PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Perpustakaan dan Layanan Digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menggelar agenda SNI Live Corner. Acara bertajuk “Implementasi Manajemen Risiko di Perguruan Tinggi Berbasis ISO 31000:2018” ini berlangsung pada Selasa (19/5). Pihak panitia menyelenggarakan acara secara bauran (hybrid) dari Ruang Siti Badilah Kampus UMS dan aplikasi Zoom.
Agenda penting ini menghadirkan dua narasumber ahli untuk mengupas tuntas tata kelola kampus yang sehat. Mereka adalah Nihayati, M.Hum. (Pustakawan Ahli Muda sekaligus Pengelola Risiko BSN) dan Munajat Tri Nugroho, Ph.D. (Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan UMS).
Sinergi UMS dan BSN untuk Mutu Kampus
Kepala Bagian Layanan Informasi dan Perpustakaan BSN, Minanuddin, M.Hum., turut hadir secara virtual. Oleh karena itu, ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kolaborasi strategis tersebut.
“Kami berterima kasih atas terselengganya kolaborasi ini,” ujar Minanuddin pada Kamis (21/5). Selanjutnya, ia menegaskan bahwa sinergi tersebut sangat penting untuk membumikan budaya standar demi mutu institusi.
Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, Ph.D., membuka acara ini secara resmi melalui platform Zoom. Dalam pidatonya, Ihwan menyatakan bahwa UMS memiliki komitmen penuh untuk menerapkan manajemen risiko perguruan tinggi. Langkah ini bertujuan agar kampus mampu menghadapi tantangan masa depan sekaligus menjaga mutu akademik.
Delapan Prinsip Utama ISO 31000:2018
Saat memasuki sesi inti, Nihayati memaparkan materi penting mengenai regulasi ISO 31000:2018. Menurutnya, tujuan utama pengelolaan ini adalah untuk melindungi nilai organisasi. Selain itu, sistem ini juga efektif untuk meningkatkan kinerja dan mendorong inovasi.
Oleh sebab itu, Nihayati menyebutkan delapan prinsip utama yang wajib menjadi fondasi pertimbangan tata kelola kampus. Prinsip tersebut meliputi sistem yang terintegrasi, terstruktur, adaptif, inklusif, dan dinamis. Manajemen juga harus bersandarkan pada informasi terbaik, mempertimbangkan faktor manusia, serta mengutamakan perbaikan berkelanjutan.
Mengukur Risiko Lewat Matriks 5×5
Pada sesi kedua, Munajat Tri Nugroho mengupas sisi praktis tata kelola berbasis ISO 21001:2018. Ia mengingatkan peserta mengenai pentingnya kesadaran terhadap bahaya laten yang mengancam keberlanjutan institusi.
“Kampus yang mengabaikan hal ini pasti akan tertinggal besok,” tegas Munajat. Baginya, manajemen risiko perguruan tinggi bukan sekadar kepatuhan di atas kertas, melainkan sebuah cara berpikir strategis.
Lebih lanjut, ia memetakan potensi hambatan kampus ke dalam enam tipologi utama. Tipologi tersebut adalah bidang strategis, akademik, operasional, keuangan, kepatuhan, dan reputasi. Untuk mengukurnya, unit kerja dapat menggunakan alat evaluasi Risk Matrix 5×5 guna menakar dampak buruknya.
Acara interaktif ini berjalan sangat dinamis dengan diskusi yang hangat. Melalui kegiatan ini, seluruh unit kerja di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta memperoleh panduan aplikatif untuk mengelola risiko secara profesional.
Kontributor: Maysali
Editor: Alafasy
The post Gandeng BSN, UMS Bongkar Strategi Manajemen Risiko Perguruan Tinggi yang Profesional appeared first on Muhammadiyah Jateng.




