PWMJATENG.COM, BANTUL – Sebanyak 83 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan field trip ke sentra pembuatan wayang kulit milik Suprih di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (6/4/2026).
Kegiatan bertajuk Cultural Creation: Learning to Creatively Carve Wayang ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang memadukan mata pelajaran Bahasa Jawa dan Seni Budaya. Kunjungan tersebut tidak sekadar wisata edukatif, tetapi juga upaya mengenalkan murid pada warisan budaya leluhur secara langsung.
Koordinator Tim Kelas III, Yuli Ekowati, menegaskan pentingnya pengalaman belajar yang bersifat empiris dan bersentuhan langsung dengan objek nyata.
“Kami tidak ingin para murid hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pelaku yang memahami proses di balik layar. Kegiatan ini memberikan wawasan tentang seni tradisional sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap para perajin,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, para murid dipandu langsung oleh Suprih, perajin wayang kulit yang karyanya telah menembus pasar internasional, seperti Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, Suprih mengajak para murid mengamati secara langsung proses pembuatan wayang kulit melalui tiga tahapan utama.
Tahap pertama adalah pengolahan bahan baku. Kulit kerbau berkualitas dipilih, kemudian direndam selama satu malam, dibentangkan, dan dikeringkan hingga sempurna.
Tahap kedua ialah pembersihan, yakni proses pengerokan lemak dan rambut hingga permukaan kulit siap diberi pola. Setelah itu, tahap ketiga adalah tatah dan sungging.
Pada tahap ini, proses pemahatan disesuaikan dengan karakter tokoh pewayangan, sedangkan pewarnaan menuntut ketelitian dan estetika tinggi.
Di sela kegiatan, Suprih juga menyampaikan pesan agar generasi muda mencintai dan bangga terhadap kekayaan budaya Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi, seni tatah sungging dinilai mampu mengasah sensitivitas estetika serta keterampilan motorik halus murid.
Ia berharap regenerasi perajin dan penikmat wayang terus tumbuh agar kesenian ini tidak tergerus zaman.
Salah satu murid, Gibran Alfan Mahardika, mengaku memperoleh kesan mendalam dari kegiatan tersebut. Menurutnya, field trip ini tidak hanya memberi pengalaman seni, tetapi juga pelajaran tentang manajemen waktu dan kesabaran.
“Ketelitian adalah kunci untuk menghasilkan wayang berkualitas tinggi. Satu wayang kulit bisa dikerjakan hingga dua bulan. Belajar seni budaya sejak dini adalah wujud nyata cinta tanah air,” tuturnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan nilai karakter, seperti kesabaran, ketekunan, dan kecintaan terhadap budaya bangsa. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman nyata bagi para murid.
Kontributor: Nikmah Hidayati
Editor: Al-Afasy
The post Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Tatah Sungging di Bantul appeared first on Muhammadiyah Jateng.









