Orasi Ilmiah Profesor Dr. Anang Anas Azhar pada Pengukuhan Guru Besar UINSU
Pencitraan Politik Islam : Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik Ala Islam
(Disampaikan pada Pengukuhan Guru Besar, Rabu 22 April 2026)
Assalamualai’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syukur alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT kita sampaikan, karena berkat nikmatnya yang tidak terbatas, kita dapat berkumpul di Gelanggang UIN Sumatetra Utara yang amat bersejarah ini dalam keadaan sehat wal’afiat. Hari ini, saya mendapatkan berkah sangat luar biasa untuk menyampaikan pidato ilmiah, pidato pengukuhan guru besar UIN Sumatera Utara. Sholawat dan salam kita sampaikan kepada Rasulullah SAW, sosok dan teladan kita bagi umat Islam, yang membawa perubahan umat Islam dari alam dan suasana akhlak yang rusak kepada alam yang bercahaya dengan nilai-nilai iman dan Islam.
Yang Terhormat, Ketua Senat dan Ibu Rektor UIN Sumatera Utara
Izinkan saya, di hari yang sangat bersejarah bagi saya dalam reputasi akademik tertinggi saya ini, di majelis yang mulia ini, saya menyampaikan Pidato Pengukuhan Guru Besar saya dengan judul : “Pencitraan Politik Islam : Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik Ala Islam”. Sebuah judul yang menurut saya amat menarik dalam konteks komunikasi politik Islam pada ranah politik kontemporer. Banyak umat Islam merasakan kejenuhan, bahkan kebosanan melihat tingkah laku dan prilaku elit politik kita secara etik dan etika, ketika berkompetisi pada ajang kampanye politik, khususnya dalam perhelatan kompetisi politik, apakah pemilihan umum presiden/wakil presiden, pemilihan legislatif, pemilihan gubernur, bupati, bahkan pemilihan calan walikota. Karena sistem pemilihan umum kita didistribusikan melalui suara per-seorangan untuk memenangi kompetisi politik, maka terkadang untuk mendapatkan suara dari pemilih, terkadang harus dilakukan kecurangan, sekaligus menghilang logika sehat politik. Salah satunya, pencitraan politik atau politik pencitraan yang digulirkan “pemburu” suara dalam kontetasi politik.
Yang Terhormat, Ketua Senat dan Ibu Rektor UIN Sumatera Utara
Makna Pencitraan Politik
Dalam kajian ilmu komunikasi dan politik, pencitraan politik (political image building) dipahami sebagai proses strategi pembentukan persepsi publik terhadap aktor politik melalui pengelolaan simbol, pesan, media, dan narasi tertentu. Pencitraan tidak sekadar makna aktivitas komunikasi biasa, melainkan bagian dari konstruksi realitas sosial yang secara sadar dirancang untuk memengaruhi opini publik dan membangun legitimasi kekuasaan (Nimmo, 2005; McNair, 2018). Dalam demokrasi modern, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas administratif atau kekuatan struktural, tetapi oleh bagaimana seorang aktor dipersepsikan oleh publik. Persepsi tersebut dibentuk, dipelihara, dan dinegosiasikan melalui proses komunikasi yang terstruktur dan berkelanjutan.
Secara sosiologis, realitas politik bukanlah entitas yang sepenuhnya objektif, melainkan hasil konstruksi sosial. Berger dan Luckmann menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi (Berger & Luckmann, 1966). Dalam konteks politik, kandidat dan tim kampanye mengeksternalisasikan identitas tertentu melalui pesan dan simbol; media mengobjektivasikannya dalam bentuk pemberitaan dan representasi visual; sementara masyarakat menginternalisasikannya sebagai realitas tentang siapa kandidat tersebut. Dengan demikian, citra politik adalah hasil interaksi kompleks antara aktor, media, dan publik dalam ruang sosial yang dinamis.
Dalam praktiknya, pencitraan politik sering kali lebih menentukan dibandingkan substansi kebijakan. Pemilih tidak selalu memiliki akses atau waktu untuk menelaah secara mendalam program-program teknis kandidat. Sebaliknya, mereka merespons simbol, kesan, dan reputasi yang terbentuk melalui eksposur komunikasi yang berulang (Nimmo, 2005). Di sinilah pencitraan berfungsi sebagai jembatan antara kompleksitas kebijakan dan persepsi publik yang lebih sederhana dan simbolik.
Secara teoretis, pencitraan berkaitan erat dengan teori framing dan agenda setting. Framing, sebagaimana dijelaskan oleh Entman, merupakan proses seleksi aspek realitas tertentu untuk ditonjolkan sehingga membentuk interpretasi khalayak terhadap suatu peristiwa (Entman, 1993). Framing bukan sekadar penyajian informasi, melainkan penataan makna. Dalam kampanye politik, isu yang sama dapat dibingkai secara berbeda untuk menghasilkan persepsi yang berbeda. Misalnya, kebijakan penghematan anggaran dapat dibingkai sebagai langkah efisiensi atau sebagai bentuk pengurangan pelayanan publik, tergantung pada sudut pandang yang digunakan.
Framing juga berperan dalam membangun identitas kandidat. Seorang politisi dapat dibingkai sebagai pemimpin religius, reformis, nasionalis, atau populis melalui penekanan simbol tertentu dalam komunikasi publik. Pemilihan kata, citra visual, lokasi kampanye, hingga asosiasi dengan kelompok sosial tertentu merupakan bagian dari strategi framing yang terintegrasi. Melalui framing yang konsisten, identitas simbolik kandidat menjadi lebih kuat dan mudah dikenali.
Sementara itu, teori agenda setting menegaskan bahwa media memiliki kekuatan untuk menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik (McCombs & Shaw, 1972). Media mungkin tidak menentukan apa yang harus dipikirkan publik, tetapi media sangat memengaruhi tentang apa publik berpikir. Dalam konteks pencitraan politik, penguasaan agenda berarti kemampuan mengarahkan perhatian publik pada isu-isu yang menguntungkan kandidat dan mengalihkan fokus dari isu yang merugikan. Ketika media secara konsisten menyoroti isu tertentu, publik cenderung menganggap isu tersebut sebagai prioritas politik utama. Interaksi antara framing dan agenda setting membentuk fondasi pencitraan politik modern. Kandidat yang mampu mengendalikan narasi dan agenda publik memiliki peluang lebih besar dalam membangun citra positif. Sebaliknya, kegagalan dalam mengelola agenda dapat menyebabkan citra negatif mendominasi ruang publik.
Selain framing dan agenda setting, pencitraan politik juga erat kaitannya dengan teori dramaturgi Erving Goffman. Goffman memandang kehidupan sosial sebagai panggung pertunjukan, di mana individu memainkan peran tertentu di hadapan audiens untuk membangun kesan tertentu (Goffman, 1959). Dalam konteks politik, kandidat adalah aktor yang tampil di “panggung depan” (front stage) melalui debat publik, kampanye, dan media sosial. Di balik panggung (back stage), terdapat tim strategis yang merancang pesan, mengatur simbol, dan mengelola narasi.
Manajemen kesan (impression management) menjadi inti dari proses ini. Setiap gestur, ekspresi wajah, pilihan busana, hingga intonasi suara memiliki makna simbolik. Busana religius dapat menegaskan identitas moral; pakaian sederhana dapat membangun citra kerakyatan; latar kampanye di pasar tradisional dapat memperkuat kesan kedekatan dengan rakyat kecil. Semua elemen tersebut dirancang untuk menciptakan kesan tertentu dalam benak publik. Namun, dramaturgi politik memiliki risiko inheren. Ketika terdapat ketidaksesuaian antara citra yang ditampilkan dan realitas tindakan, publik dapat mengalami disonansi kognitif yang berujung pada hilangnya kepercayaan. Dalam era digital, inkonsistensi dapat dengan cepat terungkap dan tersebar luas, sehingga menimbulkan krisis reputasi.
Pencitraan politik juga berkaitan erat dengan legitimasi kekuasaan. Weber mengemukakan bahwa legitimasi dapat bersumber dari otoritas tradisional, karismatik, dan legal-rasional (Weber, 1978). Dalam demokrasi modern, legitimasi tidak hanya diperoleh melalui prosedur pemilihan yang sah, tetapi juga melalui persepsi publik terhadap moralitas dan kompetensi pemimpin. Citra yang positif dapat memperkuat legitimasi, sementara citra negatif dapat menggerogoti kepercayaan publik meskipun secara formal seorang pemimpin telah dipilih secara sah.
Habermas menekankan pentingnya komunikasi rasional dalam ruang publik sebagai dasar legitimasi demokrasi (Habermas, 1989). Namun dalam praktiknya, komunikasi politik sering kali bersifat strategis, bukan deliberatif. Pencitraan menjadi alat untuk membangun konsensus simbolik melalui retorika dan representasi, meskipun terkadang substansi kebijakan belum sepenuhnya dipahami publik. Ketegangan antara komunikasi strategis dan komunikasi rasional inilah yang menjadi dinamika utama dalam demokrasi kontemporer.
Perkembangan media massa dan digitalisasi semakin memperluas arena pencitraan politik. Televisi memperkenalkan politik visual, di mana performa kandidat di layar kaca membentuk persepsi lebih kuat dibandingkan teks tertulis. Media sosial menghadirkan personalisasi politik yang lebih intens dan interaktif (Castells, 2015). Kandidat dapat berkomunikasi langsung dengan pemilih tanpa perantara media tradisional, tetapi pada saat yang sama kehilangan kontrol penuh atas narasi karena publik juga menjadi produsen konten.
Digitalisasi mempercepat pembentukan dan perubahan citra. Viralitas dapat mengangkat popularitas secara instan, tetapi juga dapat menghancurkan reputasi dalam waktu singkat. Algoritma media sosial memperkuat konten yang memicu emosi, sehingga pencitraan sering kali bergerak dalam logika atensi, bukan logika rasional. Dalam konteks ini, pencitraan menjadi medan kontestasi yang lebih cair, cepat, dan rentan terhadap manipulasi.
Risiko manipulasi semakin meningkat dalam era post truth, ketika opini dan emosi lebih dominan dibandingkan fakta objektif (McIntyre, 2018). Pencitraan yang tidak etis dapat berubah menjadi propaganda atau disinformasi yang merusak kualitas demokrasi (Bennett & Livingston, 2018). Ketika citra dibangun melalui distorsi fakta, legitimasi politik menjadi rapuh karena tidak bertumpu pada realitas substantif.
Dalam perspektif ini, pencitraan politik dapat dipahami sebagai bentuk modal simbolik. Reputasi, kredibilitas, dan kehormatan menjadi aset yang menentukan posisi kandidat dalam arena politik. Modal simbolik tersebut tidak bersifat tetap; ia harus dipelihara melalui konsistensi tindakan dan komunikasi. Ketika simbol tidak lagi sesuai dengan realitas, modal simbolik dapat berubah menjadi beban reputasi. Di sisi lain, dalam perspektif ilmu komunikasi modern, pencitraan politik adalah proses konstruksi simbolik yang bertujuan membangun reputasi, kredibilitas, dan legitimasi seorang aktor politik di ruang publik. Ia melibatkan strategi framing, penguasaan agenda, manajemen kesan, dan pengelolaan media dalam dinamika demokrasi yang terus berubah. Pencitraan dapat menjadi instrumen positif apabila selaras dengan integritas dan kinerja nyata. Namun, ia juga dapat menjadi alat manipulasi apabila terlepas dari tanggung jawab etis.
Yang Terhormat, Ketua Senat dan Ibu Rektor UIN Sumatera Utara
Pencitraan Politik Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, pencitraan politik tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai moral dan prinsip etika syariah. Politik dalam Islam bukan sekadar arena perebutan kekuasaan, melainkan ruang pengabdian yang sarat tanggung jawab spiritual dan sosial. Oleh karena itu, setiap bentuk komunikasi politik termasuk pencitraan harus tunduk pada norma akhlak dan tujuan syariat. Islam mengakui pentingnya reputasi (sum‘ah) dan kepercayaan (amanah) dalam kepemimpinan, tetapi secara tegas menolak manipulasi, kebohongan, dan rekayasa persepsi demi kepentingan kekuasaan.
Konsep reputasi dalam Islam tidak dipahami sebagai konstruksi simbolik semata, melainkan sebagai refleksi dari integritas moral yang nyata. Seorang pemimpin memperoleh kepercayaan masyarakat karena kualitas akhlaknya, bukan karena kemampuan retorika atau strategi komunikasi yang manipulatif. Dalam tradisi Islam, reputasi yang baik merupakan konsekuensi dari konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Reputasi bukan sesuatu yang direkayasa, tetapi hasil dari kejujuran dan tanggung jawab yang berkelanjutan.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya integritas dalam komunikasi publik pada QS. Al-Ahzab: 70 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ٧٠
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadida)” (QS. Al-Ahzab: 70).
Konsep qaulan sadida mengandung makna perkataan yang lurus, benar, dan tidak menyimpang dari kebenaran. Dalam konteks komunikasi politik, ayat ini menjadi landasan normatif bahwa setiap pesan yang disampaikan kepada publik harus berbasis pada fakta, kejujuran, dan tanggung jawab. Komunikasi politik tidak boleh dibangun atas dasar manipulasi emosi, distorsi realitas, atau propaganda yang menyesatkan.
Prinsip ini diperkuat oleh ayat lain yang menekankan kewajiban verifikasi informasi (tabayyun) pada QS. Al-Hujurat: 6 yang berbunyi:
Artinya:
“Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…”
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan keakuratan informasi dalam kehidupan sosial. Dalam era politik kontemporer yang sarat disinformasi, prinsip tabayyun menjadi sangat relevan. Pencitraan politik yang mengabaikan verifikasi dan kebenaran informasi bertentangan dengan nilai dasar Islam.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW membangun legitimasi kepemimpinan melalui akhlak dan konsistensi moral, bukan melalui propaganda manipulatif. Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau telah dikenal sebagai al-Amin yang terpercaya. Gelar tersebut bukan hasil kampanye simbolik, melainkan buah dari integritas yang teruji dalam kehidupan sosial (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din). Legitimasi kepemimpinan Nabi tidak dibangun melalui pencitraan artifisial, tetapi melalui keteladanan nyata dalam kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial.
Kepemimpinan dalam Islam tidak berorientasi pada penguasaan opini, melainkan pada pelayanan dan tanggung jawab. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa setiap pemimpin adalah penggembala dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan privilese kekuasaan. Oleh karena itu, setiap strategi komunikasi politik harus berorientasi pada pertanggungjawaban moral.
Konsep siyasah dalam Islam juga menegaskan bahwa politik adalah instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan (maslahah) dan menolak kerusakan (mafsadah) (Al-Mawardi, Al-Ahkam al-Sultaniyyah). Politik bukan tujuan, melainkan sarana. Kekuasaan bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan untuk menjaga keadilan dan kesejahteraan umat. Dalam kerangka ini, pencitraan politik hanya dibenarkan sejauh ia mencerminkan realitas moral yang autentik dan mendukung kemaslahatan publik.
Al-Shatibi dalam teori Maqashid al-shariah menjelaskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Setiap aktivitas politik, termasuk komunikasi dan pencitraan, harus mengarah pada perlindungan lima prinsip dasar tersebut. Jika pencitraan politik menimbulkan polarisasi, konflik, atau penyebaran kebencian, maka ia bertentangan dengan maqashid karena menghasilkan mafsadah sosial.
Dalam konteks kontemporer, pencitraan sering kali dipahami sebagai strategi branding dan manajemen persepsi. Namun, Islam membedakan antara komunikasi persuasif yang jujur dan manipulasi yang menyesatkan. Komunikasi persuasif dapat diterima selama berbasis kebenaran dan transparansi. Sebaliknya, manipulasi informasi termasuk dalam kategori tadlis (penipuan) yang dilarang dalam Islam. Dalam demokrasi modern, pencitraan sering kali menjadi kebutuhan praktis karena publik tidak dapat mengenal kandidat secara langsung. Namun, Islam mengingatkan bahwa citra harus merupakan refleksi dari realitas, bukan konstruksi semu. Jika pencitraan melampaui batas etika dan berubah menjadi rekayasa persepsi, maka ia kehilangan legitimasi moralnya.
Dalam perspektif Islam, pencitraan politik dapat diterima sepanjang memenuhi beberapa syarat normatif: pertama, berbasis pada kebenaran dan transparansi; kedua, tidak mengandung unsur manipulasi atau kebohongan; ketiga, berorientasi pada kemaslahatan publik; dan keempat, selaras dengan prinsip Maqashid al-shariah. Pencitraan bukanlah seni menipu persepsi, melainkan sarana komunikasi untuk memperkenalkan kualitas moral dan kompetensi kepemimpinan yang nyata.
Legitimasi politik dalam Islam tidak ditentukan oleh kecanggihan strategi komunikasi, tetapi oleh integritas dan tanggung jawab moral. Citra yang autentik lahir dari konsistensi antara nilai, perkataan, dan tindakan. Dalam konteks demokrasi digital yang penuh dinamika, prinsip-prinsip ini menjadi semakin penting agar politik tidak terjerumus pada pragmatisme tanpa etika.
Pencitraan politik Islam yang ideal adalah pencitraan yang bersandar pada akhlak, bukan ilusi; pada amanah, bukan ambisi; pada kemaslahatan, bukan manipulasi. Dengan paradigma ini, komunikasi politik tidak hanya menjadi instrumen elektoral, tetapi juga bagian dari ibadah sosial yang menguatkan keadilan dan kesejahteraan umat.
Yang Terhormat, Ketua Senat dan Ibu Rektor UIN Sumatera Utara
Gagasan Pemikiran Kampanye Ala Islam
Setelah kita memahami secara akademik apa yang saya ungkapkan dalam pidato pengukuhan ini. Apa itu pencitraan p;olitik dan apa itu politik pencitraan, ala western atau kampanye ala Islam. Izinkan saya dalam pidato pengukuhan guru besar saya ini, mengajukan gagasan pemikiran penting, dan menjadi catatan penting terkait pencitraan politik dalam pandangan Islam secara ilmiah. Saya mengajukan tiga gagasan penting dalam pencitraan politik Islam, kampanye ala Islam yang melibatkan ulama, tokoh masyarakat dan politisi berbalut doktrin agama.
Pertama, menggeser makna pencitraan. Makna ini, kita geser dari simbol ansih kepada akhlak politik. Pencitraan politik Islam jangan berhenti pada busana religius, jargon agama, atau kedekatan simbolik dengan ulama, tetapi harus tampil sebagai citra akhlak publik, mengedepankan sikap jujur, adil, amanah, dan berpihak pada rakyat. Ini relevan karena studi tentang kampanye ala Islam di Indonesia menunjukkan agama sering dipakai sebagai legitimasi politik, sementara pengaruh ulama memang kuat dalam mendongkrak elektabilitas dalam kompetisi politik.
Kedua, ulama jangan hanya jadi “stempel politik”, tetapi menjadi penuntun etika demokrasi. Gagasan barunya adalah menempatkan ulama tidak semata pemberi dukungan kepada kandidat, melainkan penjaga moral kontestasi, menenangkan umat, mencegah politik fitnah, dan mengarahkan pilihan politik berdasarkan maslahat, bukan fanatisme dan finanasial ansih. Ini penting karena riset menunjukkan tokoh agama memiliki posisi kuat dalam struktur kekuasaan politik lokal, sementara kontestasi otoritas agama juga mudah memicu polarisasi di ruang publik dan media sosial.
Ketiga, kampanye politik ala Islam harus berbasis maslahat, bukan kultus figur
Saya menyarankan, kampanye ala Islam yang ideal bukan “siapa ulamanya mendukung siapa”, tetapi apa agenda keummatan dan kebangsaannya. Ulama hadir sebagai pengarah orientasi nilai, bukan pengumpul suara semata. Gagasan ini sejalan dengan dorongan pada politik yang lebih substantif, humanis, dan transformatif dalam wacana teologi politik Islam di Indonesia.
Tiga gagasan ini, menurut saya menjadi penting dan bermanfaat bagi kemaslahatan komunikasi politik Islam, pada latar kompetisi politik Indonesia. Kita tidak dapat melepaskan diri dari pencitraan politik, algoritma media sosial dan media mainstream menjadi panggung para aktor-aktor politik yang bernyali merebut kekuasaan. Rebutlah kekuasan dengan cara rapi, berakhlak, beretika dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.
Yang Terhormat, Ketua Senat dan Ibu Rektor UIN Sumatera Utara
Akhirnya, izinkan saya di akhir Pidato Pengukuhan Guru Besar saya ini, menyampaikan ucapan terimakasih yang tidak terhingga kepada semua orang yang secara tidak langsung maupun terlibat langsung, ikut berkontribusi dalam membangun karakter saya, karir akademik saya, sejak SD, MTs, MAN, S1, S2 dan S3 di IAIN/UIN Sumatera Utara. Kendati tidak semuanya saya sebutkan karena keterbatasan lembaran kertas ini.
- Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada para guru-guru saya yang berada di SD Inpres Nomor 116241 sekarang menjadi SD Negeri 10 di Jalan Kampung Baru Rantau Prapat, Kabupaten Labuhan Batu. Izinkan saya menyebut dua nama yang masih ingat dalam ingatan saya, tanpa menafikan nama guru-guru saya yang lainnya, yakni Pak Warahmathan dan Ibu Mawardi. Dua guru SD ini saya ingat, karena keduanya sering mengingatkan kepada saya agar jangan menjadi anak bandal. Karena keduanya sayang kepada saya, akhirnya ucapan ini sering saya ingat hingga terus berbekas kepada saya sampai saat ini.
- Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada guru-guru saya di MTsN Filial Rantau Prapat. Saat itu saya berada di Kelas IIIc, Pak Darwin, Pak Awaluddin, dan Kawan-kawan satu lokal saya. Mereka ini semuanya banyak berkontribusi untuk pertemanan tiada akhir, sampai saya menamatkan MTs saya ini di Jalan Kampung Baru, Rantau Prapat, Kabupaten Labuhan Batu.
- Kepada guru-guru saya di MAN Filial Rantau Prapat, Labuhan Batu. Sebuh sekolah yang mendidik saya matang berpikir. Mereka yang turut berkontribusi mengajari saya, Pak Dirhanuddin Siregar, Pak Idris, Pak Bunial Harahap, Pak Taufik, Pak Radison Bangun. Tak kalah pentingnya, teman-teman saya satu lokal, Ahmad Dahlawi Dalimunthe, Dahmul Daulay, Summayahdin Nur, Syahrul Huda, Siti Aminah, Desmawati Hasibuan, Seniman, Raudhoh Hasibuan dan banyak lagi yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
- Ucapan terimakasih tak terbatas, juga saya sampaikan kepada teman-teman saya kuliah di lokal dan satu perjuangan Stambuk 1993. Saudara Hasrat Efendi Samosir, Labuhan Hasibuan, Muhammad Rinaldi, Muhammad Syawal, Samsul Bahri Lubis, Muhammad Syahyan, Khairuddin di Ajamu-Labuhan Batu, Salmah Hasibuan, Muhammad Salim, Muhammad Najir Hidayat, Adi Sucipto dan masih banyak yang lainnya, yang turut langsung dan tidak langsung ikut berkontribusi atas kesuksesan akademik saya ini.
- Ucapan terimakasih, saya ucapkan juga kepada para dosen-dosen saya di S1 FDK IAIN/UIN Sumatera Utara, khususnya di bidang jurnalistik, Drs HM Sazli Nasution, HM Luth Lubis, Drs Syahruddin Siregar. Mereka ini wartawan senior, ketiganyalah yang mendorong saya bercita-cita menjadi wartawan hingga meraih prestasi dan kompeten di bidang jurnalistik sebagai wartawan utama peraih sertifikat UKW Utama dari Dewan Pers Tahun 2014.
- Para dosen saya di Fakultas Dakwah IAIN Sumatera Utara saat itu. Yang sudah mengajarkan saya dari titik alpa atas ketidaktahuan bidang keilmuan di dakwah dan komunikasi, akhirnya saya tercerahkan dan konsern saya pada dakwah bil kitabah sebagai wartawan. Terimakasih saya ucapakan kepada Pak Thaharuddin AG, dosen panutan saya sekaligus menginspirasi saya menjadi orang yang mandiri, Ibu Dra Hj Mardiana D. Beliau sudah memberikan waktu dan kesempatan yang luar biasa kepada saya menjadi Asisten Dosen sejak saya tamat kuliah tahun 1998-1999 di FD IAIN Sumatera Utara. Sebuah kehormatan yang tidak bisa dikukur dengan uang, Allah berikan kepada saya melalui Ibu Hj Madiana D. Dosen saya S1 lainnya, Prof H Moh Hatta, Dr Azhar Sitompul, Prof Dr Abbdullah, Drs Supardi, Prof Dr HM Yakub, Drs Ramli Nasution, Drs Sofyan, Prof Dr Asmuni. Dra. Hj Yusnaini, Prof Dr Irwansyah Betawi, Drs Efi Brata Madya, Ibu Dra Nasrillah MG dan lainnya.
- Para dosen saya di jenjang S2 dan S3 Pascasarjana IAIN Sumatera Utara. Mereka sudah banyak berkontribusi kepada saya, mereka adalah Prof Dr Hasyimsyah Nasution MA, Prof. Dr Ali Yakub Matondang MA, Prof Dr Hasan Asari MA, Prof Dr Syukur Kholil MA, Prof Dr Hasan Bakti Nasution MA, Prof Dr Katimim MAg, Prof Dr Ramli Abdul Wahid, Prof Dr Nawir Yuslem, Dr Sulidar MA, Prof Dr Andi Faisal MA, Prof Rahma Hashim Ph.D, Prof Dr Iskandasr Zurkarnain, Prof Dr Yusnadi MS, Prof Dr Suwardi Lubis MS dan masih banyak yang lainnya. Mereka ini, bagi saya memberi warna bagi pemikiran saya hingga akhirnya, saya sukses menggembleng intelektual saya menjadi orang yang bermanfaat bagi semua orang.
- Para Rektor IAIN/UIN Sumatera Utara selama saya Jalani, sejak saya kuliah hingga hari ini sebagai dosen, mereka adalah Drs Nazri Adlani, Prof Dr Ali Yakub Matondang MA, Prof Dr HM Yasir Nasution, Prof Dr Nur Ahmad Fadhil Lubis MA, Prof Dr Saidurrahman M.Ag, Prof Dr Syahrin Harahap MA, dan Ibu Rektor UIN Sumut saat ini, Prof Dr Nurhayati M.Ag. Terimakasih kepada ibu rektor yang sudah menguatkan administrasi usulan guru besar saya hingga menerima SK dari Menteri Agama Republik Indonesia tanggal 15 Desember 2025.
- Secara khusus, ucapan terimakasih saya sampaikan setinggi-tingginya tak terhingga, kepada Alm Prof Dr Nur Ahmad Fadhil MA Rektor UIN Sumatera Utara tahun 2014 saat itu. Karena atas tanda tangannyalah, saya resmi diusulkan menjadi CPNS Jalur K-2. Karena sebelumnya, saya hanya berstatus Dosen Tidak Tetap sejak tahun 2000 hingga pengangkatan CPNS. Dan alhamdulillah, setelah terbit SK PNS TMT-nya Januari 2015.
- Ucapan terimakasih juga, secara khusus saya sampaikan kepada PWI Sumatera Utara, hadir di sini Ketua PWI Sumatera Utara Bang Farianda Putra Sinik. Organisasi PWI inilah tempat saya bernaung selama menjalani profesi saya sebagai wartawan selama 24 tahun lamanya. Bagi saya, kawan-kawan wartawan turut berkontribusi menjadikan peran dirinya saya sebagai praktisi sebagai wartawan dan sebagai akademisi di dunia kampus.
- Kawan-kawan saya seperjuangan di Harian Medan Bisnis. Mereka adalah Bapak Supandi Kusuma Owner Medan Bisnis, Alm Bersihar Lubis, Sarsin Siregar, Nurhalim Tanjung, Sasli Pranoto Simarmata, Abyadi Siregar, Diurnanta, Yuslin Siregar, Nizaruddin dan para kru media yang pernah saya kendarai dan nakhodai menjadi Pemred dan wartawan, yakni Harian Realita Pos, Harian Sumatera, Harian Analog, Harian Wasantara, Harian Medan Bisnis, MedanBisnisonline.com, Asaberita.com, Okemedan.com dan lainnya.
- Kebanggaan saya kepada Kawan-kawan saya saat menjadi wartawan di Media Cetak. Hamdani Nasution, Swisma Naibaho, Devi Marlin, Erwan Efendi, Muhammad Nasir, Dedi Mulia Purba, Firdaus, Merlin, Alm Mayjen Simanungkalit, Nona Hafnida Dalimunthe, Muhammad Riza, Andrean, Bang Yogi SIB, Bang Oki SIB, Agus Lubis, Sugiatmo, Rizal Rudi Surya, Jamaluddin. Mereka ini bagi saya adalah memberikan nama pertama kali kepada saya dengan sebutan Profesor. Waktu itu belum profesor akademik sebagai jabatan tertinggi di perguruan tinggi. Mereka menyebut saya sebagai Profesor Berita. Karena banyaknya berita yang saya produksi untuk dibagi-bagikan kepada Kawan-kawan wartawan, mereka menyebut saya sebagai profesor. Alhamdulillah kawan-kawanku wartawan yang saya sayangi, hari ini Anang Anas Azhar menjadi profesor sesungguhnya. Profesor sesungguhnya mewakili kawan-kawan wartawan. Pesan saya, kepada kawan-kawan jangan berhenti untuk belajar, kejarlah belajar sampai jenjang S3, semoga kawan-kawan menyusul menjadi profesor kebanggaan dunia jurnalistik yang mumpuni di bidangnya.
- Kawan-kawan saya di UMSU, terkhusus kepada Rektor UMSU Prof Dr Agussani MAP, Dr Zulfahmi Raja Demak, Dr Puji Santoso MSP, Ibu Dr Faustina M.Ikom, Bagi saya, mereka sangat banyak memberikan ruang diskusi sampai penyelesaian jurnal-jurnal saya yang dipublis di jurnal terakreditasi.
- Jamaah Masjid Raya Al Jihad, khsususnya Pak Asy’kari sebagai BKM Masjid, jamaah Masjid Taqwa Jalan Pimpinan, Jamaah Masjid Baiturrahman Komplek Pemda Tingkat II Salayang, Jamaah Masjid Taqwa Ubudiyah Jalan Bambu III Kampung Durian. Saya menyebut masjid ini, karena sejak kuliah saya memang tinggal di masjid, hingga menyelesaikan perkuliahan saya di jenjang S1.
- Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Prof Dr Candra Wijaya MPd, Prof Tien Rafida M.Hum. Dua profesor ini bagi saya, adalah tempat diskusi yang turut berkontribusi untuk membimbing dan mengarahkan usulan guru besar saya. Secara khusus pula, saya menyampaikan kepada Prof Candra bagi saya adalah abang sekaligus guru saya, rally-rally Panjang dalam diskusi akademik menuju Guru Besar saya, baik tahapan maupun penguatan berkas saya secara terukur menuju guru besar. Diskusi di lapak Warung Kopi, tak mengurangi warna akademik kita diskusi. Hampir setiap hari, kami berdiskusi menuju guru besar. Terimakasih abangdaku.
- Kawan-kawan dan adik-adik saya dalam satu perjuangan, Dr Mujhirul Iman MPd, Dr Firmansyah MA, Muhammad Faisal MPd, Liana Hutapea M.Kom.I, Dr Ahmad Sampurna MA, Partaonan Harahap ST, MT, Rafii Tarigan, dan Zultoni MPd, yang menyiapkan lokasi warkop untuk kelanjutan diskusi. Mereka juga banyak terlibat dalam penyelesaian persiapan pemberkasan usul guru besar saya.
- Ucapan terimakasih juga, saya sampaikan kepada Dekan FDK UIN Sumatera Utara Prof Dr Hasan Sazali MA, Wakil Dekan I, dan II. Kabag TU dan Sivitas Akademika FDK UIN Sumatera Utara, yang secara langsung ikut mendukung saya menuju guru besar UIN Sumatera Utara.
- Para mahasiswa saya di S3 FDK UIN Sumatera Utara yang turut berkontribusi kepada saya seperti kuliah di lokal dan pembimbingan disertasi, Dr Afifi Lubis, Dr Achmad Facdly Dalimunthe, Dr Rahmadani Lubis MA, Baharuddin Siagian, Dr Mulyono, Hendri Yanto Sitorus, Samsul Tanjung, Sofyan Yusma, Ibrahim Sihombing, Muhammad Andri Simatupang dan banyak lagi yang lainnya, yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu.
Pada bagian akhir ini, izin saya menyampaikan ucapan terimakasih secara khusus dan tidak terbatas kepada keluarga saya tercinta. Keluarga yang selalu menaungi saya, memberikan kekuatan ruhani saya dari setiap gerak langkah saya meretas jalan kehidupan yang fana ini. Kami berasal dari keluarga kurang mampu dan keluarga sangat sederhana.
- Kepada almarhum/almarhumah ayah saya Saibon AS dan Jamilah SM. Kini keduanya, sudah menghadap-Mu ya robb. Berikan mereka surgamu yang terbaik. Atas doa ayahlah, saya berubah haluan hidup menjadi dosen PNS dari sebelumnya wartawan. Sebelumnya, saya tidak pernah terniat sedikitpun menjadi dosen, apalagi sampai doktor bahkan guru besar seperti yang anakmu sandang hari ini. Di tengah keterbatasan ekonomi sebagai tukang talang, pemungut kaleng susu bekas di Pajak lama Rantau Prapat, ayah dan mamak menunjukkan kegigihannya menyekolahkan anak-anaknya. Bermodalkan mengais kaleng susu bekas ini, kini anak-anakmu sudah terbilang sukses. Semoga Allah memberikan ganjaran terbaik kepadamu Ayah dan mamak tercinta.
- Kepada mertua saya, Alm/Almhh Usman Barmawi dan Partima, terimakasih sudah merestui anakmu Evi Sakdiah M.Sos sepenuh hati, mendampingiku selama 26 tahun lamanya. Doamu berkali-kali di hadapan Baitullah (Ka’bah) mengantarkanku menjadi Dosen PNS di UIN Sumatera Utara. Istri saya Evi Sakdiah, yang turut sepenuh hati mengingatkan banyak hal ketika berhadapan dengan masalah. Sebagai profesi wartawan, terkadang saya abai untuk memikirkan keluarga dan anak-anak. Tapi, hatimu begitu jernih dan tulus, mendampingiku sampai hari-hariku dalam kondisi yang terkadang tidak stabil dalam berpikir dan bertindak. Terimakasih istriku yang tercinta.
- Terimakasih juga kepada anak-anakku. Ada empat orang dan alhamdulillah hadir di tempat ini, Muhammad Choirur Rais Alvizar (Al Hafiz) bersanad. Muhammad Hafiz Alvizar sedang kuliah di FSH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Tahfif Alvizar sedang kuliah di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di Surabaya, Jawa Timur. Dan keempat, Muhammad Fikri Rizky Alvizar sedang sekolah Kelas II di Adzkia Medan.
- Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada adik-adik kandung saya, Ade Hidayatullah, Maskhairani, Masdayanti dan Muhammad Nasir Syahrizas. Yang hadir pada hari ini, sekaligus pendorong purlara saya menuju pendidikan tertinggi, sekaligus menjadi contoh kepada adik-adik saya, mungkin di satu saat nanti bisa mengikuti jejak abangnya dan keluarga besar Kita di masa akan datang.
- Adik-adik ipar saya, Yusnar Diansyah, Yusvina dan Rahmayani. Keikutsertaan kalian dalam mendorong abang menjadi dosen amat banyak. Pesan-pesan itu sering disampaikan kakak kalian Evi Sakdiah yang tak lain adalah istri abang sendiri.
Akhirnya, saya kembali mengucapkan terimakasih kepada seluruh keluarga besar saya yang hadir pada hari pengukuhan guru besar saya ini. Tetapi, sungguh dari hati yang paling dalam, saya menyadari masih banyak lagi orang-orang baik yang ikut terlibat dalam membantu saya dalam menjalani karir akademik ini. Saya tidak dapat membalas kebaikan-kebaikan mereka, yang pernah mereka torehkan kepada saya. Saya hanya berdoa, kebaikan yang mereka berikan kepada saya, semoga mendapatkan pahala yang tak terhingga. Dan dibalas oleh Allah SWT.
Billahi Fii Sabililhaq
Fastabiqul Khairat
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh








