PWMJATENG.COM, JEPARA — Sosok Hj. Lantrifah Omar mencatatkan sejarah sebagai Ketua PRA Dorang pertama di Nalumsari, Jepara, melalui dedikasi tinggi yang melampaui latar belakang pendidikannya yang hanya menempuh Sekolah Rakyat hingga kelas 3.
Meskipun akses sekolah sangat terbatas di masa awal kemerdekaan, Hj. Lantrifah Omar berhasil mendobrak tembok domestik. Ia dipercaya memimpin Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Dorang yang pertama. Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru bagi pergerakan perempuan di wilayah tersebut. Kapasitas pengabdiannya membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan desa tidak selalu bergantung pada panjangnya masa sekolah.
“Kapasitas pengabdian tidak selalu ditentukan oleh panjangnya sekolah, tetapi oleh kedalaman nilai, pengalaman hidup, dan kesediaan berjuang,” ujar Taufiq Nugroho, Ketua PRM Dorang sekaligus penulis biografi beliau. Lantrifah menunjukkan bahwa kualitas kepemimpinan tumbuh dari keteguhan watak dan daya tahan hidup di tengah kesederhanaan.
Daya Adaptasi dan Ketahanan Keluarga
Peran Lantrifah tidak hanya terbatas pada panggung organisasi semata. Ia menjalankan berbagai peran ekonomi untuk menopang kehidupan keluarga besarnya. Mulai dari menjadi pedagang beras hingga turun langsung ke sawah sebagai petani. Hal ini ia lakukan sembari tetap aktif menjalankan roda organisasi ‘Aisyiyah dengan penuh dedikasi.
Keaktifannya di ranah publik tidak melunturkan identitas keislaman dan komitmen dakwahnya. Ia bahkan mampu bergerak luwes di berbagai lingkungan sosial, termasuk saat mengikuti kegiatan Dharma Wanita. Pengalaman hidup yang kaya inilah yang kemudian membentuk karakter kepemimpinan perempuan desa yang sangat membumi dan disegani oleh masyarakat sekitar.
Warisan Kaderisasi Lintas Generasi
Sebagai pemimpin, Hj. Lantrifah Omar memiliki prinsip organisasi yang sangat dewasa dan relevan hingga kini. Ia menekankan pentingnya menjadi anggota atau pemimpin terbaik dalam situasi apa pun. “Jika dipilih, jadilah yang terbaik; jika tidak dipilih jadilah anggota yang terbaik,” pesan Hj. Lantrifah Omar semasa hidupnya.
Kini, buah dari perjuangan tersebut terlihat dari keberhasilan ekosistem kaderisasi dalam keluarganya sendiri. Anak-anak, menantu, hingga cucu-cucunya kini aktif meneruskan estafet dakwah di berbagai level organisasi Muhammadiyah. Warisan nilai ini menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan perempuan desa mampu memberikan dampak jangka panjang bagi peradaban umat.
Hj. Lantrifah Omar wafat pada Rabu (18/3/2026) dalam usia 83 tahun. Ia meninggalkan teladan bahwa perjuangan tidak harus menunggu mapan atau sempurna, melainkan dimulai dari keikhlasan di tingkat akar rumput.
Kontributor: Taufiq Nugroho
Editor: Al-Afasy
The post Kepemimpinan Perempuan Desa: Kisah Hj. Lantrifah Omar Menembus Keterbatasan Pendidikan appeared first on Muhammadiyah Jateng.









