WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali meneguhkan komitmennya dalam pengembangan keilmuan dengan mengukuhkan Wajiran sebagai guru besar dalam bidang Kritik Sastra. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Amphitarium Gedung Utama Kampus IV UAD pada Sabtu (25/4).
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Sastra dan Perjuangan Makna: Refleksi atas Ideologi, Kekuasaan, dan Kemanusiaan”, Prof. Wajiran menegaskan bahwa sastra tidak dapat dipahami semata sebagai karya estetika. Lebih dari itu, sastra merupakan ruang produksi makna, tempat realitas sosial ditafsirkan, dipertanyakan, dan bahkan dibentuk ulang.
Ia memandang karya sastra sebagai arena pertarungan nilai dan kepentingan yang mampu mengungkap relasi kuasa dalam kehidupan masyarakat.
“Sastra tidak hanya menghadirkan cerita, akan tetapi juga membuka ruang refleksi kritis tentang bagaimana makna diproduksi dalam kehidupan manusia,” tegasnya.
Menurutnya, dimensi representasi dalam sastra memiliki keterkaitan erat dengan berbagai isu sosial, seperti gender, kelas, ras, hingga agama. Dalam konteks ini, sastra berfungsi sebagai medium perjuangan kemanusiaan—menolak dehumanisasi sekaligus memberi suara bagi kelompok yang terpinggirkan.
Sebagai akademisi yang menekuni kritik sastra, Prof. Wajiran banyak mengkaji hubungan antara teks sastra dengan ideologi dan politik. Salah satu fokus kajiannya mencakup dinamika perjuangan masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat, yang ia baca melalui perspektif kritik ideologis. Ia meyakini bahwa analisis terhadap karya sastra tidak hanya memperkaya pemahaman, tetapi juga menjaga nalar kritis masyarakat.
Di sisi lain, ia juga menyoroti tantangan literasi di Indonesia, khususnya rendahnya minat baca dan melemahnya pendidikan karakter di kalangan pelajar.
“Kondisi ini tentunya memerlukan perjuangan yang lebih kuat agar budaya masyarakat Indonesia ini meningkat,” ujarnya.
Melalui karya-karya ilmiah dan buku yang ditulisnya, Prof. Wajiran berupaya menjadikan sastra sebagai fondasi penguatan literasi sekaligus pembentukan karakter. Ia menekankan bahwa aktivitas membaca bukan sekadar kebiasaan, melainkan kunci penting dalam membangun peradaban bangsa.
The post Prof. Wajiran: Sastra Adalah Ruang Perjuangan Ideologi dan Kemanusiaan appeared first on Warta PTM.





