PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkenalkan dua pendekatan religius dalam penanganan depresi, yakni Behavioral Activation for Muslim (BA-M) dan Islamic Mindfulness Model (IMM), sebagai bagian dari pengembangan keilmuan kesehatan mental berbasis nilai keislaman.
Akademisi Fakultas Psikologi UMS, Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa depresi tidak semata persoalan perilaku, tetapi juga berkaitan dengan krisis makna hidup.
“Banyak individu mengalami kehilangan arah dan tujuan, yang pada akhirnya membuat mereka merasa terputus dari makna kehidupan itu sendiri,” ujar Setiyo, Selasa (31/3).
Ia menyoroti bahwa depresi menjadi persoalan kesehatan mental global yang serius, terutama di kalangan dewasa muda. Kondisi ini kerap ditandai dengan tingginya ruminasi atau pikiran berulang berlebihan, serta perasaan terasing dari diri sendiri maupun lingkungan.
Menurut Setiyo, berbagai pendekatan berbasis bukti seperti Behavioral Activation dan mindfulness telah terbukti efektif secara klinis. Namun, ia menilai masih ada keterbatasan, terutama karena pendekatan tersebut belum sepenuhnya mengintegrasikan dimensi spiritual.
“Salah satu yang utama adalah kurangnya integrasi aspek spiritual dalam pendekatan tersebut,” tegasnya.
Ia menambahkan, banyak model psikologis modern cenderung bersifat sekuler dan membangun makna secara mandiri tanpa melibatkan dimensi ketuhanan. Padahal, bagi individu Muslim, iman merupakan pusat kehidupan.
IMM Tawarkan Kesadaran Berbasis Ketuhanan
Sebagai respons atas kebutuhan itu, Setiyo menawarkan Islamic Mindfulness Model (IMM), yakni pendekatan yang mengintegrasikan kesadaran psikologis dengan nilai-nilai keimanan.
Dalam model ini, kesadaran tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan diarahkan kepada Allah. Dengan begitu, pengalaman hidup dimaknai melalui perspektif spiritual.
Setiyo menjelaskan, IMM dibangun atas tiga pilar utama, yakni teori kognitif-perilaku, pembentukan makna, dan coping religius. Dari tiga pilar itu lahir tiga lapisan intervensi, yaitu regulasi perhatian, rekonstruksi makna, dan aktivasi berbasis nilai yang berorientasi pada amanah sebagai tanggung jawab spiritual.
BA-M Disesuaikan dengan Konteks Muslim Indonesia
Sementara itu, Lusi Nuryanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., bersama Bayu Suseno, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memaparkan pengembangan Behavioral Activation for Muslim (BA-M) sebagai bentuk adaptasi budaya yang relevan dengan konteks Indonesia.
Lusi mengatakan pendekatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat Muslim yang memiliki tingkat religiusitas tinggi.
“Tingginya angka depresi di Indonesia, khususnya di kalangan usia muda, menjadi latar belakang penting pengembangan BA-M,” tegas Lusi.
Ia juga menyoroti rendahnya angka pencarian bantuan profesional. Karena itu, menurutnya, dibutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual dan mudah diterima masyarakat.
Dalam praktiknya, BA-M membantu individu kembali terlibat dalam aktivitas bermakna yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Proses terapi dimulai dari asesmen kondisi psikologis, eksplorasi pengalaman hidup, hingga penyusunan aktivitas berbasis nilai yang dilakukan secara bertahap dan terukur.
Bayu Suseno menambahkan, hasil implementasi BA-M menunjukkan penurunan gejala depresi dan kecemasan, sekaligus peningkatan aktivitas klien.
“Pendekatan ini juga dilengkapi dengan modul terapi mandiri dan manual praktis yang dapat digunakan oleh berbagai kalangan profesional,” ungkapnya.
Melalui pengenalan BA-M dan IMM, UMS menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pendekatan kesehatan mental yang tidak hanya berbasis ilmu psikologi, tetapi juga selaras dengan nilai spiritual dan kebutuhan masyarakat Muslim.
Kontributor: Yusuf
Editor: Al-Afasy
The post UMS Kenalkan BA-M dan Islamic Mindfulness Model untuk Penanganan Depresi appeared first on Muhammadiyah Jateng.




