamrih
Terkait nilai pertama, akademisi asal UIN Alauddin Makassar tersebut menekankan pentingnya memurnikan niat. Dalam konteks kehidupan saat ini, keikhlasan sering kali luntur akibat tuntutan pengakuan di media sosial maupun kepentingan pribadi. Pesan khutbah Idul Adha Muhammadiyah ini mengingatkan jamaah untuk kembali pada esensi ibadah yang murni.
“Keikhlasan berarti memurnikan niat hanya untuk Allah. Dalam kehidupan sekarang, hal ini bisa diwujudkan melalui ibadah yang istiqamah, bekerja dengan jujur, serta berbuat baik tanpa mengharap pujian atau pengakuan,” ujar Haidir Fitrah Siagian.
Keteladanan Nabi Ibrahim juga mendidik umat untuk memiliki keteguhan prinsip. Di tengah penolakan masif dari masyarakat masa lalu dan ancaman nyata dari Raja Namrud, Nabi Ibrahim tetap teguh menyuarakan kebenaran. Karakter inilah yang menurut khatib mulai langka dalam dinamika sosial hari ini.
Keberanian Moral di Tengah Tekanan Modern
Lebih lanjut, mantan Ketua Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah NSW Australia periode 2021/2022 ini menyoroti pergeseran makna keberanian. Tantangan terbesar generasi saat ini bukan lagi berupa ancaman fisik, melainkan tekanan mental dan degradasi moral yang sistemik.
“Keberanian dalam Islam tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga keberanian moral untuk mempertahankan kebenaran, kejujuran, dan ketakwaan di tengah berbagai tekanan kehidupan modern,” ujar Haidir Fitrah Siagian yang juga merupakan anggota penasihat ISKI Sulawesi Selatan tersebut.
Sebagai penutup khutbah Idul Adha Maros tersebut, Haidir mengajak ratusan jamaah di Masjid Mujahidin Muhammadiyah Kappang untuk terus menghidupkan semangat tajdid atau pembaruan. Semangat ini menuntut umat Islam untuk aktif mengembangkan ilmu pengetahuan, berpikir kritis, serta menguasai teknologi demi kemaslahatan publik luas. Melalui momentum Idul Adha 2026, khutbah ini menegaskan bahwa Islam adalah agama dinamis yang progresif dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Kontributor : Assalim
Editor: Al-Afasy
The post Sentilan Keras dari Mimbar Maros pada Idul Adha 2026: Meneladani Keberanian Moral Nabi Ibrahim appeared first on Muhammadiyah Jateng.








