Score Overall, Peringkat Sinta dan Masadepan Universitas: Antara Prestise Akademik dan Tanggungjawab Keilmuan
Oleh: Dr. Rimbawati, ST., MT., IPM – Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Wakil Ketua Forum Komunikasi Dosen Indonesia
Di tengah semakin ketatnya persaingan perguruan tinggi di Indonesia, satu istilah kini semakin akrab terdengar di ruang-ruang akademik, SINTA. Science and Technology Index atau SINTA bukan lagi sekadar platform digital yang memuat data publikasi dosen dan peneliti, melainkan telah berkembang menjadi simbol reputasi akademik sebuah universitas. Dalam berbagai forum pendidikan tinggi, capaian SINTA sering dijadikan ukuran kemajuan
institusi, bahkan menjadi bahan promosi utama untuk menarik mahasiswa, dosen, mitra industri, hingga peluang kerja sama internasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan tinggi Indonesia sedang bergerak menuju kultur akademik berbasis riset. Perguruan tinggi tidak lagi cukup dikenal karena jumlah mahasiswa, luas kampus, atau megahnya gedung perkuliahan. Universitas kini dituntut menghasilkan publikasi ilmiah, inovasi teknologi, pengabdian berbasis penelitian, serta kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kehadiran SINTA pada dasarnya merupakan langkah maju dalam membangun ekosistem akademik nasional yang lebih terukur dan transparan. Sebelum adanya sistem pemeringkatan berbasis data seperti SINTA, produktivitas akademik perguruan tinggi sering kali sulit dipetakan secara objektif. Banyak kampus mengklaim unggul, tetapi minim indikator ilmiah yang dapat diverifikasi publik.
Melalui SINTA, masyarakat kini dapat melihat secara terbuka jumlah publikasi dosen, sitasi ilmiah, indeks h, kolaborasi penelitian, kualitas jurnal, hingga capaian institusi secara keseluruhan. Sistem ini menjadi instrumen penting dalam mendorong akuntabilitas dan budaya kompetisi sehat di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir, dampak kehadiran SINTA terlihat cukup signifikan. Banyak dosen yang sebelumnya kurang aktif meneliti mulai terdorong untuk menulis artikel ilmiah. Kampus-kampus yang dulu lebih fokus pada administrasi mulai menyadari pentingnya investasi di bidang riset dan inovasi. Tidak sedikit universitas yang kini menyediakan insentif khusus bagi dosen yang berhasil mempublikasikan karya di jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi.
Akibatnya, produktivitas publikasi ilmiah Indonesia mengalami peningkatan cukup pesat. Perguruan tinggi mulai aktif membangun pusat riset, laboratorium inovasi, inkubator bisnis, hingga memperluas kolaborasi internasional. Seminar akademik tumbuh di berbagai daerah, dan dosen semakin familiar dengan Scopus, Web of Science, Google Scholar, maupun berbagai indeks ilmiah global lainnya.
Namun, di balik geliat positif tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang perlu dijawab secara jujur, apakah peningkatan score overall dan peringkat SINTA benar-benar mencerminkan kualitas universitas secara utuh?
Pertanyaan ini penting diajukan karena pendidikan tinggi pada hakikatnya tidak hanya berbicara tentang angka publikasi, sitasi, dan ranking institusi. Universitas sejatinya adalah ruang pembentukan karakter, pusat pencerahan intelektual, laboratorium gagasan, sekaligus tempat lahirnya solusi bagi persoalan masyarakat. Ketika orientasi kampus terlalu berfokus pada angka dan peringkat, ada kekhawatiran bahwa substansi pendidikan justru mulai
terpinggirkan.
Fenomena “kejar publikasi” misalnya, kini mulai menjadi persoalan baru di banyak perguruan tinggi. Tidak sedikit dosen yang akhirnya menulis artikel ilmiah sekadar memenuhi target administratif, syarat kenaikan jabatan akademik, atau tuntutan Beban Kinerja Dosen (BKD). Dalam situasi tertentu, publikasi berubah menjadi rutinitas formalitas, bukan lagi proses ilmiah yang lahir dari kegelisahan intelektual dan kebutuhan masyarakat. Lebih jauh lagi, tekanan terhadap capaian publikasi juga memunculkan praktik-praktik tidak sehat dalam dunia akademik. Mulai dari jurnal predator, manipulasi sitasi, publikasi berbayar tanpa kualitas memadai, hingga praktik saling menaikkan sitasi demi memperbaiki indeks kinerja. Pada titik tertentu, orientasi terhadap angka justru berpotensi melahirkan budaya akademik yang artifisial dan kehilangan ruh keilmuan.
Padahal, esensi penelitian bukanlah sekadar terbit di jurnal internasional, melainkan sejauh mana riset tersebut memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Sebuah penelitian sederhana tentang pengelolaan air bersih di desa terpencil bisa jadi lebih berdampak dibanding puluhan artikel yang hanya berakhir sebagai dokumen digital tanpa implementasi.
Karena itu, universitas perlu memahami bahwa SINTA seharusnya menjadi alat ukur, bukan tujuan akhir. Kampus yang sehat adalah kampus yang menjadikan penelitian sebagai budaya intelektual, bukan sekadar instrumen pencitraan.
Dalam realitas pendidikan tinggi saat ini, score overall SINTA memang memiliki pengaruh besar terhadap masa depan universitas. Semakin tinggi skor dan peringkat institusi, semakin besar pula peluang universitas memperoleh kepercayaan publik. Masyarakat kini semakin rasional dalam memilih perguruan tinggi. Calon mahasiswa mulai mempertimbangkan reputasi publikasi dosen, kualitas penelitian, hingga rekam jejak akademik sebelum menentukan pilihan kampus.
Hal yang sama juga terjadi dalam dunia pendanaan dan hibah penelitian. Saat ini, berbagai program hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, maupun lembaga pendanaan nasional lainnya sangat mempertimbangkan rekam jejak penelitian institusi dan dosennya.
Universitas dengan score overall SINTA tinggi umumnya memiliki peluang lebih besar memperoleh hibah kompetitif, baik hibah penelitian dasar, penelitian terapan, pengabdian masyarakat, matching fund, Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), hingga pendanaan inovasi berbasis industri. Hal ini terjadi karena capaian SINTA dianggap mencerminkan kapasitas akademik dan produktivitas riset perguruan tinggi.
Di satu sisi, kebijakan ini dapat dipahami sebagai upaya pemerintah mendorong budaya kompetisi dan peningkatan kualitas penelitian nasional. Hibah diberikan kepada institusi yang dianggap memiliki kemampuan mengelola penelitian secara profesional dan menghasilkan luaran ilmiah yang jelas. Namun di sisi lain, mekanisme tersebut juga menghadirkan tantangan serius bagi banyak perguruan tinggi, khususnya kampus swasta dan universitas di daerah. Tidak semua institusi memiliki sumber daya yang sama untuk membangun ekosistem riset yang kuat. Kampus besar di kota-kota besar tentu lebih mudah mengembangkan laboratorium modern, mengakses jurnal internasional, menghadirkan profesor tamu, maupun menjalin kerja sama global.
Sebaliknya, banyak perguruan tinggi daerah masih menghadapi keterbatasan anggaran, minim fasilitas penelitian, beban mengajar dosen yang tinggi, hingga rendahnya akses terhadap sumber daya akademik global. Dalam kondisi seperti ini, persaingan berbasis score overall SINTA berpotensi menciptakan ketimpangan baru dalam dunia pendidikan tinggi.
Universitas yang sudah maju akan semakin unggul karena terus memperoleh hibah dan dukungan penelitian, sementara kampus kecil semakin tertinggal karena keterbatasan sumber daya. Jika tidak diimbangi kebijakan afirmatif, sistem kompetisi akademik justru dapat memperlebar kesenjangan kualitas antarperguruan tinggi di Indonesia. Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa penguatan SINTA dan sistem hibah penelitian tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pemerataan kapasitas akademik nasional. Kampus-kampus daerah harus diberikan dukungan lebih besar melalui hibah pembinaan, pelatihan publikasi, penguatan kapasitas dosen, pendampingan penelitian, serta akses terhadap jurnal dan jejaring internasional.
Hibah Dikti seharusnya tidak hanya menjadi instrumen penghargaan bagi kampus unggul, tetapi juga menjadi sarana membangun ekosistem riset nasional yang inklusif dan berkeadilan. Sebab kemajuan pendidikan tinggi Indonesia tidak mungkin dicapai jika hanya bertumpu pada segelintir universitas besar. Selain faktor pemerintah, kepemimpinan universitas juga memegang peranan sangat penting dalam membangun budaya riset yang sehat. Rektor dan pimpinan perguruan tinggi tidak cukup hanya menargetkan kenaikan score overall atau posisi ranking SINTA, tetapi harus mampu menciptakan atmosfer akademik yang mendorong kreativitas, kebebasan berpikir,
dan kolaborasi ilmiah.
Budaya riset tidak lahir dari tekanan administratif semata. Ia tumbuh dari lingkungan akademik yang menghargai diskusi, membaca, menulis, berpikir kritis, dan kebebasan intelektual. Kampus yang terlalu birokratis justru sering membunuh kreativitas ilmiah dosen dan mahasiswa.
Di sinilah pentingnya membangun keseimbangan antara orientasi angka dan kualitas substansi. Peringkat memang penting, tetapi integritas akademik jauh lebih penting. Publikasi memang dibutuhkan, tetapi dampak sosial keilmuan jauh lebih bermakna. Universitas harus kembali menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana pencerahan peradaban, bukan sekadar instrumen kompetisi statistik. Sebab sejarah membuktikan bahwa kampus besar tidak lahir hanya karena banyaknya publikasi, tetapi karena kemampuannya melahirkan gagasan yang mengubah dunia.
Dalam konteks Indonesia, tantangan perguruan tinggi sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar mengejar ranking. Kampus harus mampu menjawab persoalan nyata bangsa, kemiskinan, ketimpangan pendidikan, pengangguran, disrupsi teknologi, ketahanan energi, krisis pangan, hingga kerusakan lingkungan. Penelitian yang baik adalah penelitian yang hadir di tengah masyarakat, bukan hanya hidup di ruang seminar dan repositori jurnal. Kampus harus menjadi pusat solusi, bukan sekadar pusat administrasi akademik.
Karena itu, peningkatan score overall dan peringkat SINTA seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Apakah riset yang kita hasilkan benar-benar menjawab kebutuhan bangsa? Apakah publikasi ilmiah yang dibuat telah memberi solusi konkret bagi masyarakat? Ataukah kita hanya sedang berlomba mengejar angka demi kepentingan administratif dan pencitraan institusi?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar dunia akademik tidak kehilangan arah. Sebab universitas bukan perusahaan statistik, melainkan rumah ilmu pengetahuan dan pusat pembangunan peradaban. Pada akhirnya, SINTA memang memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi Indonesia. Sistem ini berhasil meningkatkan kesadaran pentingnya publikasi ilmiah dan budaya riset di kalangan akademisi. Kehadiran SINTA juga mendorong universitas lebih serius membangun kapasitas penelitian dan memperkuat reputasi akademik.
Namun demikian, SINTA harus ditempatkan secara proporsional, yakni sebagai instrumen evaluasi, bukan satu-satunya definisi kualitas universitas. Kampus yang ideal bukan hanya kampus dengan skor tinggi, tetapi kampus yang mampu melahirkan manusia berintegritas, penelitian yang bermanfaat, inovasi yang aplikatif, dan gagasan yang memberi harapan bagi masa depan bangsa.
Jika orientasi itu tetap dijaga, maka peningkatan score overall dan peringkat SINTA tidak hanya menjadi prestise akademik semata, tetapi juga bagian dari ikhtiar besar membangun peradaban ilmu pengetahuan Indonesia yang lebih maju, bermartabat, berkeadilan, dan berkemajuan.
Sebab pada akhirnya, masa depan universitas tidak ditentukan hanya oleh tingginya angka sitasi atau ranking institusi, tetapi oleh sejauh mana ilmu pengetahuan yang dihasilkan mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat dan masa depan Indonesia. (***)





