Menikah bukanlah sekadar memenuhi keinginan hasrat semata, juga bukan sekadar menyalurkan rasa antara pria dan wanita. Lebih dari itu, menikah adalah sebuah ibadah yang sangat mulia, bahkan menjadi ibadah yang terpanjang waktunya dalam kehidupan manusia.
Seberapa berat dan mulianya pernikahan dapat kita baca dalam firman Allah SWT:
وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
“…dan mereka (istri-istri itu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsāqan ghalīẓan).” (QS. An-Nisa: 21)
Begitu agungnya ikatan ini, sampai-sampai Iblis laknatullah memberikan penghargaan yang paling besar kepada setan yang mampu memisahkan antara suami dan istri. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ… مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ.
“Sesungguhnya Iblis menempatkan singgasananya di atas air, lalu ia mengutus pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya… Lalu datang yang lain dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga berhasil memisahkan antara dia dengan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya dan berkata: ‘Sebaik-baik engkau.’” (HR. Muslim no. 2813)
Pernikahan adalah jalan suci yang mengikat dua hati dalam janji. Ia menjadi benteng kehormatan, ladang pahala, dan sumber ketenangan. Agar tidak salah melangkah, Islam telah memberikan kriteria mencari jodoh yang ideal.
Berikut adalah 5 petunjuk wahyu dalam memilih pasangan menikah menurut Islam:
1. Prioritaskan Agama di Atas Segalanya
Memilih agama adalah prioritas utama dalam mencari pasangan hidup. Allah SWT dengan tegas melarang pernikahan beda akidah dalam Al-Baqarah ayat 221:
وَلَا تَنكِحُواْ ٱلْمُشْرِكَـٰتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُواْ ٱلْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُواْ ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُوْلَـٰٓئِكَ يَدْعُونَ إِلَى ٱلنَّارِ ۖ وَٱللَّهُ يَدْعُوٓاْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ وَٱلْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِۦ ۖ وَيُبَيِّنُ ءَايَـٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221)
Panduan ini diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad ﷺ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. (رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ﷺ bersabda:“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini adalah arahan yang penuh hikmah. Harta bisa habis, keturunan tidak menjamin kebahagiaan, dan kecantikan akan pudar seiring waktu. Namun, kesalehan agama adalah cahaya yang akan terus menerangi rumah tangga sepanjang hayat.
2. Cari yang Sekufu (Sepadan)
Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa sekufu dalam Islam idealnya mencakup pemahaman agama dan kedudukan (nasab). Allah Ta’ala berfirman:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبَاتِ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji. Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26)
Terkait hal ini, Imam Malik menekankan bahwa esensi utama dari kesepadanan adalah kesamaan visi keagamaan:
وَقَالَ مَالِكٌ: الْكَفَاءَةُ فِي الدِّينِ لَا غَيْرُ
“Imam Mālik berkata: Kesepadanan (kafā’ah) itu hanya dalam agama, tidak selainnya.” (Al-Mughni Ibnu Qudamah 7/35)
Pernikahan yang dibangun di atas kesamaan iman akan melahirkan keharmonisan. Suami dan istri akan saling menolong dalam ketaatan, saling menguatkan dalam kesabaran, dan bersama-sama meniti jalan menuju ridha-Nya.
3. Hindari Jalan Pacaran
Sebagian orang menganggap pacaran adalah proses saling mengenal. Faktanya, pacaran sering kali menjadi ajang manipulasi di mana setiap orang hanya menampilkan topeng terbaiknya. Islam melarang aktivitas ini demi menjaga kesucian hamba-Nya:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahaya khalwah (berduaan) yang menjadi pintu masuk setan:
لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya), kecuali setan akan menjadi yang ketiga di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Islam menutup rapat segala celah yang mengarah pada kemaksiatan sebagai bentuk perlindungan terhadap kehormatan dan moral generasi muda.
4. Pilih yang Berakhlak Mulia dan Penyayang
Tujuan utama pernikahan adalah menciptakan kedamaian hati (sakinah), yang hanya bisa diraih jika pasangan memiliki sifat penyayang (mawaddah wa rahmah).
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah)…” (QS. Ar-Rum: 21)
Karakter asli seseorang akan terlihat bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
5. Jangan Menunda Pernikahan Jika Sudah Ada Jodoh yang Tepat
Sering kali, standar yang terlalu tinggi atau tidak realistis menjadi penghalang seseorang untuk menikah. Istilah Jawa menyebutnya “pilih-pilih tebu boleng”—karena terlalu pemilih, akhirnya malah mendapatkan yang kurang baik.
Jika sudah datang seseorang yang baik ketaatannya, petunjuk wahyu menyarankan untuk segera melangkah:
إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi no. 1084)
Ulama besar Al-Hasan pernah memberikan nasihat bijak ketika seorang ayah bingung memilih pelamar untuk putrinya:
“Nikahkanlah dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Jika ia mencintainya, maka ia akan memuliakannya. Jika ia membencinya, maka ia tidak akan menzaliminya.” (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn)
Ketika kriteria dasar agama dan akhlak mulia sudah terpenuhi, langkah selanjutnya adalah meluruskan niat dan bertawakal kepada Allah SWT. Semoga kita semua dianugerahi pernikahan berkah yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
The post 5 Petunjuk Wahyu dalam Memilih Pasangan Hidup Menurut Islam appeared first on Muhammadiyah Jateng.




